29 - Veintinueve

13.6K 956 28
                                        

Askari Reyes Saatatya Tanuwidjaja baru saja menerima lamarannya.

Marvella menatap mata Saka, warna bola mata pria itu hitam dan Marvella senang jika ia bisa menatapnya untuk waktu yang cukup lama. Ia kemudian mengamati rambutnya, pipinya, kaus yang dikenakan, dan terakhir – kembali lagi ke matanya. Marvella menurunkan pandangannya dan memandangi lantai untuk beberapa saat karena ia menyadari bahwa ia kehilangan sesuatu disini.

"Something is missing but I don't know what it is," gumam Marvella. Ia menaikkan salah satu kakinya ke atas sofa dan bergeser mendekat ke arah Saka yang masih terdiam.

"Apa karena aku sangat mengenal kamu ya, Sak? I don't know what happen now, tetapi sekarang hatiku sendiri bimbang setelah mendengar jawabannya sendiri dari kamu."

"...."

"Aku menginginkan pernikahan ini karena aku mencintai kamu, Saka. Tetapi kamu – apa yang kamu inginkan?"

Saka menahan napasnya. "I need the status – marital status, seperti yang kamu perkirakan. Kamu benar, Marvella. I'm not okay -"

" - Orang – orang melihatku menangani rumor ini semua dengan kepala dingin – sebenarnya tidak. Aku sekarang sangat lelah, kali ini bagi aku pura-pura terlihat tenang itu melelahkan."

"Jadi ketika kamu lelah, kamu menerima lamaranku?" tanya Marvella kepada Saka.

"Aku membutuhkannya sama seperti kamu yang membutuhkan pernikahan ini. Marvella, aku menghormati keputusan kamu untuk tidak menjawab pertanyaanku terkait masalahmu dengan orang tua kamu. Tetapi sama seperti aku yang menerima lamaran ini, aku juga ingin memastikan hal – hal yang menguntungkanku."

"Termasuk jika kita benar-benar melakukannya, lebih baik kita menikah di luar negeri."

Suara televisi yang sudah disetel kecil oleh Marvella sebelumnya mengisi keheningan diantara mereka berdua. "Kenapa?"

"Karena aku akan memastikan tidak ada seorangpun yang bisa menghalangi perceraian kita nantinya."

Marvella mengerutkan keningnya untuk sesaat. Semua kata-kata yang ia dengar malam ini terasa membingungkan baginya. Sementara itu Saka kembali berkata, "L, pernikahan yang sedang aku bicarakan adalah pernikahan dengan batas waktu. Satu tahun."

"Hanya satu tahun?" Marvella menggelengkan kepalanya. " That's not what I want, Saka. Pernikahan yang aku bicarakan adalah pernikahan yang sebenarnya."

"Pernikahan untuk membantu aku, kan? That is your point, L."

Marvella mengulurkan tangan ke belakang tubuhnya dan meraba – raba untuk mencari remote televisi. Setelah menemukan benda yang ia cari, ia segera mematikan televisi yang menyala itu. Marvella tidak menyangkal apa yang dikatakan pria didepannya, tetapi ia merasa pembicaraan ini terlalu berat baginya. "Apa kamu membenci aku? Kalau aku yang melamar kamu dan melangkahi garis kita membuat kamu benci – aku bisa mencari jalan lain, just say it."

Saka meraih tangan Marvella dan menariknya untuk kembali menghadap kepadanya. "It will be safe when we are not in this relationship, L. Kamu benar – aku dan kamu membutuhkan ikatan ini untuk urusan kita masing-masing. Tetapi aku masih tetap akan memastikan kalau aku bukan pasangan kamu untuk selamanya, Marvella."

"Kenapa?" tanya Marvella sambil meraih satu-satunya cangkir berisi teh buatannya yang sudah dingin di atas meja.

"Wanita sebaik kamu seharusnya tidak bersama aku," kata Saka dan mendengar hal itu Marvella tersedak dengan minumannya sendiri.

" ... "

Saka mengangkat alisnya saat Marvella terlihat berusaha menahan tawa. "Love need commitment and we can learn each other, Saka. Kata-kata kamu baru saja membuatku ingin tertawa."

"Maksudku, satu tahun yang kamu berikan sangat singkat. Kita tidak tahu berapa lama proses setiap orang, bukan? Terlebih kamu – jadi menurutku, kenapa kita tidak menjalani hubungan ini hingga waktu yang cukup lama sampai kamu bisa menerima kehadiran orang lain dan memaafkan Nadine? Satu tahun adalah waktu yang singkat, Saka."

"Saka, aku cukup percaya diri saat mengatakan ini karena aku tahu kalau aku bisa membuat kamu mencintai aku. I will be your ideal woman."

"Konyol."

"Buatku tidak."

"Your point is heal me, and my point is make our marriage be a good news."

"Let's get the deal in here," lanjut Saka.

Marvella menggeser badannya menjauhi Saka. Ia tidak ingin menjawab pertanyaan pria itu – tidak untuk saat ini. "I'm gonna hit the sack."

"Kalau kamu menyetujui tawaran ini, pengacara aku akan menemui kamu besok."

Tangan Marvella yang sedang membentuk pola abstrak di atas sofa berhenti. "Untuk?"

"Membicarakan perjanjian-perjanjian pernikahan yang semestinya. Kita bisa melakukan hal ini dengan cepat, mereka akan membicarakan aset-aset kamu dan juga mengurus perceraian yang sah di pengadilan. Bagiku, sebelum atau bahkan setelah menikah nanti – aku tidak bisa berhenti menganggap kamu sebagai adikku."

"But, the situation is different now. Kita berdua akan menikah dan kamu bisa berhenti menganggap aku sebagai adik kamu," Marvella menyipitkan matanya karena Saka membuatnya kesal. "Atha bisa menjadi adik kamu, tapi aku tidak."

"Love is a choice, a choice to commit. Jadi ketika kamu memutuskan untuk menerima lamaran ini dan menikah dengan aku, kita harus berkomitmen hingga urusan kita selesai, Askari. Kamu tidak bisa menganggap aku sebagai adik kamu lagi sejak lamaran kemarin hingga seterusnya – I'm crossing the line now." Marvella mengakhiri kata-katanya dengan tegas. Ia mengumpulkan keberanian yang ia punya – satu-satunya hal yang ia tahu adalah ia memejamkan mata saat menempelkan bibirnya dengan bibir Saka.

___

RécrireCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang