Karena cinta, aku berteman akrab dengan kata. Bersama kata aku dikenalkan pada secangkir kopi, pahit awalnya namun setelah mengenal kopi aku semakin menggilai cinta, pahitnya sama dan aku terbiasa.
Hari ini masih pukul tujuh, tak ada kegiatan menanti dikerjakan, kupilih menikmati waktu. Bercanda bersama kata tak lupa mengundang kopi bercangkir-cangkir ikut serta. Satu per satu dari waktu, kata kemudian kopi bercerita perihal tak teraihnya abadi, perihnya kehilangan makna dan terlukanya dicaci maki akibat pahit.
Giliranku tiba, mereka menanti aku bersuara. Aku menimbang-nimbang kuberi suara atau kubiarkan hati yang bercerita. Hati mengajukan dirinya, aku mempersilahkan.
Tawa menggelegar bersama petir yang bergemuruh pagi ini. Aku ditertawai oleh waktu dan kopi, sedangkan kata terdiam.
Tujuh detik berlalu.
Kata menangis sejadi-jadinya, tinta-tinta luntur, hitam di sana-sini kertas putihku.
Apa aku menyinggung kata? Padahal hati hanya bercerita tentang keinginan membenci jatuhnya cinta.
Begitulah kata, aku teman terakrabnya. Puisi-puisi menyedihkanku aku rangkai dari kata. Aku mempercayai kata.
Tetapi kata egois.
Pagi ini setelah reda tangisnya kata melarangku berhenti jatuh cinta
karena kata berhutang budi pada cinta, yang mengakrabkan pertemanannya denganku.
Jadi siapa yang harus hati benci? Cinta atau kata?
Waktu dan kopi angkat bicara.
"Kesalahan ada pada yang dicinta. Benci saja dia." Kini giliran aku menertawai mereka.
Hujan tiba di pelukan tanah, berintik-rintik singgah mengetuk jendela, hujan terdengar penasaran.
"Kalian salah. Jika tanpa dia aku tak akan pernah mengenal cinta. Tanpa mengenal cinta tak pernah ada kata dan kopi bersamaku, aku tak akan pernah bisa menikmati waktu."
Kata, kopi dan waktu terlibat perkelahian hebat. Hujan curiga dan petir berusaha melerai.
Aku menutup kedua telingaku dan membungkam suara. Aku tak bisa membenci hati. Aku tak bisa berhenti menjatuhkan cinta. Aku tak bisa memutuskan pertemanan dengan kata maupun tak lagi menyeduh kopi.
Cerita ini tidak bisa aku selesaikan. Aku kembali pada puisiku, menyedihkan.
-A-
30.03.2017
KAMU SEDANG MEMBACA
Sajak Liar
PoetryHanya sekumpulan sajak yang dapat mewakili semua isi hatiku yang tak dapat aku ungkapkan~ happy reading yaa :) rfrns: sajakliars@gmail.com
