One Hundret and Six

1.1K 88 13
                                        

Ga mau tahu, pokoknya vote dulu baru lanjut baca hahaha
.
.
Cerita ini hanyalah fiktif belaka
Tidak ada sangkut pautnya dengan dunia nyata
.
.
.

Dua orang perawat lelaki dibantu beberapa polisi mendorong brankas rumah sakit segera masuk ke dalam IGD, keadaan pasien ini sangat kritis. Darahnya bahkan sudah menetes di lantai rumah sakit.

"Komandan! Komandan! Komandan ga boleh kenapa-kenapa! Dokter Joanna bakalan marah kalau tahu komandan ingkar janji sama dia!" Teriak salah seorang polisi dengan nama "Weni" di nametagnya bahkan lelaki ini sudah tidak malu dilihat oleh beberapa orang saat dia menangis.

"Mohon kalian semua tunggu disini, dokter akan memeriksa teman kalian." Pintah seorang perawat menahan para polisi yang ikut mengantar sampai ke IGD.

"Kami minta tolong selamatkan komandan kami sus."

"Kami akan berusaha."

###

Joanna mulai tertidur setelah Welsy memberikannya obat penenang. Ya, keadaan Joanna memburuk setelah mendapatkan kabar dari salah satu rekan Gomgom yang memberikan informasi bahwa mereka pun belum mendapatkan informasi terkait keberadaan Gomgom.

Untung saja saat itu Eunice dan Endang segera membawa dia ke rumah sakit, sedangkan Deon akan segera berangkat ke Sumatera untuk mengecek keadaan Gomgom. Apalagi mereka sudah diberi info bahwa keberadaan Gomgom dan tim sudah diketahui dengan keadaan Gomgom yang terkena luka tembak dan hingga saat ini belum diketahui pasti keadaannya.

"Maaf ya bu, karena Theo Joanna jadi seperti ini." Endang mencoba menenangkan Eunice yang sejak tadi tak bisa menahan tangisannya.

Eunice memeluk Endang, "ga Bu, saya bukan nangisin keadaan Joanna saja, saya juga pikirin keadaan Theo sekarang. Semoga dia baik-baik saja bu." Ucap Eunice membuat Endang juga ikut menangis, sejak tadi dia menahan tangisannya karena memikirkan Eunice meskipun perasaan khawatir pada anak pertamanya tidak bisa dipungkiri.

Ceklek

"Mamaen! Manice!" Seru Maria menghamburkan pelukannya pada kedua wanita itu. Sejak Joanna menjadi iparnya, dia juga diminta memanggil Eunice dengan sebutan "Mama" membuat dia mengikuti panggilan Joanna dengan alasan yang sama pula.

Maria segera menghapus air mata keduanya lalu segera mengambil dua air mineral dan diberikan kepada Eunice dan Endang. "Mama ga boleh banyak mikir, kakak dan abang pasti baik-baik aja. Kita harus doain mereka berdua, juga Dede," Maria mencoba menenangkan keduanya.

"Papa juga bentar lagi bakalan tiba disana, bentar lagi dia pasti bakalan hubungin Maria."

Drrrttt

"Maria angkat telpon dari temen Maria dulu." Dia segera keluar dari ruangan itu sebelum mengangkat panggilan itu.

"Halo Dewi, gimana keadaan abang gue?" Ya itu adalah panggilan dari salah seorang teman Maria yang menjadi dokter di rumah sakit tempat Gomgom sekarang berada.

"Sorry Mar, keadaan abang lo kritis. Dokter Imran bentar lagi bakal lakuin operasi darurat karena peluru nembus bagian vitalnya bang Gomgom." Maria terdiam mendengar penjelasan Dewi.

"Mar? Lo masih dengerin gue?"

"Halo Dewi, masih kok. Makasih yah, gue minta tolong infoin gue mengenai kondisi abang."

"Iya, lo yang tabah yah, abang lo pasti selamat kok."

"Hmm, tolong doain yah Dewi."

"Gimana gue mau bilang ini sama mama? Mereka berdua pasti tambah khawatir, apalagi keadaan kak Joanna kayak sekarang." Gumam Maria setelah panggilan itu terputus.

Tidak Bisa LariCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang