Eighty One

1.2K 95 10
                                        

Cerita ini hanyalah fiktif belaka
Tidak ada sangkut pautnya dengan dunia nyata
.
.
.

Setelah makan siang di rumah Khalifah dan Fabiola, Gomgom mengantar Joanna ke rumahnya yang hanya perlu menyeberang sekali.

"Kamu duduk disini, aku buatin teh anget dulu yah." Ujar Joanna setelah Gomgom berhasil duduk di sofa ruang tamu.

"Kok teh anget?" Tanya Gomgom yang hanya terbawa angin karena Joanna sudah berlalu ke arah dapur.

Lima menit kemudian Joanna datang dengan nampan berisi segelas teh dan air putih, serta sebuah wadah kecil di atasnya.

"Eh kok?" Pekik Gomgom yang tahu isi wadah itu.

"Kenapa kamu ga bilang kalau kamu demam dari semalam?"

"Kamu tahu dari mana?"

"Teguh. Tadi dia nanyain kita udah dimana dan apa kamu baik-baik aja."

"Oh."

"Oh aja?"

"Apa lagi emang?"

"Hmm. Yaudah sekarang kamu minum obatnya dulu, ntar sore biar aku yang antar ke rumah."

"Istirahat aja sayang, nanti juga sembuh sendiri."

"Ga bisa! Minum obatnya sekarang!"

"Pahit yanggg." Rengek Gomgom.

"Ini udah aku siapin teh biar ga pahit, buruan minum dulu!"

Akhirnya dengan terpaksa Gomgom memasukkan beberapa biji obat yang berada di wadah itu ke dalam mulutnya, meneguk air putih hingga tandas, begitupun dengan teh sebagai pemanis dari rasa obatnya.

"Nah, mudah kan? Lagian kamu, badan kayak gapura kabupaten, minum obat sekecil itu aja susah." Ujar Joanna setelahnya.

"Masih pahit sayang."

"Mau dibuatin teh lagi?"

"Ga perlu, mau lihat kamu aja biar rasa pahitnya ilang. Kamu kan manis."

"Haudeh! Di gombalin abneg lagi gue." Ujar Joanna membuat Gomgom tersenyum.

"Aku ke kamar dulu yah, mau ngambil masker muka aku. Aku lihat muka kamu udah kusem banget. Beberapa waktu ke depan kamu belum turun lapangan kan?" Pertanyaan ini tak dijawab Gomgom dengan cepat, diapun tak bisa memastikannya.

"Kan sayang?" Ulang Joanna.

"Hmm."

"Oke, kalau gitu kita maskeran dulu, biar kamu tambah glowing."

###

"Halo kak Joanna!"

"Halo Maria! Ada apa telpon kakak malem-malem?" Untung saja Joanna masih mengangkat panggilannya, padahal ini sudah pukul 1 subuh.

"Maaf kak aku ganggu istirahatnya kakak. Tapi demamnya bang Gomgom ga turun-turun daritadi, mama sama papa udah bujuk dia ke rumah sakit aja tapi si kepala batu ini emang ga bisa di bilangin. Aku boleh minta bantuan kakak ga biar abang nurut?"

"Hmm, bisa kamu deketin handphonenya ke telinga Gomgom? Biar kakak bisa bicara sama dia."

"Oke kak." Ujar Maria lalu segera mendekatkan handphone itu ke telinga Gomgom.

"Ma,pa. Anterin abang ke rumah sakit." Ujar Gomgom setelah panggilan itu berakhir.

"Kekuatan kak Joanna emang ga perlu diraguin lagi." Gumam Maria pelan.

Tidak Bisa LariTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang