Cerita ini hanyalah fiktif belaka
Tidak ada sangkut pautnya dengan dunia nyata
.
.
.
Joanna tersenyum merasakan perutnya yang terasa geli karena tendangan calon anaknya itu.
'Dede' sangat aktif terlebih ketika Joanna sudah memberikan stimulasi melalui BabyPlus yang dia berikan sejak kandungannya memasuki bulan ke-5 hingga sekarang kandungannya sudah menginjak usia 8 bulan.
Drrrt
Getaran handphone menghilangkan fokusnya, terterah nama "Papa Dede" disana, membuat Joanna kembali tersenyum. Beberapa minggu belakangan Gomgom selalu berusaha menemani calon anaknya 'bersekolah'.
"Selamat pagi sayang!" Sapa Gomgom.
Joanna meletakkan handphonenya di posisi yang bisa membuat Gomgom melihatnya dan juga calon anak mereka.
"Selamat pagi sayang! Oh, kali ini kamu nyari jaringannya cuma di atas mobil? Hahaha." Joanna memperhatikan posisi Gomgom yang seperti sedang duduk di atas mobil barracuda.
"Iya sayang, ternyata kalau pagi jaringannya bisa ketangkep kalau aku di atas mobil aja. Tapi kalau malam, harus di atas pohon kayak semalem." Tawa mereka berdua pecah mengingat pertemuan online mereka tadi malam yang harus membuat Gomgom memanjat salah satu pohon yang lumayan tinggi untuk menangkap jaringan saja.
"Gimana hari ini? Dede sekolahnya pinter ga?"
"Iya dong, ini dia masih nendang nendang." Joanna menunjuk perutnya yang masih ada pergerakan.
"Sakit ya sayang kalau Dede nendang?"
"Ga kok, geli dikit aja. Aku lebih suka dia aktif kayak gini, jadi buat aku bisa main sama dia."
Air mata Gomgom perlahan menetes mendengar ucapan Joanna, sejak tadi dia sudah menahan air matanya.
"Loh, kenapa nangis?"
"Aku kangen kamu, kangen Dede. Mau peluk kamu sama nemenin Dede main." Ucapnya pelan dalam tangisannya.
"Dikit lagi papa, yang sabar yah." Joanna mengubah suaranya menjadi seperti suara anak-anak, menjadi salah satu cara menenangkan Gomgom yang sangat sering menangis jika sudah membahas mengenai anak mereka yang sebentar lagi lahir.
Gomgom segera menghapus air matanya lalu kembali tersenyum pada Joanna. "Malam ini dan 3 hari ke depan aku ga bisa nelpon kamu ga apa-apa kan sayang?"
"Kenapa sayang?" Tanya Joanna, pasalnya selama 5 bulan lelaki ini bertugas, dia tidak pernah absen menghubunginya tiap malam.
"Aku harus masuk ke hutan hari ini, buat patroli, sekalian ngecek beberapa hal untuk laporan penyelesaian tugas."
"Kalian masuknya berame-rame?"
"Ga, cuma 8 orang. Ada aku, Weni, Dika, Sarno dan lainnya. Cuma mau ngecek aja jadi ga banyak-banyak, yang lain juga ngecek beberapa lokasi lainnya, jadi kita bagi tugas."
"Oke sayang, ga apa-apa. Be careful yah, aku sama Dede doain kamu dari sini." Joanna menampilkan senyum manisnya. Senyuman yang membuat Gomgom merasa bersalah karena meninggalkan Joanna saat wanita itu membutuhkannya.
"Eitss, kalau kamu nangis aku ga mau angkat panggilan dari kamu lagi yah. Ga ada cengeng-cengeng. Dulu aja kamu ngetawain Khalifah waktu dia jadi cengeng, sekarang malah ikut kamu yang cengeng." Ancam Joanna saat melihat Gomgom akan kembali menangis.
"Komandan!"
"Sayang kalau aku udah balik ke barak aku hubungin lagi yah, anak-anak udah pada siap." Ucap Gomgom setelah Dika menghampirinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Tidak Bisa Lari
Storie d'amoreSeorang abdi negara kebanyakan akan memilih pasangan yang berprofesi di bidang kesehatan, begitupun sebaliknya. Tapi berbeda dengan Iptu Theodore Gomgom Octofarrel, lelaki 28 tahun yang sebentar lagi pangkatnya akan naik ini sejak dulu tidak pernah...
