67 - Sesenta Y Siete

10.4K 851 44
                                        

"Pagi ini aku berangkat sama kamu, ya." Marvella mengucapkannya ketika mereka berdua ada di meja yang sama untuk sarapan pagi ini. Tiga hari berlalu sejak mereka tidur bersama dan selama itu Marvella hanya bisa bertemu dengan Saka saat sarapan atau saat malam ketika ia menunggu pria itu untuk pulang.

"Ada apa dengan mobil kamu sendiri?"

"Aku bosan menyetir." Marvella kemudian meminum teh yang sudah disiapkan oleh Latisha. Saka hanya mengangguk menuruti wanita itu dan melanjutkan kegiatannya.

Lima jam kemudian Marvella yang sedang makan siang diluar di jam istirahat siangnya meninggalkan makanannya saat melihat ponsel miliknya bergetar, ia melihat ID penelepon dan terkejut saat tahu Saka meneleponnya. Buru-buru ia meletakkan sendoknya dan segera mengangkat panggilan itu.

"Dimana?" tanya Saka.

Marvella tidak bisa menahan senyumannya saat mendengar suara pria itu. Ia sedang bertemu dengan Benedict Canale, temannya yang baru saja kembali dari Amerika dan akan megadakan pameran seni sekaligus penggalangan dana di Jakarta. "Diluar," jawabnya.

"Aku ingin mengajak kamu makan siang," kata Saka.

"Aku sedang makan – kamu makan siang saja dengan Darek."

Saka hanya mengerutkan keningnya saat mendengar jawaban Marvella. "Darek bilang kalau malam ini aku akan pulang lebih malam, L. Aku sudah meminta Pak Mali untuk menjemput kamu," kata Saka.

Marvella yang sudah berpesan kepada Saka untuk pulang bersama sepulang kerja menjadi sedikit bingung. "Aku bisa menunggu kamu, berapa jam? Satu jam? Dua jam?"

"Not today, L. Tiga hari terakhir kamu tidur di sofa karena menunggu aku – jadi hari ini kamu pulang duluan saja."

Marvella melirik Benedict yang duduk didepannya. "Oh, kalau begitu nggak perlu minta Pak Mali jemput aku. Ben akan mengantar aku pulang."

"Ben?"

"Benedict – teman aku dan juga teman kamu, sedang didepanku dan kami sedang bertemu." Marvella kemudian bertanya kepada Benedict tanpa melepaskan ponsel dari telinganya. "Ben, kamu teman aku dan kamu mau antar aku pulang kan nanti sore?"

Benedict Canale yang sedang menuliskan sesuatu di buku kecil lalu mendongakkan kepala dan menatap penuh tanda tanya ke Marvella. "Thanks," kata Marvella tanpa menunggu jawaban dari Benedict.

Saka yang sedang berhadapan dengan setumpuk berkas mengenai proyek kilang minyak Victoria kembali mengerutkan kening saat mendengar Marvella. "Benedict bukan teman – he's my rival, Marvella."

"Oh, ya sudah dia teman aku - my friend will take me home later. Sudah ya, Sak. Aku mau makan dan kamu – aku akan mengirim pesan ke Darek agar kamu benar-benar makan."

Benedict yang sedang duduk berhadapan dengan Marvella mendengus sebal melihat wanita itu selesai dengan pembicaraannya. Ia tahu Marvella memutuskan panggilan secara sepihak dan entah kenapa ia sekarang tertarik ke hal itu. "Gue bahkan belum bilang iya."

"Udah kamu antar aku aja." Marvella meletakkan ponselnya dan kembali ke makanannya.

Benedict yang baru bertemu dengan Marvella hari ini setelah pesta ulang tahun Iliona Tjahjadi tidak tahu apa yang selama ini terjadi. "Boleh gue bertanya kenapa lo menikah dengan dia? Teman gue bilang Saka bertunangan dengan Nadine Faye – dan gue sekarang menjadi bingung dengan semua yang sudah teman gue katakan saat Saka sendiri yang mengatakannya di depan gue tentang lo yang menjadi istrinya."

Marvella memilih tersenyum tipis kepada Benedict yang hari itu memakai kemeja kotak-kotak. "Ceritanya panjang dan rumit, Ben. Even aku tidak tahu kenapa aku ada dalam cerita mereka."

"..."

"Karena aku mencintainya­ dan aku hanya bisa melihatnya – he became 'the first' for me. For eight month later, I'm healing his trauma."

"Hmm, dengan cara menikah?"

"Memang ada cara lain?"

"Gue belum menikah – gue tidak tahu, El, " kata Benedict sambil mengangkat bahunya sendiri.

Benedict yang sebelumnya membiarkan buku kecilnya terbuka di atas meja menutupnya karena ia lebih penasaran dengan cerita Marvella. "By the way, kenapa dengan delapan bulan?"

"Kami akan berpisah," kata Marvella dengan santai. Ia tersenyum tetapi Benedict bisa melihat senyum itu sangat canggung.

"Lo tahu apa yang lo lakukan adalah hal yang aneh?" tanya Benedict sambil lebih memfokuskan diri ke pembicaraan mereka. "Aneh saat lo bilang lo akan menyembuhkan traumanya dengan menikah, tapi lo juga akan bercerai. Kenapa lo senekat ini? Lo sama sekali tidak mendapat keuntungan dari semua ini, El."

"...."

Benedict kembali bertanya, "Keluarga kalian tahu tentang rencana sinting kalian?"

Marvella menggeleng dan ia memandang wajah Benedict yang tidak ditemuinya selama empat tahun lebih itu. "Hmm, mungkin aku sedang belajar sesuatu disini."

"Kenapa lo melakukannya kalau akhirnya lo akan pisah? It's literally crazy for me."

"Nadine Faye, Ben. Wanita itu membuat Saka berubah dan gue hanya ingin Saka tahu bahwa tanpa Nadine hidupnya tetap berlanjut. No matter what happen juga matahari akan tetap terbit dan terbenam. Lagipula aku perlu memerbaiki beberapa hal disini seperti - "

Benedict tahu bagaimana Marvella begitu memercayainya, jadi ia membiarkan wanita itu untuk terus berbicara. " – meluruskan kesalahpahaman kami yang sampai sekarang tidak pernah kami bahas karena kami takut kehilangan lagi satu sama lain."

"Apa yang lo bicarakan sekarang adalah hari dimana lo dan Saka dulu bertengkar – maksud gue, bermusuhan?" tanya Benedict dengan penuh kehati-hatian.

" .... "

"Sampai kapan lo akan seperti ini, Marvella? Cukup lupakan Saka – first love is never complete and rarely works."

"This is will be my last effort, Ben. Aku cukup melakukannya untuk delapan bulan kedepan dan akan melihat hasilnya."

Benedict memandangnya tidak percaya. "Apa hari ini lo bertemu dengan gue hanya untuk membuat Saka – suami lo, cemburu?"

Marvella tidak bisa menahan tawanya. "Of course no."

"Kita tidak bertemu selama bertahun- tahun dan aku benar-benar ingin bertemu dengan kamu. Hari ini aku tidak berniat untuk membuat Saka cemburu – maybe someday if I need it."

Benedict mengangguk paham dan Marvella senang melihatnya. "Let me help you, tiga hari lagi adalah acara gue dan teman-teman gue. Lo akan datang bersama gue dengan sedikit perubahan."

"Hmm, rencana aku banyak juga kok, Ben. I mean – aku tidak ingin membuat kamu repot karena membantu aku."

"Tunggu - "

Marvella mendesah dan meminta untuk Benedict memahami keberatannya. "Ben, aku tidak yakin."

Benedict mengambil puding roti yang ia pesan sebelumnya. "Saka tidak suka dengan gue sejak dulu, El. Bukannya itu bagus? Gue akan menjadikan lo bintang di acara gue dan membuat Saka tahu kenapa dia harus melihat lo."

"He sees me now, Ben. Nothing to worry about."

Benedict membelalakkan matanya. "Kalian sudah tidur bersama?"

" ... "

Benedict tidak perlu mendengar jawabannya karena ia sudah melihat sendiri bagaimana ekspresi Marvella. "Wow."

"You're getting ridiculuous."

"Oh, tidak apa-apa. Gue juga ingin melihat – setelah sekian lama – bagaimana Saka memperlakukan lo."

Marvella memutar kedua bola matanya, "You've see us in party dan Saka memperlihatkannya dengan jelas didepan kamu, Ben."

"Masa?" tanya Ben dengan bercanda.

Benedict memajukan tubuhnya, "Let me see again, L. Bagi gue, yang Saka lakukan di pesta nenek lo hanya untuk menunjukkan ketidaksukaannya pada gue."

___

RécrireTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang