Ninety Three

1.3K 91 12
                                        

Cerita ini hanyalah fiktif belaka
Tidak ada sangkut pautnya dengan dunia nyata
.
.
.

Setelah seminggu di AS, hari ini mereka berempat akan kembali ke Indonesia.

Wajah Fabiola sangat bahagia saat ini, entah karena dia sudah puas di negara ini, atau karena sebentar lagi dia bisa kembali memakan makanan khas Indonesia, ya selama dia hamil, wanita itu lebih menyukai makanan Indonesia.

Begitu pun Khalifah yang akhirnya bisa menghabiskan banyak waktu bersama sang istri, meskipun saat mereka masih pendidikan banyak waktu untuk mereka berdua.

Untuk pasangan lainnya, sudah pasti tertebak. Kejadian tadi malam membuat mereka berdua hanya berdiaman sejak pagi.

Tak ada yang ingin memulai percakapan terlebih dahulu. Khalifa dan Fabiola pun enggan berkomentar karena ingin memberi ruang bagi pasangan itu.

"Udah aman kan semuanya? Taxi kita udah di parkiran." Tanya Khalifah memecah keheningan ini.

"Aman sayang." Jawab Fabiola.

"Gue juga aman." Jawab Gomgom.

"Gue... ehh bentar cincin gue kok ga ada?" Seru Joanna saat melihat jari manis kirinya kini kosong tanpa cincin yang selalu bersamanya itu.

Dia melirik meja di ruang tamu, benda itu harusnya terletak disana sekarang, namun nihil.

"Kok bisa? Lo ga pernah lepaskan?" Tanya Fabiola.

"Ga, tapi semalem gue lepasin karena..." Joanna menggantung ucapannya.

"Udah ga pentingkan? Yaudah sekarang kita berangkat!" Ucap Gomgom tegas lalu segera menyeret kopernya keluar mendahului mereka semua.

"Lo berdua berantem yah?" Bisik Fabiola.

"Hmm. Gue juga lepasin cincinnya semalam gara-gara itu, tapi seiingat gue gue taro di meja kok." Jawab Joanna pelan, karena dia sudah menebak Gomgom sangat marah sekarang, ya itu cincin yang diberikan oleh Gomgom setelah dia koma.

"Buruan kalian, nanti kita ketinggalan pesawat nih. Buat cincinnya, ntar lo minta tolong dicariin sama maid yang ngurus apart lo aja Jo, harusnya bisa ketemu." Ucap Khalifah melirik mereka berdua agar berhenti berbisik.

###

Jalanan yang tak terlalu padat membuat mereka bisa tiba tepat waktu di bandara.

Setelah melakukan serangkaian proses, akhirnya mereka bisa duduk tenang di kursi ruang tunggu sambil menunggu panggilan keberangkatan mereka.

Joanna memilih duduk di sisi kanan Fabiola, dan Gomgom memilih duduk di sisi kiri Khalifah.

"Lo berdua kayak anak kita tahu. Lo pada ngira kita mau foto keluarga apa? Duduknya kayak gini." Protes Khalifah.

"Ya lo berdua juga pake baju couplean. Udah kayak pengantin baru aja." Balas Joanna tak mau kalah. Meskipun Khalifah dan Fabiola menggunakan jacket, baju yang mereka pakai memang tetap nampak berwarna putih.

"Ya emang kita masih pengantin baru kan?" Timpal Fabiola.

"Inget, udah ada Jagoan disini. Udah ga baru lagi itu tandanya." Ucap Joanna mengelus perut Fabiola.

"Udah ada panggilan." Ucap Gomgom singkat setelah mendengar panggilan keberangkatan mereka.

Lelaki itu seperti tadi, meninggalkan mereka bertiga tanpa pamit.

"Khal, lo ga mau tukeran duduknya sama gue? Kayaknya Gomgom marah banget deh karena gue ilangin cincinnya." Tanya Joanna pada Khalifah.

"Ga ga ga, lo kira ini di bus bisa tukaran gitu aja. Gue juga ga mau pisah dari istri dan Jagoan gue. Lagian kalau kalian duduknya misah, ntar lebih susah lagi baikannya." Ceramah Khalifah.

Tidak Bisa LariTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang