Empat belas tahun yang lalu,
"Jadi seperti yang tertera di slide didepan, penyederhanaan data bisa dilakukan dengan metode matriks - "
"L."
Saka menunggu beberapa saat untuk melihat reaksi Marvella. Ia kemudian kembali berbisik untuk memanggil perempuan yang kini duduk di sebelahnya sejak mereka tergabung di kelas yang sama tahun ini, "L"
Marvella mengacuhkan panggilan Saka. Ia tetap fokus menyimak penjelasan guru yang sedang menerangkan materi terbaru tentang matriks. "L, kamu tidak mau menoleh saat aku panggil ya? Fine, aku akan terus mengganggu kamu."
"Sak," panggil Marvella dengan berbisik karena guru kelas ini sedang menjelaskan materi Matematika. Ia memajukan tubuhnya dan sedikit merunduk untuk berbisik kepada Saka, "Kamu tidak punya kerjaan, ya?"
Saka kemudian ikut memajukan tubuhnya untuk menyejajarkan posisinya dengan Marvella. "Banyak, salah satunya adalah mengganggu kamu."
"Dasar pengangguran."
Saka tidak mendengarnya karena suara Marvella yang terlalu lirih. Ia mendekatkan kepalanya dan membuat jarak diantara mereka semakin dekat, "L, aku tidak mendengarnya. Apa yang baru saja kamu bilang?"
"Dasar pengangguran. Kamu. Memang siapa lagi yang aku bicarakan?"
Alis Saka naik sebelah, ia menegakkan punggungnya dan tangannya bergerak menuju ke atas meja milik Marvella. Saka mengambil buku tulis perempuan itu dan meletakkan didepan meja miliknya sendiri sambil menaruh tangan kanannya diatas buku itu agar Marvella tidak bisa mengambil. "Pengangguran? Aku bosan menulis seperti anak baik, penurut dan diam saat mendengar guru – seperti kamu, that's all."
Marvella berpura-pura tidak terjadi apa-apa ketika dua orang siswi didepannya menoleh ke belakang. Ia memutar bolpoin yang ada ditangannya sembari melihat ke depan kelas dimana slide masih terpampang. Ia menunggu hingga dua orang siswi itu kembali memerhatikan depan kelas. "Dasar sombong, minggu depan sudah masuk pekan ujian tengah semester dan kamu tidak memerhatikan guru?"
"Aku sudah memerhatikan gurunya dan aku bosan."
"Kalau bosan tidak perlu menganggu aku, Sak. Kembalikan bukuku."
Saka kemudian berkata kepada Marvella, "Pinjam, aku mau melihat catatan kamu."
"Kamu baru saja bilang kalau sedang bosan menulis. Ridiculuous, aku tidak peduli kalau kamu membutuhkan catatan matematika. Give me back my book," jawab Marvella kepada Saka.
Marvella berusaha merebut bukunya dari Saka. Ia membuka bukunya untuk kembali mencatat materi, namun jari manisnya tergores oleh ujung kertas dari bukunya. "Aduh," desisnya perlahan saat merasakan perih di ujung jarinya.
Saka yang melihat semua itu kemudian mengambil sapu tangan dari sakunya, ia memegang tangan Marvella kemudian menyeka ujung jarinya, "Dasar ceroboh."
Marvella menarik kembali tangannya, namun Saka menahan gerakannya. Marvella kemudian berkata, "Aku tidak memerlukan bantuan kamu."
"Diam, L. Atau Pak Arga akan memarahi kita karena berisik di kelasnya."
Untuk sesaat Marvella melupakan fakta jarinya yang kini dipegang Saka. "Dari tadi yang ramai kamu, Saka. Kenapa sekarang aku juga kamu bawa-bawa?"
Marvella kembali menarik tangannya sekuat yang ia bisa dengan suara seminim mungkin agar tidak menyebabkan keributan di kelas. Tetapi tangan Saka yang menahan jarinya tidak bergeming sedikitpun. Marvella menatap jari manisnya sendiri, "Aku tidak mau berterima kasih ke kamu karena kamu yang membuat jariku berdarah."
Saka menatap Marvella sekilas dan membiarkan perempuan itu terus melihat wajahnya. "Sama –sama."
___
Askari menatap croissant panggang dan espresso yang ada di depan mejanya. Ia meletakkan ponsel di sebelahnya setelah tiga kali berusaha menelpon ponsel Atha, namun sama sekali tidak ada tanda-tanda panggilan itu akan diangkat. Pagi ini, ia memilih turun dari kamarnya dan sarapan di hotel yang sedang ia tempati sambil berusaha menghubungi Atha. Malam setelah Atha meneleponnya ia hanya bisa tidur selama dua jam – bahkan setelah ia membuat teh untuk dirinya sendiri sambil berharap ia bisa tidur. Untuk beberapa alasan ia tahu kalau adiknya – Kanianatha adalah wanita yang sibuk, tetapi harapan yang muncul sejak jam tiga pagi hingga sekarang baginya tetap sama – ia berharap Atha mengangkat telepon darinya.
Darek yang baru kembali setelah mengambil beberapa buffet untuk sarapannya sendiri menghampiri meja Saka dan duduk di kursi yang ada didepan Saka. Ia menggeser layar Ipad-nya dan membacakan jadwal Askari Tanuwidjaja. "Sir, jadwal Anda hari ini adalah meeting dengan lima belas investor La Parissianne Hotel dengan agenda review kinerja kuartal ketiga tahun ini dan rencana pemindahan headquarter La Parissiane Paris ke London. Kemudian Perdana Menteri Prancis mengundang Anda untuk makan malam bersama di kediamannya."
"Lalu?"
Dareka Iram mengangkat pandangannya dari Ipad yang sedang ia pegang, "Ya, Sir?"
"Apa jadwalku hari ini hanya itu?" tanya Saka sambil mengancingkan manset kemejanya dan menatap orang yang berlalu-lalang di sekitar mereka. Darek mengangguk tanpa meletakkan Ipadnya.
"Kalau begitu, Darek. Bisa kamu batalkan semua jadwalku untuk hari ini hingga empat hari kedepan?"
Darek refleks mengangkat kepalanya. "Sir, maksud Anda -"
"Aku akan melakukan teleconference dengan para investor untuk membahas dua agenda itu, Darek. Bisa kamu mengurus persiapannya di pesawat?"
"Sir, apa Anda yakin melakukan teleconference? Ada apa?" tanya Darek karena ia tidak mengerti.
"Darek, aku meminta kamu untuk menghubungi bandara dan menyiapkan pesawatku secepat yang dibisa. Apa sebelum makan siang nanti kita bisa berangkat?"
Darek Iram kemudian berpikir tentang ucapan atasannya yang terdengar aneh baginya. "Sir, saya tidak mengerti. Anda akan pergi kemana?"
"Pulang ke Indonesia."
Darek Iram kemudian teringat dengan orang-orang dan tamu-tamu yang harus ditemui Saka selama jadwalnya di Prancis. "Anda belum menyelesaikan jadwal Anda dan -"
"Siapapun orang yang membuat janji dengan aku selama empat hari ke depan tolong kamu atur lagi."
Darek Iram kemudian mencatat segala permintaan Saka yang terdengar tidak masuk akal baginya. Saka kemudian kembali berkata, "Kemudian segera cari tiket pesawat Jakarta-Singapura."
"Singapura, Sir? Pesawat bisa melakukan transit di Singapura jika Anda menginginkannya."
"Aku perlu ke Jakarta terlebih dahulu, Darek. Correct me if I wrong, aku mempunyai saham di Guardian, bukan?"
Darek kembali mencari sesuatu di Ipad-nya. "Saham milik Anda sendiri atau digabung dengan saham ibu Anda, Sir?"
Darek akan menyebutkan besaran saham milik Saka saat pria itu sudah kembali mangatakan sesuatu, "Segera hubungi mereka untuk mempersiapkan Marvella – mengurus kepindahannya. Dan cari rujukan - minta Singapore Guardian Center untuk segera menyiapkan dokter mereka. Rujukan Marvella harus ke SGC. Paham maksud saya, Darek? Setidaknya usahakan rujukan atau berita Marvella yang ada di Guardian tidak didengar oleh Cassandra Tanuwidjaja."
"Sir, boleh saya tahu ada apa dengan istri Anda?" tanya Darek karena ia ingin mengetahui apa yang terjadi dengan istri atasannya itu.
"Marvella sakit dan aku harus membawanya ke Singapura."
___
KAMU SEDANG MEMBACA
Récrire
Chick-LitRécrire | Galaxy's Series #2 ©2019 Grenatalie. Seluruh hak cipta.
