Eighty Two

1.2K 83 6
                                        

Cerita ini hanyalah fiktif belaka
Tidak ada sangkut pautnya dengan dunia nyata
.
.
.

Hiks hiks hiks

Tangisan kecil Joanna membuat Gomgom yang sedang duduk membaca di sisi wanita itu segera menyimpan buku itu di nakas rumah sakit lalu segera menyapukan pelan tangannya di pipi Joanna.

"Sayang? Kamu kenapa?" Tanyanya pelan.

Plug

Joanna segera memeluk tubuh Gomgom yang masih dengan posisi duduk itu.

Gomgom membalas pelukan itu sambil menepuk pelan belakang Joanna, dia masih tak mengerti dengan keadaan ini tapi yang pasti dia harus menenangkan wanitanya.

Setelah Gomgom membalas pelukan itu, bukannya tenang, Joanna malah makin menangis tersedu-sedu membuat lelaki itu tak tahu harus berbuat apa kali ini.

"Sayang, tenang yah. Aku ada disini, kamu bisa cerita apa yang buat kamu nangis kayak gini." Gomgom masih tetap berusaha.

"Kamu hiks." Jawab Joanna pelan sambil tetap menangis.

"Ah? Aku? Aku ngapain kamu sayang?"

"Kamu bakalan pergi kan minggu depan?" Pertanyaan Joanna membuat Gomgom tak dapat menjawabnya.

Joanna mendudukan dirinya menatap Gomgom yang hanya terdiam.

"Ga perlu cari alasan sayang. Aku paham kok ini udah tugas kamu. Tapi maaf aku masih belum bisa ga nangis pas tahu kamu mau pergi hiks."

Gomgom mengampus air mata Joanna dengan ibu jarinya.

"Maaf ya sayang, aku ga bilang sama kamu dari awal. Padahal aku tahu kamu harus tahu soal ini." Ujar Gomgom merasa bersalah, lagi dan lagi dia membuat wanitanya menangis.

Joanna kembali memeluk Gomgom.

"Kamu ga salah sayang, aku aja yang cengeng."

"Oh iya, maaf ya aku tahunya pas aku nyimpen handphone kamu, dan komandan ngirim pesan ke kamu. Maaf aku lancang ga izin sama kamu." Lanjut Joanna yang kini menyisakan sesegukannya tanpa mengeluarkan air mata lagi.

Ya, siang tadi saat handphone lelaki itu masih ada dalam genggamannya, sebuah notifikasi chat dari komandan yang memberitahu bahwa minggu depan Gomgom akan bertugas di perbatasan menyelesaikan misi mereka.

"Ga apa-apa sayang." Ucap Gomgom lalu membawa Joanna dalam pelukannya.

Cup

Gomgom mengecup puncak kepala Joanna yang belum sepenuhnya tenang itu.

"Kamu harus baik-baik ya disana, jaga diri kamu hiks." Joanna mengeratkan pelukannya, kembali menangis.

Terlalu cengeng memang, tapi ini sudah menjadi kodrat wanita bukan?

"Iya sayang, aku bakalan jaga diri baik-baik. Kamu juga yah? Aku bakalan nyuruh temen-temen aku jagain kamu selama aku pergi."

"Dan aku bakalan nitipin kamu ke Tuhan. Soalnya aku ga punya anak buah kayak kamu." Ujar Joanna yang tentunya membuat Gomgom kini tersenyum dengan mata yang sudah berkaca-kaca.

"Sayang, janji ya kamu bakalan balik?" Tanya Joanna.

"Aku ga bisa janji sayang, tapi aku bakalan usahain. Pasti. Kan dikit lagi aku bakalan lamar kamu, ya kan?"

"Hmm, yang lamar aku harus kamu yah."

"Siap sayang!" Seru Gomgom, sedikit membuat perasaan wanita ini menjadi legah.

Tidak Bisa LariTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang