23 - Veintitrés

17.2K 1.2K 37
                                        

Marvella meletakkan berkas yang baru saja ia fotokopi saat meja Adrian kini dikerubungi beberapa orang. "Ada gossip baru apa hari ini?" tanyanya setelah bergabung.

"Well, agensi Nadine Faye mengadakan press conference jam sembilan tadi dan mengumumkan kalau pernikahannya dengan Askari akan batal."

Marvella yang biasanya tidak peduli dengan gossip yang biasa dilakukan oleh Adrian kini tertarik untuk mendengarkan lebih lanjut."Lalu?"

"I don't know , El. Hanya ada kejelasan bahwa Nadine tidak hadir di press conference itu – diwakilkan oleh manajernya. Agensinya meminta maaf atas berita mendadak ini, dan akan bertanggung jawab kepada jadwal Nadine yang dibatalkan sampai waktu yang tidak ditentukan, it's super – hot – topic."

"Tapi dia baru selesai syuting film, kan? Kapan film terbarunya keluar?" tanya seorang wanita yang menyimak pembicaraan dari belakang.

Adrian yang merupakan salah satu penggemar Nadine Faye menjawabnya, "Enam bulan lagi."

"Stigma publik kepada perusahaan ini bisa memengaruhi saham bukan? Tadi pagi saham masih stabil, tetapi kita tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya," tambahnya. "Sampai jam sepuluh ini, Nadine menjadi trending topic di media sosial dan menjadi highlight di infotainment show semua stasiun televisi."

"Seheboh itu?"

Adrian kini menatap Marvella karena pertanyaan polos dari wanita itu. "Penggemar Nadine sangat banyak, Marvella. Nadine melakukan banyak kegiatan sosial dan menjadi aktris yang sangat bertalenta, menurut kamu kenapa aku menjadi penggemarnya? Karena dia adalah artis yang sebenarnya, bukan seorang selebriti – which is always make celebration for useless things."

"Jadi maksud kamu, berita seperti ini akan berdampak besar kepada perusahaan ini?"

"Karena aku adalah karyawan dari perusahaan ini sekaligus penggemar Nadine Faye, here I drop my opinion – yes."

"Kamu sepertinya berlebihan, Adrian. Seperti yang kita tahu, Askari Tanuwidjaja memiliki kepemimpinan yang baik dan menjadikan perusahaan ini semakin maju, kan? Dia bisa beradaptasi dengan cepat dan membuat keputusan yang baik."

Kerumunan itu mulai bubar, ini masih jam kerja dan mereka bisa melanjutkannya nanti saat jam makan siang. Marvella kembali ke mejanya, namun ia mengerutkan keningnya saat ternyata Adrian mengikutinya.

"Kenapa kesini? Jangan bergosip di mejaku, Adrian."

"Did you know about this, jauh sebelum berita ini diumumkan?"

"Aku tidak tahu."

Adrian menumpukan lengannya di atas meja. "Aku kira kamu tahu karena kamu adalah adiknya, El."

"Tidak – aku tidak tahu. Walaupun aku mempunyai hubungan yang dekat dengannya, bukan berarti aku tahu masalah mereka berdua, Adrian. Itu adalah privasi keduanya dan tolong jangan menyentuh laporanku yang sedang kamu lihat sebelum kamu menumpahkan lagi air diatasnya untuk kedua kalinya, Adrian."

___

Marvella menutup pintu mobilnya. Hari ini ia memiliki janji dengan Atha untuk bertemu di apartmen adiknya. Sepuluh menit kemudian ia sampai di unit yang dituju, dibukanya pintu setelah memasukkan sandi. Tetapi ia terkejut saat melihat sebuah sosok yang duduk di kursi tinggi dan membelakanginya. Saka membalikkan badannya dan menyapa Marvella yang masih berdiri di pintu,"Hi."

"Hi."

Marvella menoleh ke kanan dan kiri untuk mencari adiknya. "Mana Atha?"

"Belum pulang."

"Tumben kamu kesini, sedang jenuh?"

"Kamu sendiri?"

"Aku capek dan ingin tidur disini. Teh?" tawar Marvella kepada Saka.

"Aku sudah membuat kopi."

"Okay." Marvella kemudian membuat teh untuk dirinya sendiri. Tidak ada yang berbicara diantara mereka selama tiga menit kedepan. Ia berdiri di depan kompor untuk menunggu air yang sedang direbus dan macaroni schotel yang ada dikulkas untuk dipanaskan di microwave.

Marvella meletakkan teh miliknya di kitchen island dan macaroni schotel yang sudah dipanaskan dengan dua sendok. Ia menggeser makanan itu ke tengah – tengah dirinya dan Saka. "I've heard what happened today."

"Hari ini hari yang berat, bahkan untuk Darek. Dia sedikit kerepotan karena teleponnya tidak pernah berhenti berdering," Saka ikut menyendokkan makanan yang ada didepan Marvella ke mulutnya.

"Tetapi pemberitaan tentang wanita itu hanya sedikit – tidak sebanyak yang aku kira. Berkat Grams, media menyoroti keberhasilan hutan energi di Kalimantan daripada terfokus pada press conference itu."

"Tapi Grams ada di Sumba."

"Kemarin aku bertemu sebelum dia berangkat ke Sumba dan meminta bantuannya. Well, setidaknya karena Grams memiliki saham mayoritas di banyak stasiun televisi dan aku membutuhkan seseorang yang bisa mengontrol rumor agar perusahaan tidak terlalu merugi."

"Terlepas dari itu semua, aku lega. Saham tidak jatuh sedrastis yang aku perkirakan."

"Mau merayakan keberhasilan kamu?" tawar Marvella karena melihat Saka yang sedang memiliki mood yang bagus.

Saka menunjuk piring kosong dengan sendoknya. "Macaroninya sudah habis tapi aku masih lapar."

"Kamu yang menghabiskan makananku, Saka. Dari dulu sampai sekarang kenapa kamu selalu menghabiskannya, sih?"

"Aku lapar dan kebetulan kamu memanaskan ini. Mau order makanan?"

" ... "

"Buatkan aku makanan saja. Aku tadi lihat ada mie instan di laci dan kamu bisa memasaknya."

Saka kemudian berdiri. Ia melipat lengan kemejanya dan membuka laci untuk mengambil mie instant yang akan ia masak. Sementara itu, Marvella menopang kepalanya dengan tangan di atas meja dan melihat Saka yang membelakanginya.

"Kamu tahu kalau divisiku benar – benar membicarakan kamu? Beritanya benar – benar menjadi hot topic."

"Tidak, tapi sekarang aku tahu."

...

"Are you okay, Sak?"

"Apa aku terlihat tidak baik – baik saja?"

"Di mataku – ya," Marvella mengerutkan keningnya. Ia berpikir tentang press conference itu dan Saka yang sekarang terlihat seperti memaksakan sebuah senyum didepannya.

"Aku akan mengatakannya kalau aku tidak baik – baik saja, El. Terima kasih atas perhatiannya."

Marvella memandangi Saka yang sekarang terlihat sibuk memasukkan mie ke dalam panci. Pria itu kembali membelakanginya. "Askari Tanuwidjaja, kalau aku melamar kamu disini, kamu mau menikah dengan aku?"

____

RécrireCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang