Cerita ini hanyalah fiktif belaka
Tidak ada sangkut pautnya dengan dunia nyata
.
.
.
Endang berjalan ke arah ICU dimana Joanna dirawat sekarang, di depan ruangan itu sudah ada beberapa orang yang duduk dengan muka sedih.
Wanita itu segera menghampiri Karin yang saat ini duduk di sisi Riana.
"Karin, Joanna ga apa-apakan?" Tanyanya.
Karin dengan mata sembabnya menatap Endang dengan mata masih berkaca-kaca.
"Joanna tante."
"Ada apa dengan Joanna?"
"Joanna kritis tante. Tante Eunice udah disuruh masuk sama dokter." Lanjut Karin yang kembali menangis.
"Karin!"
"Teguh!" Karin segera memeluk Teguh yang menghampiri mereka.
"Gue ga mau Joanna pergi Guh!"
"Joanna ga bakalan pergi Rin! Dia kuat, dia yang paling kuat diantara kita." Teguh menenangkan Karin meskipun saat ini dia juga sangat sedih dan tak tahu harus berbuat apa.
###
Dengan langkah cepat, Eunice, Efraim dan kedua orang tua Khalifah segera berjalan ke arah ruangan yang sudah diinfokan oleh Karin sebelumnya.
Di depan ruangan itu masih ada Karin yang ditenangkan oleh Teguh, mereka berdua menangis. Ada Riana yang sejak tadi menangis dipelukan Irvan. Juga Endang dan Deon yang membantu menguatkan mereka.
Eunice segera berlari ke arah Teguh dan Karin, memeluk mereka berdua.
"Joanna pasti kuat kan guys! Kita harus doain dia! Masih banyak wishlist dia yang terwujud!" Eunice mencoba memberi pengharapan pada mereka.
"Jo! Kamu denger mama kan? Jo?!"
Suara teriakan Eunice, mama Joanna dari ruangan itu membuat mereka semua ikut menangis.
"Guys, Joanna." Ucap Teguh pelan.
Tidak ada suara, hanya tangisan kecil yang dipendam oleh mereka.
###
"Please bang lo bangun sekarang." Ucap Maria lirih menatap Gomgom yang belum sadar setelah dia membaca pesan dari Endang.
Dia ingin segera pergi ke ruangan Joanna, tetapi dia tidak bisa meninggalkan Gomgom sendirian. Juga keberadaan Gomgom disana sangat penting. Keadaan Joanna sekarang hanya Tuhan yang tahu akhirnya.
"Mar?" Ucap Gomgom parau. Membuat Maria yang sejak tadi berdoa segera membuka matanya.
"Bang? Lo udah sadar!"
"Hmm, gimana keadaan Joanna?" Pertanyaan ini membuat Maria hanya dapat terdiam, dia tak tahu harus melakukan apa.
"Mar? Joanna baik-baik aja kan? Minta dia kesini temenin gue."
"Bang...."
Ceklek
Suara pintu ruangan itu menghentikan ucapan Maria. Mereka berdua melihat ke arah pintu, sudah ada Ariq dan Fajrih disana dengan sebuah kursi roda.
"Lo berdua ngapain kesini bawa kursi roda?" Tanya Gomgom.
"Lo harus ikut kita sekarang!" Ucap Fajrih lalu membantu Gomgom berpindah ke kursi roda.
"Badan gue masih sakit."
"Kalau lo ga ikut kita, bisa jadi lo bakalan menyesal seumur hidup lo!" Balas Ariq.
###
"Ruang ICU?" Tanya Gomgom saat Fajrih menghentikan kursi roda itu. Ada banyak orang yang dia kenal disana, tapi ada satu wajah yang tak dia lihat.
"Dimana Joanna?" Tanya Gomgom dengan suara lumayan keras membuat semua mata sembab itu menatapnya, namun tak menjawabnya.
"Kenapa ga ada yang jawab? Joanna dimana? Dia aman kan?" Ulang Gomgom yang sekali lagi tidak direspon oleh mereka. Namun isak tangis Eunice dari ruangan itu membuat pertanyaannya terjawab.
"Joanna..." Ucapnya lirih.
"Anterin gue masuk Riq!" Pintahnya pada Ariq.
"Kita ga boleh masuk Gom."
"Gue harus masuk! Joanna kayak gini karena gue kan? Gue harus nemenin dia!"
"Bang! Dengerin gue! Kak Joanna lagi ditanganin sekarang, kita ga boleh masuk sembarangan! Lo ga mau kak Joanna kenapa-kenapa kan?" Ujar Maria membuatnya terdiam.
###
Detak jantung Joanna yang semakin melemah membuat isak tangis Eunice semakin tak berhenti. Anak semata wayangnya kini terbaring kesakitan tanpa ada yang bisa dia lakukan.
Eunice menggenggam tangan Joanna dengan erat.
"Sayang, kamu tahu kan mama sayang banget sama kamu. Kamu anak mama yang buat mama belajar banyak hal tentang gimana cara jadi ibu yang baik sekaligus temen kamu selama ini. Sampai sekarang pun mama selalu belajar apa yang terbaik buat kamu, sayang." Eunice mulai berbicara pada Joanna, membuat Kiran, Yuda dan Dian di dalam ruangan itu ikut menangis.
"Joanna sayang mama juga kan? Maafin mama yah selama ini belum bisa jadi mama yang terbaik buat kamu. Waktu papa pergi, mama sempat terpuruk dan ga perhatiin kamu, tapi kamu tetap hibur mama dan kasih semangat buat mama, padahal kamu juga terpukul waktu itu."
"Tapi..." Ucapan Eunice terhenti karena derai air matanya semakin deras.
"Tapi kalau sekarang kamu mau ikut papa, ga apa-apa nak. Mama ga mau kamu kesakitan lagi. Mama ga apa-apa kok." Ucapan ini membuat pecah tangisan ketiga orang di belakangnya.
Air mata Joanna tanpa sadar mulai menggelinding di atas pipinya.
Eunice segera menghapus air mata itu.
"Jangan nangis sayang, mama beneran ga apa-apa kok. Nanti kita bakalan ketemu lagi disana." Eunice mulai mengontrol dirinya, ia tak mau membuat Joanna sedih mendengarnya menangis sejak tadi.
Namun tangisan Eunice kembali histeris saat melihat monitor di samping Joanna.
"Tante keluar dulu yah, biar dokter Kiran dan dokter Yuda bisa nanganin Joanna secepatnya." Ujar Dian yang akhirnya membantu Eunice keluar dari ruangan itu.
###
"Bi, Joanna Bi!"
***
J
ujur pas aku nulis ini sambil nangis dikit
Kalau kalian pernah rasain kehilangan temen, kayaknya lumayan relate sama persahabatan mereka
Siapa nih yang udah prediksi aku bakalan double update hari ini?
🫶
KAMU SEDANG MEMBACA
Tidak Bisa Lari
RomanceSeorang abdi negara kebanyakan akan memilih pasangan yang berprofesi di bidang kesehatan, begitupun sebaliknya. Tapi berbeda dengan Iptu Theodore Gomgom Octofarrel, lelaki 28 tahun yang sebentar lagi pangkatnya akan naik ini sejak dulu tidak pernah...
