95 - Noventa Y Cinco

11.2K 672 54
                                        

Marvella masuk ke apartmennya sendiri sambil berusaha menenangkan emosinya yang sama sekali tidak berkurang sedikitpun sejak sepupunya bersikeras untuk menginap di rumah mantan suaminya. Satu jam yang lalu ia tidak berhasil membujuk Aria – keadaan menjadi lebih rumit saat sepupunya itu menangis dan Marvella terpaksa mengijinkan Aria untuk menginap di rumah Saka. Hanya semalam.

Raymond berjalan mengikutinya dari belakang. "Kalau kamu capek biar aku yang antar barang-barang Aria."

Marvella yang bersikeras untuk mengantar barang-barang Aria karena ia khawatir dengan keadaan sepupunya kemudian menggeleng karena ia tahu Raymond juga sama lelahnya. "I can do it. Hmm, tolong ambil peralatan mandi Aria di kamar mandi. Aria punya kulit yang sensitif – dia tidak bisa pakai sembarang sabun."

"Got it, Maam."

"Baju renang," gumam Marvella kepada dirinya sendiri setelah ia mengambil tas travelnya. Ia tidak tahu dan tidak percaya sepenuhnya dengan apa yang dikatakan Saka sebelumnya, pelampung angsa besar di kolam renang rumahnya, namun membawakan Aria baju renang mungkin keputusan yang bagus.

Tiga menit kemudian Raymond keluar dari kamar mandi dengan tas kecil di tangannya. Ia menatap Marvella yang belum mengganti gaunnya. "Marvella, exactly kamu tidak perlu buru-buru. Aku buatkan teh untuk kita berdua, ya? Sementara aku di dapur, kamu bisa mengganti gaun kamu."

"Aku khawatir dengan Aria."

"Aku juga – tapi aku yakin Saka bisa mengurusnya dengan baik. He promised us."

"And I can't believe him," gumam Marvella dengan pelan.

Pening di kepalanya semakin menjadi-jadi dan Marvella tahu ia sepertinya membutuhkan aspirin. "Right, gaunku. Thanks, Ray."

Marvella memasukkan tas kecil berisi peralatan mandi Aria dengan cepat, ia kemudian masuk ke kamarnya untuk berganti baju. Apartmennya hanya memiliki dua kamar – jauh berbeda dengan apartmen adiknya yang memang besar karena Atha menginginkan ruang kerja yang luas – ia membuka lemari miliknya dan mengganti baju dengan kaus putih dan celana kulot cokelat. Marvella juga membersihkan make up-nya dengan cepat dan mencepol rambut bergelombangnya. Disaat itulah matanya menemukan boneka beruang cokelat yang bersandar di kepala ranjang, Aria yang selama satu minggu ini tidur bersamanya di kamar ini selalu memeluk benda itu ketika tidur dan lagi-lagi Marvella menghela napas panjang. Ia harus membawa boneka itu juga.

Marvella keluar dari kamarnya setelah meminum satu tablet aspirin dan membawa boneka beruang Aria. Raymond yang sudah melepas jasnya sudah duduk di salah satu kursi yang ada di meja makan kecil, ia sudah selesai membuat dua cangkir teh untuk Marvella dan untuk dirinya sendiri.

Marvella meletakkan boneka itu diatas tas travel sebelum ia bergabung dengan Raymond, "Bonekanya Aria – I don't know she can sleep or not without this."

"Kamu lelah? Aku bisa mengantar barang-barangnya."

..... "Aku antar sendiri, Ray."

Raymond tahu sejak kepulangan mereka dari pesta Giguere satu jam yang lalu, Marvella terlihat tidak tenang – wanita itu berkali-kali menghela napas panjang dan ia menyadari setiap perubahan ekspresinya. "Is there anything you want to share with me? I'll listen to you."

"Sometimes we have a hard day. Apa aku yang mengajak kamu malam ini membuat kamu kurang nyaman?"

Marvella menatap mata biru Raymond, mata pria itu terlihat teduh. "Tidak ada."

Raymond mengambil tangan Marvella dan mengangguk, "Okay."

Marvella membiarkan jemari Raymond bertautan dengan jari-jarinya. "Kamu tidak bertanya lagi? Kamu tidak penasaran?"

RécrireCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang