"Aku kembalikan kemeja kamu, Saka," kata Marvella enam jam kemudian setelah pertengkaran mereka. Ia sedang berada di kamar pria itu yang kosong – Latisha yang baru datang setelah makan siang tadi memberitahunya kalau pria itu keluar sejak satu jam yang lalu. Marvella yang sudah berganti baju dan mencuci wajah karena matanya membengkak kemudian segera membereskan semua barang-barangnya di rumah ini karena ia akan pergi.
Ia meletakkan kemeja itu di lemari Saka. "Jangan tidur terlalu malam – kamu terlalu sering lembur."
Hanya ada dirinya seorang. "Mungkin enam bulan kedepan aku akan tetap mengontak Darek agar mengingatkan jam makannya kamu."
" .... "
Marvella menatap kemeja Saka yang sudah tersusun di lemari, "Kemeja kamu besar."
"Kasihan yang mencucinya, pasti repot."
"Ya , mereka pasti repot," ulang Marvella baik di mulutnya maupun pikirannya. Ia kemudian menatap kamar Saka untuk yang terakhir kalinya sebelum keluar dari sana. Saat ia berjalan ke tangga, Harina, salah satu orang yang bekerja di rumah orangtuanya sendiri sebagai asisten rumah tangga sejak dua tahun lalu dan menjadi orang yang ia percayai untuk tidak memberitahukan masalah ini kepada orangtuanya sudah berdiri disana.
"Sudah semuanya, Harina?" tanya Marvella.
"Sudah, Non," jawab wanita yang lebih muda setahun darinya. "Kopernya juga sudah diangkat, ada lagi yang perlu dibereskan? Koleksi tehnya Non mungkin?"
"Benar juga," Marvella kemudian menuruni tangga dan membiarkan Harina berjalan dibelakangnya. Begitu ia sampai di dapur dibukanya rak atas yang selama enam bulan ini ia klaim untuk meletakkan koleksi tehnya. Ia menurunkan toples-toples kaca, berbagai kotak berisi kantong teh, dan sebuah teko teh antik bernilai seratus ribu dollar, hadiah dari teman neneknya.
Harina membereskan semua teh yang diturunkan oleh Marvella dan saat semua sudah masuk ke keranjang, ia menunjukkan satu kotak teh yang masih ada disana. "Yang itu Non?"
Marvella melihat kearah laci dan hanya tersenyum tipis saat melihat kotak peppermint tea yang sengaja ia tinggal. "Biarkan saja, Harina."
Harina mengangguk dan tidak bertanya lebih lanjut, ia mengangkat keranjang itu dengan hati-hati dan berjalan lebih dahulu ke luar rumah dimana sudah ada dua mobil menyala dengan satu supir yang sebelumnya mengantar Harina ke rumah ini.
"Mbak Ella?"
Marvella menoleh dan mendapati Latisha yang sebelumnya sedang keluar untuk membeli bahan-bahan makanan sekarang sedang menatapnya dengan bingung. "Non, ada tamu ya? Maaf tadi saya keluar – tamunya dibuatkan minuman, Mbak?"
Marvella maju dan menolong Latisha meletakkan bahan-bahan makanan yang semakin banyak sejak ia tinggal di rumah ini. "Tidak perlu, Sha."
"Mbak Ella mau keluar?" tanya Latisha lagi.
"Pindah, Latisha." Marvela kemudian berusaha tersenyum kepada wanita didepannya, "Terima kasih ya untuk semua bantuan kamu. Kan kamu sering menemani saya memasak dan mengobrol - "
Latisha tentu terkejut, "Kenapa Mbak pindah?"
"Karena sudah selesai."
Latisha menatapnya dengan bingung, "Maksudnya, Mbak?"
"Saya akan segera bercerai, Latisha."
Latisha tahu tidak seharusnya ia bertanya hal yang begitu pribadi kepada istri majikannya, namun kabar yang sangat tiba-tiba ini membuatnya sedih dan bingung. "Kenapa Mbak cerai dengan Bapak?"
....
"Saya sudah tidak cinta dia lagi." Marvella menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan panjang juga, berapa kali ia berbohong hari ini? "Hari ini kamu harus masak untuk makan malamnya Saka ya, Sha. Entah dia makan di rumah atau tidak, tetap masakkan untuk dia. Lalu jangan masak ayam rica-rica atau sesuatu yang pedas selama satu minggu kedepan, perutnya Saka sedang kurang sehat."
KAMU SEDANG MEMBACA
Récrire
ChickLitRécrire | Galaxy's Series #2 ©2019 Grenatalie. Seluruh hak cipta.
