Seventy

1.5K 104 13
                                        

Cerita ini hanyalah fiktif belaka
Tidak ada sangkut pautnya dengan dunia nyata
.
.
.

Fabiola kembali menghampiri Joanna yang masih setia melihat pemandangan dari teras rumahnya itu.

"Gue udah hubungin tante Eunice kalau lo ada di rumah gue." Fabiola menarik jaket yang digunakan Joanna agar menutupi tubuhnya secara sempurna.

"Hmm." Jawab Joanna tanpa menatap Fabiola.

"Gue buatin coklat panas yah, biar badan lo jadi anget." Fabiola memutar badannya ke arah pintu teras.

"Bi, jangan ceritain sama siapapun apa yang Ariq bilang tadi yah. Cukup lo sama Khalifah dan Ariq aja yang tahu. Apalagi mama, dia ga boleh tahu." Akhirnya Joanna mulai berbicara, meskipun dengan tatapan kosong.

Jelas saja Ariq yang mengantarkannya ke rumah ini harus menjelaskan pada pasangan yang juga adalah sahabat dan keluarga Joanna mengenai penyebab keadaan Joanna hingga Ariq mengantarnya dengan keadaan seperti itu. Jika tidak begitu, Ariq yang akan menjadi sasaran Khalifah.

"Iya Dor."

###

Fabiola memberikan segelas coklat panas itu kepada Joanna yang sekarang sudah berubah posisi menjadi duduk di kursi teras.

"Udah anget kok, bisa langsung lo minum." Jelas Joanna. Dan dijawab sebuah anggukan dari Joanna yang menerima gelas itu.

"Setelah ini, pesenin gue taxi yah." Ujar Joanna setelah meneguk coklat panas itu.

"Ga! Gue anterin!" Khalifah yang baru saja tiba di teras segera menjawab Joanna.

"Lagi hujan Khal. Bahaya naik mobil pas hujan." Joanna memberi alasan.

"Lebih bahaya mana lo jalan sendirian pas hujan deres kayak tadi?! Lihat luka di kaki dan tangan lo itu, itu udah cukup!" Terlihat wajah Khalifah yang menegang menahan emosinya, sebetulnya dia bukan emosi pada Joanna tapi kepada Gomgom.

Joanna hanya bisa tertunduk mendengarkan ucapan Khalifah. Fabiola yang melihat keadaan ini segera memberi kode pada suaminya itu agar diam, dan segera duduk di samping Joanna.

"Dor, maksud Khalifah dia ga mau lo kenapa-kenapa. Biar kita anterin aja yah, lagian kita mau sekalian jengukin tante Eunice kok."

"Gue minjem baju lo dulu yah. Terus baju gue, tolong buang aja, ntar mama jadi curiga kalau dia lihat baju gue."

"Kenapa emangnya kalau tante Eunice jadi lihat baju lo? Takut si Gomgom ga boleh bareng lo lagi? Lo belum sadar?" Lagi-lagi perkataan Khalifah membuat Joanna terdiam, dan Fabiola membulatkan matanya padanya.

"Khal! Udah bahas Gomgom! Kamu ga lihat adik kamu udah gini! Ga usah nambah-nambahin." Tegur Fabiola.

Khalifah menarik napasnya panjang sebelum menghembuskannya lagi. Dan duduk di sisi kosong Joanna.

"Jo, kita ini udah kayak saudara kandung. Gue udah anggap lo sebagai adik kandung gue sejak lo lahir. Dari kecil gue juga udah jagain lo biar ga kenapa-kenapa. Tapi kali ini gue gagal, maaf." Khalifah memeluk Joanna yang sejak tadi tidak menjawabnya.

Tidak Bisa LariTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang