39 - Treinta Y Nueve

10.1K 821 34
                                        

"Saka tidak turun, Mbak?" tanya Marvella saat menyadari sudah dua puluh menit ia menunggu Saka turun dari kamarnya. Marvella sudah mengenakan setelan kerjanya, ia menunggu suaminya untuk sarapan bersama – rutinitas yang berusaha ia bentuk selama lima hari terakhir sejak hari pertama ia pindah kesini. Ia dan Saka tidak sering bertemu – pria itu lebih sering pulang larut malam karena pekerjaannya dan walaupun Marvella menunggunya hingga pulang, keduanya hanya berbasa-basi tidak lebih dari lima menit dan kembali ke kamar masing-masing.

Latisha yang sedang ada di dapur kemudian menghampiri meja makan dimana Marvella menunggu. "Tuan sudah pergi tadi pagi, Non."

Marvella tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya, pria itu sudah berangkat ke kantor tanpa ia tahu. Marvella kembali bertanya, "Oh ya? Kemana?"

"Katanya ke bandara, Non. Jam dua pagi tadi sekretarisnya kesini, lalu Tuan berangkat." Jawaban dari Latisha membuat Marvella mengerutkan keningnya.

Latisha tidak menyadari perubahan ekspresi Marvella dan melanjutkan kata-katanya, "Non, Tuan tidak bilang? Bukannya Non menunggu Tuan pulang tadi malam?"

Marvella mengalihkan pembicaraan mereka, "Mbak, sarapan masak apa?"

"Non, maunya apa?" tanya balik Latisha.

"Omelet telur, bisa mbak?"

"Bisa, Non."

"Buatkan dua porsi ya, Mbak. Saya bawa ke kantor untuk bekal nanti."

Latisha kemudian kembali ke dapur, meninggalkan Marvella yang meminum tehnya di meja. Ia teringat pembicaraannya dengan Saka semalam.

Semalam ia menunggu suaminya, Askari Tanuwidjaja yang baru pulang jam sebelas malam. Saka masuk ke rumahnya setelah Latisha membukakan pintunya. Ia baru pulang semalam ini, investor dari Hongkong datang ke kantornya tadi siang untuk membicarakan proyek tambang yang sedang Saka kerjakan.

Saka berniat langsung pergi ke kamarnya, namun saat ia melihat Marvella yang duduk di sofa ruang tamu mengundang perhatiannya. Wanita itu memangku laptop sambil menempelkan ponsel ke telinga kirinya.

"Sedang apa kamu?" tanya Saka dengan heran

"Menunggu kamu pulang," jawab Marvella dengan singkat tanpa menurunkan ponselnya. Saka menatap Marvella yang hanya mengenakan kaus dan boxer hitam yang tidak menutupi pahanya. Saka berdeham canggung saat melihat tubuh bawah wanita itu – ia kemudian mengalihkan pandangan dari paha Marvella.

Marvella adalah adiknya.

Marvella kembali berbicara kepada lawan bicaranya, " – thanks, Adrian."

Adrian? " ... "

Marvella mengangguk dan tertawa kecil. " – oke. Padang. Besok."

Marvella adalah adiknya.

Saka mengerutkan keningnya untuk kedua kali. Tidak pernah seumur hidupnya kepulangannya ditunggu oleh seseorang sejak ia tinggal sendiri di rumah ini. Bahkan Nadine tidak pernah menunggu kepulangannya bila ia pulang larut malam. Ia kemudian mendekati Marvella setelah wanita itu mematikan panggilannya.

Marvella adalah adiknya.

Saka memejamkan matanya untuk sejenak karena rasa pusing yang ia rasakan semakin menjadi-jadi. "Ini sudah malam, seharusnya kamu tidur."

"Yang bilang ini siang siapa?" tanya Marvella bermaksud bercanda kepada Saka. Ia meletakkan ponselnya ke samping. "Aku menunggu suami yang belum pulang."

"Aku sudah sampai dirumah. Go to your bedroom, L."

"Kamu mau teh? Latisha sudah kembali ke kamarnya, aku akan membuatkan kamu teh." Tanpa menunggu persetujuan dari Saka, Marvella kemudian berjalan ringan ke arah dapur. Ia meletakkan asal laptop dan ponselnya di ruang tamu. Sementara itu Saka menyerah, mungkin segelas teh bisa mengurangi sakit kepalanya.

Lima menit diisi dengan keheningan, Marvella akhirnya meletakkan segelas teh didepan Saka yang sedang duduk di kursi tinggi kitchen island.

Setelah tegukan pertama, Marvella menumpukan kepalanya dengan satu tangan, "Kenapa pulang malam?"

"Investor dari Hongkong datang dan aku harus meeting dengan mereka."

"Kamu sudah makan?" tanya Marvella sambil bersiap berdiri.

Saka menahan gerakan wanita itu. Sekali lagi, matanya menatap sekilas kepada kaus kebesaran yang Marvella pakai. Ia bisa melihat dengan jelas tulang belikat wanita itu.

Marvella adalah adiknya.

"Aku sudah makan ketika kamu mengingatkan aku jam tujuh tadi, Marvella. Kenapa kamu menungguku pulang? Itu tidak perlu, L."

Marvella yang memang empat hari terakhir tidur larut malam karena menunggu Saka menaikkan bahunya dengan santai. "Aku memang sedang membiasakan kamu dengan kehadiranku. Kamu sudah satu frekuensi dengan aku, Saka. Kenapa kamu repot-repot menghindarinya?"

"Satu frekuensi?" ulang Saka karena ia tidak mengerti maksud Marvella.

"We use the same language of love, memang kamu tidak menyadarinya?"

Keheningan mengisi keduanya selama beberapa detik. "Sedang bercanda ya, L? Aku tidak paham maksud kamu."

Saka menandaskan minumannya dan memindahkan bekas cangkir yang ia pakai ke tempat cuci piring. "Sudah malam, akan lebih baik kalau kamu tidur. Night, L."

Yang Marvella lihat kemudian adalah Saka akhirnya pergi, kembali melanjutkan langkahnya kembali ke kamar. Sementara itu, ia terdiam di tempatnya.

Latisha membuyarkan lamunannya, "Omeletnya, Non."

"Terima kasih, Mbak."

Marvella memakan sarapannya dalam diam. Ia kemudian mengambil ponselnya. Setelah menimang beberapa saat, ia memutuskan mengirimkan pesan.

Marvella Tanuwidjaja : Kamu dimana?

____

RécrireCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang