49 - Cuarenta Y Nueve

10.4K 817 23
                                        

Saka keluar dari lift dan segera pergi ke lobby yang tidak terlalu ramai – tidak sulit baginya untuk menemukan Darek yang duduk menunggu di kursi yang paling dekat dengan pintu keluar. "Bagaimana perjalanan kamu Darek?"

"Aman, Sir. Anda mau berangkat sekarang?" tanya Darek setelah menjabat tangan atasannya. Saka mengangguk dan berjalan lebih dulu untuk keluar dari rumah sakit itu. SGC – Singapore General Center merupakan bangunan rumah sakit dengan empat belas lantai,  menjadikannya rumah sakit terbesar di Singapura dan masuk ke lima daftar rumah sakit dengan pelayanan terbaik se-Asia. Saka memasukkan tangannya ke saku celana, membutuhkan waktu sekitar lima belas menit ke restoran yang sudah dipesan oleh Darek. Tapi Saka ingin menikmati waktu sejenaknya dengan tidak berjalan terburu-buru, ia tidak terlihat lelah walaupun beberapa jam yang lalu telah menunggu Marvella menjalani medical check-up. Darek berkali-kali mendapati bibir Saka melengkung tanpa ia ketahui alasannya – ia tidak mengajak berbasa-basi dengan Saka karena ia tahu pria itu terlihat asyik dengan pikirannya sendiri.

Setelah sampai di restoran dan pelayan menunjukkan ruang VVIP, Darek mengeluarkan isi tasnya dan Ipad. Michel telah mengirimnya file melalui email mengenai data dari startup Pillar Pte Ltd. "Nilai perusahaannya bahkan tidak lebih dari - "

"Sudah kamu hubungi Terry Saputra?" potong Saka.

"Done, Sir." Darek lalu menyerahkan Ipadnya, terdapat sebuah file yang berisi analisis singkat tentang penggabungan perusahaan seperti yang dikatakan Saka tadi pagi.

"Apa Terry meminta satu atau beberapa hal, Darek?"

"Tidak, Sir."

Saka mengangguk kecil mendengarnya, "Dan sekarang kamu mendapatkan kabarnya?"

Untuk beberapa alasan yang ia ketahui Darek enggan menjelaskan apa yang diinginkan Saka. Ia merasa apa yang dilakukannya dengan Saka terlihat sangat aneh – semua permintaan Saka selalu aneh baginya. "I have this one, Sir. Nadine Kalya Faye dengan Denya Saputra belum menikah – but they are in the same country."

"Bagaimana jika selain Terry – Denya juga diberikan saham kelas A?" tanya Saka kepada dirinya sendiri dan itu membuat Darek tidak dapat menahan keterkejutannya. Pillar Pte Ltd. yang sedang mereka bicarakan adalah perusahaan properti online yang mengusulkan portal persewaan dan daftar penjualan serta aplikasi seluler di lima negara Asia Tenggara. Pillar didirikan lima belas tahun lalu oleh Terry Saputra - imigran Indonesia yang sekarang menetap di Singapura. Firma digital itu masih belum terlalu besar dan hanya mempunyai dua mitra yang terdaftar – salah satunya adalah pendiri, Terry Saputra.

"Perusahaan yang saya minta di London?"

"Anda serius, Sir? Bulan depan ketika sudah ditandangani, nilainya sangat besar – seratus lima puluh juta dollar."

"Darek." Saka memanggil nama sekretarisnya, "Apa perusahaannya sudah selesai?"

"Apa Anda ingin menentukan sendiri namanya atau benar-benar lepas tangan, Sir?" tanya Darek. Ia mendengar sendiri dari Michel tiga bulan lagi Terry akan digantikan oleh satu-satunya anak lelaki yang ia punya, Denya Saputra.

"Just to make sure there are no traces linked to me. Paham Darek?"

Saka meminum kopi keduanya di hari itu. "Sebarkan berita dengan cepat, jika televisi yang kamu kontak tidak cukup, bayar  beberapa website berita ekonomi menayangkan ini di halaman utama mereka tentang saham ini. Buat perang harga palsu antar anak perusahaan, Darek."

Darek mencatat permintaan atasannya dengan cepat. "Berapa saham yang didapat Denya ketika dia menggantikan Terry?"

"Tiga puluh tujuh persen koma nol empat."

RécrireCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang