Cerita ini hanyalah fiktif belaka
Tidak ada sangkut pautnya dengan dunia nyata
.
.
.
Titt... Titt... Titt...
Deon segera membuka matanya saat mendengar suara dari monitor ICU yang terletak di sisinya. Dia tak tahu membaca monitor ini, dia segera menekan tombol merah yang membuat seorang dokter juga beberapa perawat memasuki ruangan itu.
"Silahkan tunggu diluar Pak, kami akan segera melakukan tindakan." Ucap salah satu perawat lelaki sambil mengantar Deon keluar dari ruangan itu.
Deon tak sempat memeriksa keadaan Gomgom karena panik dengan suara monitor itu.
###
Beberapa rekan Gomgom datang setelah Deon mengabari Restu mengenai monitor Gomgom di ruangan itu berbunyi. Mereka semua menanti dengan harap.
Drrttt
Getaran ponsel Deon membuat lelaki parubaya itu agak menjauh dari ruang tunggu, dia belum memberi tahu tentang keadaan Gomgom, dia tak ingin mereka lebih khawatir.
"Halo ma, ada apa?"
"Gimana keadaan abang, pa?"
Deon terdiam sejenak sebelum menjawab, "masih seperti kemarin ma," bohongnya. "Bagaimana dengan Joanna?"
"Kata dokter, kemungkinan besar Joanna akan menjalani operasi caesar, karena keadaannya saat ini sudah semakin menurun."
"Mama yang sabar yah, kita berdoa buat kedua anak kita. Tuhan pasti tidak akan menguji mereka lewat dari kekuatan mereka."
"Iya pa."
###
Banyak senyum memancar dari muka manusia yang terkenal sangar di mata orang awam ini. Sampai lelaki yang akan menjalani pemeriksaan menatapnya dengan tatapan penuh tanya.
"Kalian semua kenapa?" Tanyanya.
"Kami sangat senang komandan bisa bangun lagi, apalagi kejadian tadi sempat membuat kami berpikir yang tidak-tidak." Jawab Dika mewakili beberapa rekannya.
Ya, lelaki itu adalah Gomgom. Dia sudah sadar. Tepatnya saat monitor itu berbunyi karena dia yang berusaha mencabut beberapa alat dari tubuhnya, yang sudah pasti membuat monitor ICU-nya berbunyi. Cukup lucu tapi dalam keadaan ini membuat Deon berpikir anaknya sudah pergi.
"Keadaan Pak Theo sudah cukup membaik, apalagi tadi Pak Theo sudah bisa mencabut alat perawatannya sendiri." Sindir Robin, dokter yang menangani Gomgom, membuat semuanya tertawa.
"Maafkan saya dokter, saya tak merasakan apapun saat saya bangun, saya hanya melihat beberapa alat yang terletak di dada saya, takutnya itu menyetrum saya, membuat saya segera melepaskannya. Saya boleh tanya sesuatu dokter?"
"Tentang apa pak?"
"Boleh dokter memberikan saya MEDIF untuk penerbangan hari ini? Saya harus segera pulang karena saya harus menemani istri saya yang akan segera melahirkan." Wajah Gomgom terlihat sangat memelas sekarang, sedangkan yang lain menatapnya cukup terkejut. Bagaimana tidak, dia bahkan belum 24 jam tersadar dari masa koma 5 harinya.
"Maafkan saya pak, saya belum bisa memberikan hal itu. Keadaan bapak belum sepenuhnya pulih, masih sangat berbahaya. Mungkin 2-3 hari lagi tergantung keadaan bapak."
"Tapi dok-"
"Nak, dengar kata dokter. Joanna juga akan marah jika melihat kamu tidak dengan keadaan sehat mendatanginya, kita bisa menghubunginya sambil menunggu kesehatan kamu pulih dan kita segera pulang." Potong Deon menasihati Gomgom.
KAMU SEDANG MEMBACA
Tidak Bisa Lari
عاطفيةSeorang abdi negara kebanyakan akan memilih pasangan yang berprofesi di bidang kesehatan, begitupun sebaliknya. Tapi berbeda dengan Iptu Theodore Gomgom Octofarrel, lelaki 28 tahun yang sebentar lagi pangkatnya akan naik ini sejak dulu tidak pernah...
