"Kalau aku kembali tidur, apa kita akan berangkat?" tanya Marvella sambil menatap Saka yang sedang berdiri di dekat sofa kamarnya, pria itu terlihat menggulung lengan kemeja putihnya.
Saka menjawab setelah ia menutup laptopnya. "Kita tetap akan berangkat kecuali ada cuaca yang buruk."
Marvella terdiam untuk beberapa saat. Ia ingin bertanya tentang apa yang dilakukan pria itu saat ia mendengar sebuah nama disebut olehnya, Terry Saputra. Tetapi saat ia melihat Saka kembali mendekati ranjang yang ia tempati membuat ia melupakan pertanyaannya.
"Oh, kalau begitu lebih baik aku berpura pura tidur, kan?" tanya Marvella sambil memejamkan matanya. Ia kembali membukanya saat merasakan sentuhan di pipinya.
Saka menatapnya datar, "Look, kamu adalah pembohong yang payah, L."
Saka menambahkan, "Walaupun kamu tidur, kita tetap akan pergi. Situasinya sudah berbeda dengan yang tadi, aku menunggu kamu bangun untuk menjelaskan situasinya. But now, it's different. Kamu sudah bangun dan sudah tahu apa yang akan kita lakukan."
Saka kemudian mengambil sebuah kursi roda yang sebelumnya sudah disiapkan dan diletakkan di pojok ruangan, ia membawanya mendekat ke ranjang dimana Marvella berbaring.
"I don't need that," kata Marvella dengan tegas.
"Yes, you need."
Marvella menggelengkan kepala tanda ia tak setuju, "Aku butuh jalan- jalan, Sir. Kakiku butuh menapak kepada bumi. Yes, my feet want to kiss the earth. Understand?"
Marvella kemudian menyibakkan selimutnya dan mencoba berdiri, tiga jam yang lalu sebelum sarapan ia berjalan-jalan disekitar kamarnya untuk mengusir kebosanan. Namun saat kakinya menapak ke lantai tiba-tiba matanya berkunang-kunang dan membuat kakinya terasa lemah dan tidak bisa menahan tubuhnya. Marvella bahkan mengira akan jatuh ke lantai karena rasa pusing yang tiba-tiba menderanya, namun tangan Saka lebih dulu menahan pinggangnya. Saka menggerutu melihat Marvella, "Wanita keras kepala, kamu butuh kursi roda."
Marvella berdecak pelan setelah ia mencium aroma chypre tubuh Saka, "Tadi hanya kebetulan." Ia kemudian menenggelamkan wajahnya ke dada Saka untuk menghirup aroma pria itu yang membuatnya lapar.
"Jangan terlalu menempel Marvella. Apa yang kamu lakukan?" tanya Saka sambil menaikkan alisnya.
"Bau kamu enak ya, Saka. Bagaimana kalau kita berciuman disini? I miss you so much," kata Marvella sambil terus menarik napasnya dengan panjang untuk menikmati bau yang kini menjadi kesukaannya.
"Tidak."
Marvella kemudian menaikkan kepalanya untuk mengecup sudut bibir Saka, "Are you good in French?"
"Selon toi?" (1)
"Not the language, Saka. Kiss." Marvella tersenyum geli saat ia menemukan mata Saka yang bertemu juga dengan matanya.
"Apa yang sedang kamu bicarakan?" Saka menggelengkan kepalanya dan ia mendorong bahu wanita itu dengan pelan untuk membuat Marvella duduk di kursinya. "Hanya ada dua pilihan, duduk di kursi roda atau aku yang menggendong kamu."
Tetapi sebelum Marvella sempat menjawab kata-katanya Saka lebih dulu berkata, "Tapi itu tidak mungkin, L. Karena kamu akan duduk di kursi roda ini, suka atau tidak. Repot kalau menggendong kamu."
Setelah memindahkan Marvella ke kursi roda, Saka kemudian mendorong kursi roda itu keluar kamar. Mereka berdua - bersama seorang suster dan dokter di belakang mereka, harus naik lift yang akan membawa mereka ke lantai teratas gedung ini. Menuju rooftop dan helikopter sudah menunggu mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
Récrire
ChickLitRécrire | Galaxy's Series #2 ©2019 Grenatalie. Seluruh hak cipta.
