Cerita ini hanyalah fiktif belaka
Tidak ada sangkut pautnya dengan dunia nyata
.
.
.
Dion dan Bima segera duduk di sofa setelah Joanna membukakan mereka pintu ruangan itu.
Sudah 4 hari Gomgom dirawat secara intensif. Meskipun lukanya tidak terlalu serius, tetapi seminggu hidup di hutan lepas pasti memiliki pengaruh terhadap tubuhnya.
"Kalian berdua mau jengukin gue apa mau jalan doang? Kok langsung duduk disitu, ga kesini dulu?" Tanya Gomgom sedikit berteriak karena sofa yang terletak 1 meter dari ranjang yang ditempatinya.
"Yaudah, lo yang kesini." Canda Bima.
"Guekan lagi sakit bang, lemah lesuh lunglai. Untung aja ada pacar gue yang selalu nemenin, ya ga sayang?" Gomgom menoel lengan Joanna yang sedang mengecek infusnya sekarang.
"Elele, kemarin aja lo bisa tuh bertahan di hutan seminggu penuh. Masak jalan kesini aja udah ga sanggup?" Timpal Dion.
"Iya deh iya. Sayang aku boleh duduk di sofa aja?" Tanya Gomgom pada Joanna yang masih disampingnya.
"Hmm, aku bantuin kamu kesana." Jawab Joanna lalu membantu Gomgom turun dari ranjang sambil membawa infusan lelaki itu.
"Kalian cuma berdua?" Tanya Gomgom saat sudah berhasil duduk di sofa itu.
Setelah Gomgom ditemukan, memang belum ada yang menceritakan apa saja yang terjadi saat kasus itu dituntaskan, termasuk kematian Tino.
Bukan tanpa sebab, tapi keadaan Gomgom juga tidak bisa dibilang baik-baik saja.
Dan hari ini, Dion dan Bima berencana untuk menjelaskan semuanya karena keadaan Gomgom yang mulai membaik.
Tak ada jawaban untuk pertanyaan lelaki itu, tiga orang yang menemaninya hanya bisa terdiam dengan ekspresi yang membuat Gomgom bingung.
"Oh, si Tino lagi di ruangan Tania yah? Kan Tania harus dirawat kan sejak seminggu lalu? Dia nyeritain ke gue sebelum turun lapangan kemarin." Ujar Gomgom lagi, namun tetap tak ada tanggapan.
"Yaudah, kalau kalian ga enak manggil dia kesini, biar gue yang hubungin dia langsung." Ujar Gomgom seraya mengambil ponselnya yang terletak di atas meja, di depannya.
"Sayang!" Seru Joanna menahan tangan Gomgom.
"Kenapa sayang?" Tanya Gomgom pada Joanna.
"Dia ga bisa ngangkat telpon lo Gom." Gumam Dion, dari suaranya terdengar dia sedih(?).
"Maksud lo, On?"
"Tino udah pergi Gom, dia udah laksanain tugas dengan baik. Jadi Tuhan milih dia buat istirahat sekarang." Ucapan Bima yang tak secara gamblang membuat Gomgom menatap lelaki itu penuh tanya.
Joanna menggenggam tangan lelaki itu erat.
"Maksudnya bang? Gue ga paham."
"Tino gugur Gom." Ucapan Bima diiringi tangisan darinya dan Dion, Joanna pun tak sanggup menahan kesedihannya.
Sementara Gomgom, lelaki itu hanya bisa terdiam tak bergeming sama sekali. Pikirannya melayang, tak bisa memproses semua perkataan Bima barusan.
"Sayang? Kamu ga apa-apa?" Bisik Joanna.
Gomgom menggeleng singkat, lalu tersenyum pada Joanna. Tak lupa dia membersihkan air matanya yang ternyata tak terbendung itu.
"Sayang, bisa bantuin aku ke ranjang? Aku mau istirahat." Ucap Gomgom pelan, yang segera dituruti oleh Joanna.
KAMU SEDANG MEMBACA
Tidak Bisa Lari
RomanceSeorang abdi negara kebanyakan akan memilih pasangan yang berprofesi di bidang kesehatan, begitupun sebaliknya. Tapi berbeda dengan Iptu Theodore Gomgom Octofarrel, lelaki 28 tahun yang sebentar lagi pangkatnya akan naik ini sejak dulu tidak pernah...
