Eighty Three

1.2K 85 16
                                        

Cerita ini hanyalah fiktif belaka
Tidak ada sangkut pautnya dengan dunia nyata
.
.
.

"Aku harus pergi hari ini."

Pesan teks yang baru saja Gomgom kirimkan untuknya membuat Joanna segera berlari ke parkiran rumah sakit setelah menghubungi si pengirim pesan itu.

Joanna segera berlari ke arah Gomgom yang menunggunya datang sebelum masuk ke dalam mobil yang sudah diperintahkan untuk menjemputnya yang kemudian akan membawanya langsung ke markas mereka.

Rencana penugasan yang harusnya minggu depan kini dipercepat karena Firno, otak utama untuk kasus ini yang berhasil melarikan diri tadi pagi. Membuat semua pasukan yang menangani kasus itu harus segerea bergegas menjalankan tugas mereka, termasuk Gomgom.

Plug

Joanna melepaskan pelukannya ke dada bidang Gomgom yang saat ini sudah menggunakan kemeja rapi sebelum nantinya menggunakan seragamnya.

"Kamu harus jaga diri yah. Kamu ga boleh kenapa-kenapa." Ujar Joanna menahan air matanya.

"Kamu juga ya sayang. Jaga diri kamh baik-baik. Tunggu aku kembali." Balas Gomgom sambil mengelus puncak kepala Joanna.

"Kamu harus balik kayak gini yah, jangan kenapa-kenapa." Joanna mengeratkan pelukannya.

"Aku bakalan usahain itu. Kamu jangan nangis." Gomgom mengangkat dagu Joanna agar mereka dapat bertatapan. Mata cantik gadis itu sudah mengeluarkan banyak air mata, berhasil membuat kemaja Gomgom basah sekarang.

"Tapi aku takut..."

"Sssttt. Kamu udah minta Tuhan jagain aku kan? Kamu harus percaya kalau dia bakalan jagain aku dan kamu ga perlu takut." Gomgom mengangkat telunjuknya di depan bibir Joanna.

Gomgom membuat Joanna percaya dia akan baik-baik saja, sementara dirinya sendiri pun tak bisa menyakini hal itu. Bohong jika tidak ada perasaan khawatir dalam dirinya, kasus ini begitu besar, para seniornya pun banyak yang sudah gugur karena kasus ini, dan kali ini dia harus memimpin pasukan menyelesaikan misi tersebut.

Tak terbendung, perlahan air mata Gomgom akhirnya ikut turun melihat wanitanya yang sejak tadi menangis.

Meskipun mereka sudah beberapa kali berpisah, tapi kenyataannya mereka selalu ingin bersama, dan jelas hal itu tak bisa dia lakukan sebagai abdi negara yang harus berbakti kepada bumi pertiwi.

"Kok sayangku ikutan nangis?" Tanya Joanna sambil mendongak, mengahapus air mata Gomgom.

"Aku sayang kamu, sampai kapan pun aku selalu sayang kamu. Kamu harus ingat itu." Ujar Gomgom menatap senduh Joanna.

"Aku juga begitu sayang. Kamu lelaki kedua yang paling aku cintai. Jaga diri baik-baik, aku selalu nunggu kamu sampai kapan pun. Inget aku selalu ada disini." Balas Joanna sambil meletakkan telapak tangannya di dada kiri Gomgom.

"Aku pergi dulu. Aku selalu dan selalu sayang kamu." Ucap Gomgom lalu mencium kening Joanna, tak lupa memberikan sebuah kecupan singkat di bibir gadis itu dan segera menaiki mobil.

Joanna hanya bisa menatap mobil itu pergi meninggalkan parkiran rumah sakit, air matanya kembali berderai.

Selama ini, Gomgom selalu menyembunyikan misi yang akan dia lakukan, membuat Joanna tak mengetahui juga tak memikirkan banyak hal soal itu.

Tapi kali ini, lelaki itu sudah terbuka dengannya, tentang apa yang kemungkinan menjadi akibat yang akan dia tanggung di dalam kasus ini. Malam itu Gomgom sudah memberitahukan semuanya kepadanya.

Tidak Bisa LariTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang