Saka hanya berdeham dengan suara rendah saat Marvella bergerak menggeliat dari posisi tidurnya dan terlihat berpindah posisi. Saka yang duduk menghadap kepala ranjang kemudian berdiri dari duduknya, mengikuti arah tubuh Marvella yang awalnya menghadap ke kanan menjadi ke kiri. Saka yang mengenggam tangan Marvella kemudian mengikuti arah wanita itu dengan penuh kehatian-hatian. Yang ada di pikirannya hanya satu, ia tidak boleh membuat gerakan yang sangat tiba-tiba dan membuat Marvella terbangun, walaupun ia tahu kemungkinan Marvella bangun dari tidurnya sangat mustahil – yang Saka lakukan hanyalah ia ingin melakukannya selembut mungkin.
Pertama, ia belum mengganti kemeja putihnya sejak sore tadi dan kemejanya sangat kusut – Saka bahkan bisa melihat bercak kopi yang terkena lengannya dua jam yang lalu. Noda itu tidak terlihat sebelumnya karena ia menggulung lengan kemejanya, tetapi sekarang itu terlihat lagi. Samar, Saka bisa mencium baru keringatnya sendiri bercampur dengan kopi.
Kedua, ia sudah menghabiskan waktu selama tiga puluh menit lebih untuk duduk di tepi ranjang Marvella dan menemani wanita itu tidur – dengan mengenggam tangannya.
Ketiga, dengan posisi Marvella yang berubah seperti ini – Saka menyerah. Ia kemudian melepas tautan tangannya dan memutari ranjang dan berbaring di samping Marvella – sisi kiri ranjang itu. Saka melepas sepatunya, melipat tangannya satu ke atas kepala dan memiringkan badannya untuk menghadap ke Marvella hanya karena ia ingin kembali mengenggam tangannya dengan tangan Marvella.
Keempat, wajah cantik Marvella tetap sama. Saka menghabiskan waktu tiga puluh menit sebelumnya hanya untuk memandangi wajah Marvella yang tertidur. Ia sudah mematikan lampu kamar itu dan menggantinya dengan menyalakan lampu tidur. Wajah Marvella terlihat lebih berbeda baginya karena kondisi ruangan yang remang-remang dan Saka rela menghabiskan waktu sedikit hanya untuk memandangi Marvella Kathleen Tjahjadi – sahabatnya yang sekarang menjadi istri sahnya.
Kelima, disamping memandangi wajah Marvella ia menggunakan waktunya untuk mengistirahatkan pikirannya. Hari ini ia memiliki banyak rapat dengan beragam orang dan ia lelah setelah memaksakan dirinya sendiri bekerja lebih keras selama tiga bulan terakhir hanya untuk membuat dirinya sendiri lupa tentang masalah terbesarnya. Ia sudah mengubah jam kerjanya dan tidur lebih sedikit – menambah program kerja dan memaksakan diri menambah asupan kafein untuk tetap terjaga. Darek selalu disampingnya jika ia diluar rumah, karena Darek tahu berapa banyak resikonya saat meninggalkan Saka sendirian – atasannya menjadi gila kerja. Darek bahkan sudah membuat janji untuk check-up ke rumah sakit lebih cepat dari jadwalnya.
Keenam, Saka sangat sadar dan sangat jelas mendengar saat lamunannya tiba-tiba terpecah karena satu hal. Marvella memecahkan keheningan di ruangan itu dengan menggigau dan mengatakan kalau dirinya lapar. Saka tidak dapat menahan dirinya sendiri untuk tidak tersenyum melihat Marvella. Ia menyelipkan tangannya dibawah kepala Marvella agar wanita itu kini berbantal lengannya, dan itu membuat Saka semakin tidak dapat menahan dirinya lagi – ia merengkuh pinggang Marvella semakin mendekat kepadanya. Saka menyingkirkan beberapa helai rambut Marvell yang jatuh menutupi wajah wanita itu dan dengan penuh kehatian-hatian ia mencium dahi Marvella untuk waktu yang cukup lama.
Ketujuh, Saka memundurkan wajahnya untuk kembali melihat wajah Marvella yang tertidur. Ia telah kembali kepada cinta pertamanya.
Kedelapan, Saka memejamkan matanya setelah ia menghirup napas panjang. Bau cokelat yang khas dari kamar Marvella seolah-olah telah membuat saraf tubuhnya melemah dan ia butuh – tidur. Hanya satu hal, tidur. Saka kembali mencari tangan Marvella yang terbebas dan mengenggamnya erat.
Entah berapa lama Saka tertidur karena ia hanya ingin memejamkan matanya sejenak, yang ia tahu adalah posisi tubuh keduanya yang masih sama. Saka kemudian melihat jam yang ada di atas nakas samping ranjang dan ia melihat angka dua terpampang jelas di tengah-tengah remangnya kamar. Saka mengumpulkan kesadarannya, ia harus tidur di kamarnya sendiri setelah menepati janji kepada Marvella.
Saka melepaskan gengamannya dan menarik tangan kanannya dengan pelan agar Marvella tidak terganggu dengan gerakannya. Ia berdiri dengan pelan. Saka menutup pintu kamar Marvella dari luar sambil membawa sepatunya dan berjalan bertelanjang kaki sepanjang perjalanan ke kamar dirinya sendiri – ia sangat lelah. Dua menit kemudian Saka sampai di kamarnya sendiri. Kemeja putihnya terlihat sangat jelek dan Saka tidak ingat ia sudah melemparkan kemeja itu di keranjang cuci atau tempat sampah, ia mengganti kemejanya dengan piyama tidur. Bayangan tangan Marvella yang ia genggam selama tiga jam terakhir tiba-tiba muncul di benaknya dan Saka tersenyum tipis. Ia terus tersenyum sampai pandangannya jatuh ke laptop yang ada di atas mejanya.
Kemudian ia bertanya ke dirinya sendiri.
Kesembilan, Saka menelan ludahnya – ia berniat langsung tidur karena besok jadwalnya lebih padat lagi, namun Saka tidak dapat menahan dirinya untuk menyalakan laptop itu dan duduk termangu didepannya. Ia menunggu hingga laptop itu siap digunakan dan langsung membuka laman pencarian – emailnya. Saka mengusap wajahnya kasar, seharusnya ia bisa langsung tidur untuk memulihkan tenaganya. Tapi apa yang ia lakukan sekarang?
Kesepuluh, seolah sudah menjadi kebiasaannya, Saka kembali ke rutinitas malam yang biasanya. Ia membuka draf email dan mendapati empat puluh tujuh email dengan tujuan yang sama namun tidak pernah dikirimkan. Draf untuk Nadine, mantan tunangannya.
Dini hari itu – disaat Saka kembali ke cinta pertamanya, ia juga masih kembali ke mimpi buruknya.
___
Pagi saat Marvella membuka kedua matanya, ia butuh beberapa waktu untuk mengumpulkan kesadarannya. Setelah beberapa saat, ia ingat semalam Saka menuntunnya ke kamarnya sendiri – dan ia meminta pria itu untuk menemaninya tidur. Apa Saka benar-benar tidur disini?
Marvella tidak menemukan kehadiran Saka disampingnya tapi ia menemukan bau yang menurutnya tidak seharusnya ada di kamar ini, bau chypre bercampur aroma cokelat kamarnya. Kenapa ada bau itu di kamar ini?
Marvella segera bersiap-siap secepat yang ia bisa dan turun ke bawah. Selesai mandi dan berganti pakaian, ia segera pergi ke kamar Saka yang berjarak jauh dengan kamarnya. Marvella baru melewati empat kamar saat dari lantai dua ia melihat sosok Saka yang bersiap keluar dari rumah dengan setelan kerja khas pria itu.
"Saka!"
Marvella setengah berlari karena pria itu tetap berjalan seolah tidak mendengarnya. Ia menuruni tangga dengan cepat untuk menyusul Saka yang sudah didepan pintu rumah dan menarik tangan pria itu, "Wait, kamu tidak sarapan?"
"Aku harus berangkat, Marvella." Saka hanya menatapnya datar.
Marvella menunjukkan jam tangan yang ada di pergelangan tangan kanannya, "It's six – kamu sudah sarapan? Kenapa harus berangkat sepagi ini?"
"Aku sibuk. Darek bisa menyiapkan sarapanku nanti. Bye, L."
Marvella menarik ujung jas Saka. "Sibuk sampai melebihi jadwal Presiden Negara ya, Sak?"
"Aku memang Presiden Eksekutif Chata dan ini memang jadwalku, L."
Marvella menaikkan alisnya saat mendengar nada dingin dari Saka. "Tadi malam kamu yang memindahkan aku? It's like you take my hand and - "
"Lain kali tidak perlu menunggu aku, it's useless. Kalau kamu kira aku akan tersentuh dengan apa yang kamu lakukan tadi malam – tidak sama sekali, Marvella. Aku memindahkan kamu hanya karena kamu adalah tanggung jawabku sampai sembilan bulan kedepan dan aku hanya melakukan tanggung jawabku sebagai sahabat, teman, dan kakak kamu."
" ... "
Saka tetap melanjutkannya, "Tadi malam aku sangat repot saat memindahkan kamu – just waste my time dan kamu seharusnya tahukan kalau aku tidak suka membuang-buang waktu? Kemarin saat kamu sakit – kamu bilang sendiri untuk lebih baik tidak memberitahu aku karena kamu tidak ingin aku melihat kamu sebagai wanita yang lemah dan tidak mandiri, Marvella. Kenapa sekarang kamu tidak melakukan hal yang sama?"
Sesuatu yang ada di dada Marvella terasa sesak dan wanita itu memilih untuk menahannya. "Lalu tadi malam kamu tidur dengan aku tidak? Karena aku ingat, someone held my hand till i slept last night, Saka. Tadi pagi juga - "
"Mungkin kamu yang bermimpi – mengenggam tangan kamu adalah hal paling sia-sia menurutku. Bye, Marvella."
____
KAMU SEDANG MEMBACA
Récrire
ChickLitRécrire | Galaxy's Series #2 ©2019 Grenatalie. Seluruh hak cipta.
