Ninety

1.1K 85 4
                                        

Cerita ini hanyalah fiktif belaka
Tidak ada sangkut pautnya dengan dunia nyata
.
.
.

"Jo?"

"Khal? Kok lo bisa ada disini?" Tanya Joanna pada Khalifah yang tiba-tiba saja berada 1 meter di belakangnya.

"Lagi pengen cari tempat santai aja. Capek gue belakangan ini sibuk ngurus berkas pindah tugas, pas udah disini malah lebih capek." Khalifah berjalan pelan mendekati Joanna yang berusaha menyembunyikan wajahnya dengan mata bengkaknya itu.

"Kok lo ga bilang sih ada tempat sejuk kayak gini di Jakarta? Padahal udah dari lama gue nyarinya." Ujar Khalifah yang kini sudah berhasil duduk di sisi Joanna.

"Hmm, gue juga kemarin cuma diajakin kesini kok. Eh malah nyaman dan jadi suka kesini."

"Eh iya, Bibi mana? Kok ga bareng?" Lanjut Joanna.

"Lagi di rumah mami, tadi mami jemput dia ke rumah, soalnya beberapa hari ke depan kita bakalan liburan."

"Kemana?"

"Ke AS bareng lo."

"Hah? Gue berangkatnya besok loh Khal, lo berdua belum ada persiapan sama sekali kan? Ga usah ikutlah."

"Siapa yang mau ngikutin lo? Kita berdua mau honeymoon. Kita berduakan belum pernah honeymoon."

"Hei bapak-bapak! Honeymoon gimana, ga lama lagi lo bakalan jadi bapak yee, dan masih mikir honeymoon."

"Ya, kami honeymoon hitungannya bertiga. Lagian nyari cuti itu susah tahu, untung aja seminggu ke depan gue sama istri gue dapat cuti."

"Ya terus, harus banget ke AS bareng gue?"

"Hmm, ke depan biaya bakalan lebih banyak kan. Dan kalau kita ke AS kan ndk perlu mikir biaya hidup dan akomodasi, lo udah punya semuanya disana."

"Khal, lo lupa kalau lo berdua kaya apa gimana? Apa perlu gue sponsorin honeymoon lo?"

"Bukan cuma masalah duitnya Jo. Tapi istri gue kan lagi hamil, jadi kita harus sediain minimal dokterlah kalau kita bepergian jauh, dan lo jawabannya."

Joanna menghela napas setelah berdebat dengan sepupunya ini. Pemikiran lelaki di hadapannya ini memang sering diluar nalarnya sejak dulu.

Mata Joanna tak bisa bohong meskipun Khalifah hanya menatapnya dari samping.

Khalifah jelas mengetahui bahwa belum ada pembicaraan antara Gomgom dan Joanna sejak hari itu, bahkan wanita di hadapannya ini selalu berusaha menghindar saat Gomgom menemuinya di rumah maupun di rumah sakit. Entah apa penyebabnya.

Dia datang disini pun setelah Gomgom memberi tahu mengenai tempat ini. Dan dia harusnya orang yang tepat untuk berbicara dengan Joanna sekarang.

"Lo ga ada masalahkan? Makanya milih balik AS?" Tanya Joanna.

Joanna menggeleng lalu tersenyum. "Emangnya gue anak kecil? Tiap ada masalah langsung lari?"

"Ya kali aja kan. Kalau emang ada masalah, cerita sama gue. Waktu lo kecelakaan, gue udah menyesal ga tahu apapun soal masalah lo sama Gomgom. Sekarang lo harus cerita sama gue kalau ada apa-apa."

"Liat muka gue baik-baik? Lo lihat gue punya masalah ga?" Joanna memalingkan mukanya pada Khalifah agar lelaki itu bisa menatap wajahnya.

"Ga ada kan?" Lanjut Joanna saat Khalifah sudah menatap wajahnya sekian detik.

"Lo ga pernah bisa bohong sama gue Jo."

"Eh gue balik duluan yah, ada jadwal oprasi ntar sore."

Tidak Bisa LariTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang