Cerita ini hanyalah fiktif belaka
Tidak ada sangkut pautnya dengan dunia nyata
.
.
.
Hari ini Joanna resmi menyandang nama dr. Feodora Joanna Xaviera Darren, Sp.B., FICS. Kebahagiaan tentu dirasakan oleh semua keluarganya maupun keluarga Gomgom yang kali ini tidak bisa ikut di acara wisuda Joanna karena tugas dan tanggung jawab mereka. Namun, mereka semua sudah menghubungi Joanna saat acara wisuda kelulusan Joanna selesai.
Sesuai rencana awal, Eunice, Irvan, Riana dan Gomgom-lah yang ikut dalam acara wisuda Joanna. Mereka berfoto di beberapa spot yang indah di sekitar kampus yang sudah memberi gelar pada Joanna hari ini. Tak ada yang mengurangi kebahagiaan mereka, meskipun sejak tadi mata Eunice sudah berkaca-kaca melihat anak semata wayangnya yang sudah menyelesaikan mimpi suaminya yang ingin Joanna menjadi dokter yang mendapatkan gelar spesialis dari luar negeri. Dia yakin, March ikut bahagia bersama mereka.
"Om! Deketan dikit sama tante Riana! Tante, tatap matanya om biar fotonya lebih cocweett!" Seru Joanna mengarahkan angel foto berdua untuk Irvan dan Riana setelah mereka melakukan foto bersama.
"Malu Jo, kayak anak muda aja." Tolak Riana malu. Joanna berjalan pelan karena rok batik yang dipakainya kali ini cukup membatasi ruang geraknya.
"Giniloh tan, tangannya disini. Ga usah malu, ga ada yang kenalin kita disini. Lokasinya udah mendukung banget buat foto prewed kalian." Lagi-lagi ucapan Joanna membuat mereka tertawa, sementara wanita ini masih sibuk mengatur letak tangan kedua manusia kaku di hadapannya ini.
"Oke pas! Sayang udah bisa kamu fotoin." Pintah Joanna pada Gomgom yang sudah siap dengan kamera di tangannya.
###
"Huwaa! Papa! Mama! Hiks hiks!" Tangisan Junior dengan suara kecilnya memanggil kedua orang tuanya mengagetkan Khalifah dan Fabiola yang sedang menikmati coklat panas mereka di taman belakang.
"Kamu disini dulu sayang, aku lihat Junior dulu." Ucap Khalifah mengelus pelan kepala Fabiola lalu segera berjalan ke arah kamar putranya itu.
"Halo anak papa! Kenapa menangis?" Tanya Khalifah sambil menenangkan Junior yang masih merebahkan dirinya di kasur.
Khalifah segera menggendong Junior, untuk menenangkannya. Namun, tangisan Junior tidak meredah sama sekali, akhirnya membuat Fabiola ikut menghampiri kedua lelakinya itu.
"Loh loh loh, udah bareng papa kok masih nangis sayang?" Tanya Fabiola menatap Junior yang kini sudah berada dalam gendongan Khalifah.
"Juniol mau tidul sama mama papa, tapi tadi mama sama papa ilang. Hiks hiks hiks." Power seorang ibu memang benar adanya, buktinya sekarang.
Khalifah dan Fabiola tertawa kecil mendengar jawaban anak mereka yang memang belum fasih mengucapkan huruf "R" itu. Mereka bertiga memang tidur di kamar Junior tadi siang, tapi karena perut Fabiola yang tidak nyaman terlalu lama tidur, membuat dia lebih cepat bangun diikuti Khalifah yang tidak tenang jika Fabiola tidak nyaman dengan perutnya.
"Yaudah, sekarang kita tidur lagi yah?" Ajak Khalifah.
"Ga mau! Juniol mau main!" Tolak Juniol sambil memberontak ingin lepas dari pelukan papanya.
"Sayang, kita boleh ke taman sore ini? Kita udah hampir sebulan ga nemenin Junior main di luar, kasihan dia mainnya dalam rumah terus." Ajak Fabiola.
KAMU SEDANG MEMBACA
Tidak Bisa Lari
RomanceSeorang abdi negara kebanyakan akan memilih pasangan yang berprofesi di bidang kesehatan, begitupun sebaliknya. Tapi berbeda dengan Iptu Theodore Gomgom Octofarrel, lelaki 28 tahun yang sebentar lagi pangkatnya akan naik ini sejak dulu tidak pernah...
