Sixty Nine

1.2K 103 12
                                        

Cerita ini hanyalah fiktif belaka
Tidak ada sangkut pautnya dengan dunia nyata
.
.
.

Joanna segera berlari ke sebuah halte tak jauh dari kantor polisi. Hujan rintik turun tepat saat dia keluar dari kantor itu, membuat dia harus mencari perteduhan sebelum memikirkan bagaimana cara untuk bisa pulang.

"Please yah, ini udah jam 5 sore dan ga ada hilalnya gue ga apes hari ini." Gerutu Joanna sambil merapikan bajunya, yang cukup transparan karena terkena hujan.

Wanita itu merogoh kantong celanannya untuk segera mengambil handphonenya, menghubungi Ajun untuk menjemputnya.

"Nah kan! Udah guee bilang, hari ini hari apes!" Serunya setengah berteriak, menyadari handphonenya yang kali ini tertinggal di dalam mobil Ariq.

"Seingat gue, kantor mama ga jauh banget kan dari sini? Kalau gue jalan dikit sampe kantor mama, gue bisa minta tolong Bu Sukma buat bantuin gue." Sukma adalah sekretaris pribadi Eunice, mamanya.

Joanna menatap langit yang masih sangat gelap itu, hujan semakin deras tak ada tanda-tanda redah, membuat dia akhirnya duduk beberapa menit di kursi halte untuk menunggu hujan sedikit redah.

"Jo!" Panggilan itu membuat Joanna sedikit menoleh sebelum akhirnya kembali menatap jalanan kosong di depannya.

Gomgom si pemilik suara itu segera berlari menghampiri Joanna yang masih duduk di kursi halte.

"Kenapa kamu jauhin aku?" Tanya Gomgom to the point, tapi tidak direspon sama sekali oleh Joanna.

"Jo! Jawab aku!" Gomgom sedikit menarik bahu Joanna agar wanita itu menatapnya.

"Oh, lo bicara sama gue?" Tanya Joanna membuat Gomgom menatapnya tajam.

"Tanpa gue jawab, harusnya lo pasti paham kan? Eh iya, hari ini Qiara harus check up kan? Lo jangan lupa temenin dia."

"Jo! Aku ga mau bahas orang lain. Aku cuma mau bahas soal kita berdua."

"Kita berdua? Masih ada sesuatu emang?"

"Jo, aku ga suka sikap kamu kayak gini! Dulu aku ga mau bantuin Qiara, kamu yang maksa. Sekarang kok kamu yang protes?"

"Gom! Gue males debat sama lo! Kalau lo mau anggap gue salah, terserah! Intinya gue ga mau bahas apapun sama lo!" Joanna segera bangkit berdiri lalu pergi meninggalkan Gomgom, meskipun hujan deras itu belum redah sama sekali.

Percikan air dari aspal tepat mengenai tubuh Joanna tepat setelah dia sudah berada di pinggiran aspal, karena sebuah mobil yang melewatinya dan segera berhenti di depan halte tadi.

Joanna sempat menegok ke belakang, masih ada Gomgom yang menatapnya tajam dan seorang wanita yang keluar dari mobil yang melewatinya tadi.

Rambut sebahu, keluar dengan sebuah payung untuk menjemput Gomgom di halte. Hanya itu yang dapat Joanna lihat sebelum dia kembali memalingkan wajahnya dan berjalan di tengah hujan.

Butiran hujan ini cukup membantu, ya cukup membantu menyembunyikan air mata Joanna saat ini. Keadaan sebelum dia kembali ke AS dan kembali dari AS sangat berbeda, dan jelas bukan ini kemauannya meskipun keadaan ini pun menjadi prediksinya.

Menyuruh Gomgom membantu Qiara memang adalah permintaannya, dengan kepercayaannya pada Gomgom yang tidak akan berubah padanya. Tapi sebulan ini menjadi pembuktian.

Setelah kejadian Joanna yang tidak mengangkat panggilan Gomgom setelah Qiara bertemu dengan lelaki itu, tidak ada panggilan lagi dari Gomgom. Bahkan pada saat akhirnya Joanna yang menurunkan egonya untuk menghubungi Gomgom, lelaki itu tidak mengubrisnya.

Tidak Bisa LariTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang