------------------------
Oleh : pandiga
Televisi sekotak persegi
Atau layar datar aku tak peduli
Yang hendak pegang kendali
Rasuki alam imaji
Racuni bibit bumi pertiwi
Bagai cocaine dalamnya
Malah ajak bodoh bersama
Dipaksa tuk tertawa
Demi rupiah semata
Tampilkan gemerlap dunia
Drama murahan khas ibukota
Opera receh berhias bintang katanya
Suara lengking pecah telinga
Adu domba antar penguasa
Koyak moral terselubung
Lewat hiburan-hiburan buntung
Yang semata hanya cari untung
Lewat kemampuan yang menggelantung
Persetan dengan karya seni
Aku bisa beli apa dengan seni
Karena mereka hanya dikencingi
Dikencingi urine instan kian menjadi
Lewat nyiyiran musik pagi
Estetika semata nafsu lelaki
Lewat wanita murahan yang jual diri
Mereka tak peduli apa itu seni
Semata soal aku bisa beli apa dengan ini
Dilema airmata buaya
Balada seniman rumah tangga
Elegi ditinggal kekasih yang didamba
Kisah FTV berakhir bahagia
Lho,negeri ini penuh sandiwara
Yang siap dipimpin buaya kuya
Dengan sandiwara berkedok realita
Kami muak dengan semua
Kami rindu keluarga cemara
Tengoklah si doel nan bersahaja
Jadi kawan kita dulunya
Tapi ia sekarang sirna
Tergusur oleh pembodohan belaka
Sekarang zamannya pemuda tampan berkuda besi
Atau siluman serigala tolol buatmu ngeri
Serta si tukang bubur tak kunjung tampakkan diri
Atau lacur pencarian jodoh kian dieksploitasi
Ah, jancok televisi ini !!!
Matikan!!!!
-Malang,3 Maret 2017-
KAMU SEDANG MEMBACA
Sajak Liar
PoetryHanya sekumpulan sajak yang dapat mewakili semua isi hatiku yang tak dapat aku ungkapkan~ happy reading yaa :) rfrns: sajakliars@gmail.com
