One Hundred

1.1K 97 10
                                        

Sebelum lanjuttt, jangan lupa kasih bintang untuk part ini yahh
.
.
Cerita ini hanyalah fiktif belaka
Tidak ada sangkut pautnya dengan dunia nyata
.
.
.

Joanna hanya menatap lelaki di depannya, begitu pun dengan lelaki itu. Mereka fokus pada pikiran mereka masing-masing.

Riki Septian. Sebuah nama yang mungkin tidak akan dilupakan oleh Joanna. Lelaki itu adalah satu-satunya yang bisa dikatakan sebagai 'teman seperjuangan' Joanna mencapai gelar sarjana beberapa tahun lalu. Ya, meskipun pertemanan mereka hanya berlangsung dua tahun saja, bahkan kurang.

"Hai Jo! Apa kabar?" Riki memecah keheningan ini.

"Eh, kabar baik Ki! Lo sendiri gimana? Kapan balik dari Paris?"

"Baik Jo. Gue baru tiba di Indonesia kemarin. Ga nyangka gue bisa ketemu sama lo setelah hampir 6 tahun kita ga ketemu."

"6 tahun karena lo berusaha ngindarin gue kan setelah kejadian itu, harusnya cuma 4 tahun kalau ga ada kejadian itu. Hahaha." Joanna sepertinya sudah berdamai dengan keadaaan, buktinya dia sudah bisa tertawa mengingat kejadian itu.

Lain halnya dengan Riki yang mendengar ucapan Joanna barusan, wanita di hadapannya ini bahkan tak menyimpan dendam sama sekali padanya. Riki hanya bisa tersenyum malu.

"Dari sini gue anterin pulang yah? Kalau mau ngopi dulu juga boleh. Biar gue bisa jelasin kejadian waktu itu sama lo."

"Ga usah Ki. Lagian kejadiannya sudah lama kok, ga dendam gue mah. Udah berlalu juga kan?"

"Tapi gue masih ga enak sama lo."

"Enakin aja, santai santai. Kayak sama siapa aja."

"Jadi kita udah baikan nih sekarang?"

"Dari dulu yang anggap kita musuhan siapa sih?"

"Hmm, berarti gue bisa dong ya deketin lo lagi?"

"Deketin dalam arti apa dulu nih? Hahaha. Soalnya..." Joanna mengangkat tangan kanannya memperlihatkan cincin yang belum cukup satu bulan bertengger di jari manisnya.

"WHAT?! Lo udah nikah? Ah itu bukan cincin nikah kan?"

"Lo ga sadar umur apa gimana? Kita udah masuk usia yang pas buat nikah, yakali gue make cincin disini kalau bukan cincin nikah."

"Tapi ga ada yang ngasi tahu gue Jo."

"Selama kuliahkan temen gue cuma lo, dan setelah lo ga mau temenan sama gue, gue ga punya temen lain. Jadi gue cuma ngasi tahu di grub angkatan, tapi mungkin lo ga lihat. Mereka juga ga ada yang datang kok." Jawab Joanna tertawa getir, dia sebetulnya tak ingin mengingat bagaimana masa itu lagi.

Riki kembali terdiam, akibat dari perbuatannya waktu itu ternyata berdampak hingga sekarang.

"Sayang?" Untung saja Gomgom datang sebelum air mata Joanna berhasil turun.

"Ki, kenalin suami gue." Joanna segera memperkenalkan Gomgom.

"Gomgom." Gomgom mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Riki.

"Riki." Dengan berat hati, lelaki itu membalas uluran tangan Gomgom.

"Yaudah Ki. Kita duluan yah." Joanna segera menarik tangan Gomgom lalu segera pergi, tentunya dengan membawa troli mereka.

###

Gomgom menatap Joanna sebelum menyalakan mesin mobil, ada yang berbeda dengan wanitanya itu sejak pertemuan dengan Riki.

Tidak Bisa LariTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang