25 - Veinticinco

16.4K 1K 19
                                        

Empat belas tahun yang lalu,

Marvella menunduk mempelajari buku catatan Matematikanya. Ia harus memahami dua materi pelajaran yang akan diujikan di test bulanan yang diadakan hari ini. Marvella mengenakan sebuah headset putih untuk meredam suara riuh kelasnya. Saat ia sedang membaca catatannya, tiba - tiba ia merasakan kehadiran seseorang. Marvella tidak mengubah ekspresi wajahnya saat menyadari Askari Reyes Saatatya Tanuwidjaja kini duduk di samping bangkunya.

"Mana buku kamu, Marvella?" tanya lelaki itu.

Marvella tidak menanggapinya. Saka kemudian berkata, "Marvella, aku tahu kalau kamu tidak sedang mendengarkan musik. Mana buku kamu?"

Marvella mengerutkan keningnya. Ia kemudian melepas headset yang terpasang di kedua telinganya, "Ada apa?"

"Hari ini test matematika, kan? Boleh aku pinjam buku kamu?"

"Wow," kata Marvella kemudian kembali ke catatannya. "Jadi, laki - laki paling cerdas dan menyebalkan di sekolah ini baru saja berkata ingin meminjam catatanku."

Saka menatapnya tidak percaya, "Menyebalkan kata kamu?"

"Arrogant and annoying, dan juga banyak fans perempuan kamu disini. Aku menjadi semakin terganggu saat mereka mulai - "

Saka memotongnya, "Bukan aku yang meminta mereka, remember that."

Marvella mengibaskan tangannya, tidak berminat untuk berdebat dengan Saka. "Tidak ada gunanya aku bertengkar dengan kamu. Pergi sana."

"I need your book. Boleh aku pinjam?"

Marvella menatapnya dengan tatapan heran. "You are ridiculuous, Askari. You don't need to study."

"Tentu saja aku butuh belajar."

"I never see you study. Maybe, you don't need to study. Keluarga kamu menjadi berita utama tahun ini, keluarga terkaya di Asia. Semua orang di sekolah ini menyukai - maksud aku, mendambakan kamu. Your privilege is showing."

"Marvella, supaya aku menjadi pintar aku juga harus belajar. Kan kamu tidak perlu melihatku belajar."

"Ya, ya, ya," kata Marvella dengan acuh. Ia kembali menekuni bukunya dan mengabaikan kehadiran lelaki itu disampingnya.

"Marvella. Marvella. Marvella. Ella. Ella. El. El. L. L."

Marvella menatap Saka kesal, "Shut up, what are you doing?"

Saka tersenyum, "L, aku sedang memilih nama panggilan kamu. I found that, L."

"Pergi, Saka. Kamu sangat menganggu aku."

"Biar aku yang memanggil kamu L."

"Kamu gila," desis Marvella, namun pria itu tetap bisa mendengarnya. Ia ingin pergi dari kelasnya, namun ketika ia berdiri, Saka memegang lengannya.

"L, biarkan hanya aku yang boleh memanggil kamu seperti itu."

___

Saka tetap terfokus pada ponselnya, sekarang ia menghindari Marvella yang masih di meja makan. Ia memilih untuk duduk di sofa dan mengecek beberapa hal di ponselnya. Ia berdecak pelan saat Kanianatha mengirimnya pesan. Saka tidak tahu harus melakukan apa ketika Kanianatha memintanya untuk menemani Marvella di apartmennya, sampai dia kembali.

"Hari ini purnama, tapi mendung."

Saka melirik ke arah Marvella yang tengah memangku sebuah bungkusan dan kini sudah duduk di sampingnya. Wanita itu sudah mengganti setelan kerjanya dengan sebuah kaus dan boxer hitam. "Selesai makan mie sekarang popcorn, L?"

"Daripada melihat kamu yang terus - terusan mengabaikan aku."

"Kalau Atha sudah sampai, aku akan pulang."

Alis Marvella terangkat. Ia kini memutar badannya agar menghadap Saka yang menonton televisi. "Kenapa tidak sekarang?"

"Atha meminta aku untuk menemani kamu."

"Cross the line, Sak. Batas seperti ini," Marvella menarik lurus garis di antaranya dan Saka. "Let's upgrade our relationship."

"El, pernikahan yang tidak dilandasi cinta - "

"Aku cinta kamu,"

"Tetapi aku tidak. Pernikahan tidak ada dalam rencanaku dalam beberapa tahun kedepan dan aku harap kamu mengerti, El. Aku sedang tidak dalam keadaan yang memungkinkan, kamu harus tahu kalau aku sekarang sedang menyelesaikan beberapa hal yang disebabkan oleh Nadine - citra perusahaan sedang dipertaruhkan, L."

Marvella meraih lengan Saka saat pria itu beranjak berdiri dan membuat Saka kembali terduduk di sofa. "Tetapi sekarang Nadine sudah bersama De - "

"Siapa yang bersama dia sekarang bukan urusanku dan aku juga tidak peduli, L."

Saka menghela napas panjang, ia tidak pernah menduga situasi seperti ini dengan Marvella. "Dan kamu juga akan rugi seandainya kita menikah."

Marvella tersenyum. "Aku akan memastikan kalau diriku sendiri juga diuntungkan dalam hal ini, Saka. Well, satu bulan ini aku berusaha bernegoisasi dengan orang tuaku karena suatu hal, Saka. Kalau aku tidak menikah, skenario terburuknya adalah aku harus keluar dari perusahaan kamu."

"Dan ada untungnya untuk aku?"

"Aku adalah kandidat paling potensial untuk menggantikan Ibu Karissa setelah dia naik jabatan menjadi direktur. Juga mengubah semua rumor negatif kamu karena status kita yang akan berubah. Orang - orang tidak akan tahu siapa istri kamu karena kita sepakat untuk menyembunyikan hubungan ini, Saka."

Suara televisi yang menyala mengisi keheningan mereka untuk sesaat. "Mengerti maksudnya, Sak? We just need to hold on; to survive."

"Tetapi tidak dengan cara ini, L."

Saka kemudian berdiri, lebih baik ia menunggu Atha di kamar tamu daripada berbicara dengan Marvella. Tidak ada darinya maupun Marvella yang mengalah, perdebatan ini tidak akan selesai. Marvella yang melihat Saka berdiri kemudian membiarkannya pergi, ia akan memberi waktu pria itu untuk berpikir kembali. "Saka, you need to know. Never ignore a person who loves and cares about you."

Kata - kata dari Marvella membuatnya membalikkan badan dan menatapnya. "Kamu peduli ke aku?" tanya Saka skeptis.

"Peduli dan mencintai kamu."

Askari Tanuwidjaja tertawa kecil dan melambaikan tangannya karena ia sudah tidak peduli dengan pembicaraan mereka. "Masih disebut mencintai kalau kamu sendiri yang mengusulkan pernikahan kontrak seperti ini hanya agar tidak keluar dari perusahaanku? Cinta dengan obsesi jauh berbeda, Marvella."

___

RécrireCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang