Cerita ini hanyalah fiktif belaka
Tidak ada sangkut pautnya dengan dunia nyata
.
.
.
Joanna mulai memasukkan beberapa bahan makanan ke dalam panci dengan air mendidih di hadapannya itu.
"Jo! Daun bawangnya tunggu dulu, masukinnya pas akhir." Perintah Khalifah melalui sambungan video call yang mereka lakukan.
Yap, demi Fabiola yang belum makan berat seharian ini, membuat Joanna melobi wanita itu agar tetap makan makanan yang dia akan masak dengan resep Khalifah tentunya.
Dan setelah menceritakan tentang istrinya yang tidak enak badan dan hanya ingin makan masakannya, mambuat Khalifah hanya bisa berharap pada Joanna sambil memantaunya lewat sambungan telepon video.
"Jadi yang di masukin kentang dan wortelnya aja?" Tanya Joanna memastikan.
"Iya, masukin itu dulu biar mateng bareng ayamnya. Terus apinya kecilin dikit, biar matengnya merata."
"Oke oke." Jawab Joanna lalu menurunkan api kompor itu.
"Terus istri gue mana? Kok di dapur cuma lo doang?"
"Lagi di dalem kamar, lagi..."
"Halo sayang!" Ucapan Joanna terhenti saat Fabiola sudah berada di sisinya sambil melambaikan tangan ke dalam layar ponselnya.
"Hai sayang! Gimana? Kamu udah baikan? Atau kamu perlu ke rumah sakit? Biar Joanna anterin kamu dulu yah?" Tanya Khalifah bertubi-tubi.
"Hmm, ga apa-apa kok. Demam doang ini mah, tadi Joanna udah ngasih obatnya kok."
"Kalau gitu kamu istirahat aja dulu, jangan banyak kegiatan. Rumah biar bi Rini yang aku minta kesitu beresin semuanya."Bi Rini adalah salah satu pembantu di rumah orang tua Khalifah. Sejak kepindahan, mereka belum sempat memilih art yang akan mereka. gunakan
"Siap sayang. Yaudah, nih Jo lanjutin masakan lo bareng suami gue. Inget harus persis ya rasanya." Ucap Joanna lalu kembali meninggalkan Joanna, me.buat gadis itu hanya bisa mengeluarkan mata tajamnya.
###
"Gimana?" Tanya Joanna setelah Fabiola mencoba yang hasil masakannya kali ini.
"Enak banget Jo! Sok atuh di coba neng." Ujar Fabiola lalu menggeser mangkok berisi sop ayam itu kepada Joanna.
"Pueh!" Seru Joanna saat mencicipi masakannya sendiri. Bagaimana mungkin Fabiola mengatakan makanan ini enak, padahal rasanya seperti memakan satu sendok garam dalam sekali suapan.
"Lo kenapa Dor?"
"Lo bilang enak? Ini asin banget Bi!" Ujar Joanna setelah melepa makanannya.
"Ih! Ga kok. Ini enak gue suka, sini biar gue makan. Laper banget." Ujar Fabiola lalu menarik kembali mangkok itu dan kembali memakan sopnya.
Joanna hanya bisa mengerutkan jidatnya melihat kelakuan Fabiola ini.
###
Malam ini setelah mandi, Fabiola duduk di meja riasnya dan mulai memakai beberapa skincarenya. Belakangan ini dia memang mulai rajin menggunakan barang-barang yang selama ini jarang disentuh olehnya.
"Dor, udah balik sana. Gue udah baikan kok." Ujarnya menatap Joanna dari cermin di hadapannya itu, namun tak digubris sama sekali oleh wanita yang sedang fokus menatap ponselnya.
Fabiola membuang napasnya lalu menyelesaikan ritual perskincareannya sebelum akhirnya berjalan menuju Joanna.
"Hei! Anak gadis ga boleh sering menghayal!" Seru Fabiola menyadarkan Joanna yang sejak tadi matanya tak telepas dari ponsel.
KAMU SEDANG MEMBACA
Tidak Bisa Lari
RomanceSeorang abdi negara kebanyakan akan memilih pasangan yang berprofesi di bidang kesehatan, begitupun sebaliknya. Tapi berbeda dengan Iptu Theodore Gomgom Octofarrel, lelaki 28 tahun yang sebentar lagi pangkatnya akan naik ini sejak dulu tidak pernah...
