Eighty Seven

1K 75 3
                                        

Cerita ini hanyalah fiktif belaka
Tidak ada sangkut pautnya dengan dunia nyata
.
.
.

Dua orang dihadapan Joanna mengerutkan keningnya mendengar ucapan Joanna barusan.

"Tante, kita panggil dokter Yuda aja. Udah ga bener ini. Masak aku dipanggil 'papa' sama dia." Ucap seseorang di samping kanan Joanna.

Eunice yang sudah jelas paham dengan anaknya hanya menganggukkan kepalanya dengan senyuman.

"Aku aja yang manggil dokter ya tan." Orang itu bergegas membalikkan tubuhnya tapi segera ditahan oleh Joanna.

"Aku mau papa disini aja." Ujarnya.

"Biar tante aja yang pergi." Eunice segera berdiri dan keluar dari ruangan itu.

"Sayang, aku bukan papa kamu." Tak salah lagi, orang itu ada Theodore Gomgom, yang saat ini menampilkan wajah khawatir karena Joanna yang menganggapnya sebagai papanya.

"Auhh!" Ringis Gomgom ketika Joanna mencubit lengan lelaki itu.

"Aku ga mimpi?" Tanya Joanna.

"Ga sayang, kamu ga mimpi. Harusnya kamu nyubit diri sendiri, kok jadi aku sih?"

"Oh iya." Ujar Joanna lalu mengambil ancang untuk mencubit dirinya namun segera ditahan oleh Gomgom.

"Ga perlu sayang, ini aku. Kamu ga mimpi. Tapi kamu inget kan aku pacar kamu, bukan papa kamu?"

"Hmm, aku tahu. Aku cuma bercanda tadi, biar kalau emang cuma halusinasi, kamu biar langsung ilang aja daripada dateng cuma bayangan aja." Jelas Joanna yang membuat Gomgom mencubit pipinya gemas.

"Sayang boleh duduk disini?" Ujar Joanna menepuk sisi kosong di ranjang itu, dan segera diikuti oleh Gomgom.

Plug

Joanna menghamburkan pelukannya dan seketika itu juga tangisannya pecah.

"Aku kangen kamu sayang. Hiks. Kenapa kamu lama banget perginya."

Gomgom membalas pelukan Joanna. Lelaki itu juga sangat merindukannya, namun dia tak menyangka wanitanya ini jatuh sakit karena dia.

Perjuangannya seorang diri di hutan itu hingga dapat ditemukan, tidak sia-sia. Pada akhirnya dia dapat berkumpul kembali dengan keluarganya dan pastinya Joanna yang sudah berada dalam pelukannya.

Tak sadar, air mata Gomgom juga ikut turun. Mereka berdua menangis dalam pelukan, seperti malam sebelum kepergian Gomgom.

"Aku kira, aku tetap bisa lakuin semuanya meskipun ga ada kamu, ternyata aku salah. Aku ga bisa apapun tanpa kamu. Sejak kamu masuk duniaku, kamu jadi bagian di dalamnya yang ngasih pengaruh besar buat aku. Hiks." Joanna terus mengeluarkan isi hatinya. Begitu banyak hal yang ingin disampaikan kepada Gomgom karena kehilangan lelaki itu dalam beberapa saat.

"Maafin aku sayang, sampai buat kamu jadi gini. Maaf karena aku terlambat kembali, maaf karena biarin kamu jalanin semuanya sendiri, maaf..."

Cup

Ucapan Gomgom terhenti karena kecupan singkat dari Joanna.

"Kamu ga salah sayang. Ga sama sekali. Aku bersyukur banget kamu udah ada disini sekarang bareng aku." Joanna menatap mata Gomgom yang masih mengeluarkan bulir air mata.

Gomgom membalas tatapan Joanna. "Aku bersyukur udah nemuin kamu di hidup aku. Makasih sayang untuk semuanya sampai hari ini." Ujarnya pelan lalu kembali memeluk Joanna.

"Ehm ehm, maaf nih gue ganggu waktu romantisan kalian berdua." Ucapan Yuda menyadarkan keduanya, membuat pelukan itu melonggar.

"Kak, gue ga halu lagi kok. Ini beneran Gomgom kan? Lo ga perlu ngasih gue obat penenang lagi, soalnya udah ada obatnya disini." Ujar Joanna segera.

Tidak Bisa LariTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang