Eighty Nine

972 95 20
                                        

Cerita ini hanyalah fiktif belaka
Tidak ada sangkut pautnya dengan dunia nyata
.
.
.

Gomgom menatap pintu yang masih tertutup itu, sudah 5 menit dia hanya bisa berdiri tanpa mengetok bahkan masuk ke dalam ruang rawat Tania.

Gomgom menghembuskan nafas beratnya sebelum akhirnya mulai membuka pintu itu secara perlahan.

"Hai Tan!" Sapa Gomgom canggung setelah masuk dan menutup pintu ruangan itu.

"Eh Gomgom! Udah balik tugas yah?" Seru Tania yang saat ini sedang menggambar di atas ipadnya.

"Hmm, gimana keadaan lo?"

"Udah baikan kok. Eh iya, lo balik tugasnya sendiri? Tino belum selesai yah?" Tanya Tania, yang belum mengetahui apapun.

Gomgom mendekati Tania lalu memberikan sebuah amplod berwarna pink pada wanita itu.

"Ini dari Tino. Lo bisa baca." Ujarnya lalu segera duduk di sofa yang berjarak 2 meter dari ranjang Tania.

"Buat: Tania Bidadarinya Tino.

Sebelum baca suratnya, harus senyum dulu yah. Wajib pokoknya!

Hai Tan! Gimana keadaannya sekarang?

Maaf ya aku ga bisa nemenin selama kamu di rumah sakit, dan kalau kamu baca surat ini berarti aku udah ada dekat banget sama kamu.

Tahu ga, sampai akhir hidup aku, hal yang paling buat aku nyesel adalah ga cepet nyariin kamu semenjak kita pisah. Padahal dari awal ketemu, aku udah suka sama kamu. Klise ga sih? Tapi aku serius.

Bahkan sampai akhir, aku juga ga bisa bilang sama kamu secara langsung kalau aku sayang sama kamu. Aku mau jagain kamu Tan, tapi Tuhan maunya aku jaga kamu dengan cara lain. Aku udah jaga kamu lewat jantung kamu sekarang, bahkan kita udah sedekat itu yah Tan, ga bakal kepisah lagi.

Sebelum aku pergi, aku udah siapin semua buat kamu. Mama Papa akan angkat kamu sebagai anak, biar kak Tini ga sendirian. Kamu juga jadi punya keluarga, dari dulu kamu ini keinginan kamu.

Meskipun aku juga mau jadi bagian dari keluarga kamu, tapi aku selalu bahagia untuk kamu.

Jangab sedih yah, aku ga mau ditangisin. Pokoknya harus senyum!

Terima kasih buat semuanya Tania!
Aku sayang banget sama kamu.

Dari: Tino Pangeran Tania."

Tania menangis sejadi-jadinya setelah membaca surat itu, meskipun Tino sudah memesan agar dia tak menangis, nyatanya dia tak bisa membendungnya.

Gomgom yang melihat keadaan Tania segera menghampirinya lalu membawa gadis itu dalam pelukannya.

"Gom! Tino udah ga ada!" Teriak Tania.

"Maafin gue ga bisa jagain Tino, Tan!" Ucap Gomgom yang juga menangis.

Mereka berdua menangis kehilangan. Tak ada pembicaraan apapun, hanya tangisan untuk meluapkan kesedihan mereka sekarang.

Gomgom yang kehilangan salah satu sahabatnya, yang juga membuat dia menyesal karena tak dapat menyelamatkan Tino.

Dan Tania, gadis yang selama ini Tino cintai yang harus kehilangan Tino, lelaki yang menjadi penyemangat hidupnya. Bahkan di dalam tubuhnya sekarang, ada jantung lelaki itu.

"Gue bakalan tanggung jawab Tan. Gue bakalan gantiin Tino buat lo, gue tahu gimana sayangnya Tino sama lo. Ga bakalan sama, tapi gue bakalan usahain." Ucap Gomgom pelan, menurutnya ini adalah salah satu cara tanggung jawab yang tepat.

Tidak Bisa LariTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang