Darek Iram memberikan sebuah map berwarna cokelat kepada atasannya saat mobil yang mereka berdua tumpangi mulai melaju meninggalkan gedung Chata Corporation. "Laporan yang terbaru, Sir."
Saka mengambil map itu meskipun ia enggan, "Saya sudah tidak membutuhkannya lagi, Darek. I want this is be the last they give to me."
Darek yang tahu sejak awal bagaimana Saka mencari jalan paling rumit untuk mencari kabar terbaru tentang mantan tunangannya terkejut dengan kata-kata Saka. "Tidak lagi? Dan investasi anda?"
"Biarkan saja – enam bulan dari sekarang buat skenario untuk menjadikan perusahaan di London menjadi anak perusahaan LHI Ltd. Besides there is no my name in that company, you can do that."
Darek menulis cepat di Ipad-nya. "Itu berarti membuat Pillar menjadi semakin besar, Sir."
"Dan membuat keluarga Saputra menjadi lebih makmur. Got my point, Darek?"
Darek terdiam dan memikirkan betapa anehnya rencana Saka. Pertama, empat bulan lalu Askari Tanuwidjaja berinvestasi kepada firma digital milik Terry Saputra yang memiliki progress tidak terlalu menjanjikan, firma yang tidak terlalu berpotensial. Kedua, Askari Tanuwidjaja juga memberikan semua saham kelas A kepada Denya Antoine Saputra yang sudah menggantikan ayahnya untuk memimpin Pillar sejak dua bulan lalu.
"Sejauh ini, Sir?" tanya Darek setelah ia berusaha memahami semua maksud dari Saka. "Anda membuat mereka semakin kaya."
"Ya, sejauh ini Darek."
Saka hanya memandangi map yang sudah ditangannya. Ini sudah laporan ke tiga belas sejak tiga bulan lalu tentang kabar terbaru dari Nadine Faye, tetapi ia sudah tidak memiliki minat untuk membuka dan membaca isi map itu. Ia mengembalikan mapnya kepada Darek, "Daripada ini, hubungi pengacara untuk membawa kontrak pernikahan untuk saya lihat lagi."
"Anda akan bercerai, Sir?"
"Mulut kamu, Darek." Saka menatap kesal ke arah sekretarisnya, "Saya butuh tim pengacara untuk meninjau ulang pasal-pasalnya karena kami tidak akan bercerai – never."
Such a good news for today, pikir Darek saat ia membuka jadwal Saka dan mencari waktu kosong. "Lusa? Anda memiliki dua jam sebelum makan siang, Sir."
"Right, lusa. Terima kasih, Darek." Bersamaan dengan anggukan puas Saka, mobil yang mereka tumpangi berhenti tepat didepan restoran Elips. Siang ini sebelum melakukan rapat dengan board member, Saka berencana makan siang di Elips dan membawa pulang kue khas mereka, moonchild cake, untuk ia bawa pulang karena ia tahu Marvella sangat menyukainya.
Darek memutari mobil untuk berjalan disamping Saka yang sudah keluar dari mobil. "Tadi sudah pesan moonchild?"
Moonchild cake yang seringkali sold out bahkan saat makan siang, ia sudah memesan lima kotak sesuai permintaan Saka. "Sudah, Sir."
Saka masuk melewati pintu Elips dan berhenti melangkah karena ia menyadari sesuatu yang tidak biasa, "Kenapa hanya sedikit pengunjungnya? It's lunch time."
Saka terus mengedarkan pandangannya untuk mencari meja yang kosong meski seorang pegawai sudah didepan mereka untuk menunjukkan meja yang masih kosong. Tatapannya berhenti di area pojok dimana hanya ada seorang wanita duduk sendirian disana.
"Meja itu kosong?" tanya Saka sambil menunjuk ke arah yang ia maksud.
"Sudah dipesan, Pak."
Saka masih tidak menyerah, "Depannya?"
"Sudah dipesan juga. Ada meja kosong di sebelah kanan, akan saya -"
"Tapi hanya dia sendiri disana," kata Saka dan disaat yang bersamaan wanita itu menoleh ke arah pintu dimana Saka berdiri. "Berapa meja yang dipesan oleh wanita itu?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Récrire
ChickLitRécrire | Galaxy's Series #2 ©2019 Grenatalie. Seluruh hak cipta.
