Darek membuka pintu ruangan atasannya dan hanya berdiri di depan pintu tanpa berniat masuk ke dalam. Saka mendongakkan kepalanya sekilas untuk melihat siapa yang datang. "Ada lagi, Darek? Daripada kamu terus menerus kesini kamu bisa menyampaikan sesuatu lewat telepon."
Darek tidak menjawab pertanyaan Saka untuk beberapa saat karena ia berpikir bagaimana merangkai kata-kata, ia menatap atasannya yang masih menandatangani dokumen di atas mejanya. "Istri Anda sedang menunggu Anda, Sir."
Istri. Saka melirik jam yang ada di pergelangan tangannya dan ia menyadari bahwa sekarang adalah jam pulang karyawan. "Dimana?"
Darek menjawabnya, "Uhm – di depan, Sir. Bersama Michel, maksud saya di meja sekretaris."
Saka berhenti membaca dokumennya dan ia memejamkan matanya untuk sesaat. Jam enam nanti ia dan Marvella harus datang ke rumah Iliona untuk makan malam bersama sebelum perayaan ulang tahun neneknya yang diadakan besok. "Bukannya kamu sudah memberitahu dia untuk bertemu di rumah Iliona, bukan?"
"Ponselnya mati, Sir. Saya juga baru tahu setelah beliau sedang bersama Michel di meja - "
Saka menghela napas panjang dan meregangkan tangannya. Lima hari terakhir berangkat lebih pagi dan pulang lebih malam membuat tenaganya terkuras. "Kenapa dia bersama Michel bukannya ke ruangan saya, Darek?"
"Saya perlu mengonfirmasinya kepada Anda dulu, Sir. As you said before, Anda tidak ingin ada kontak untuk sementara waktu," kata Darek dan itu semakin membuat Saka frustasi karena dia tidak menemukan kesempatan untuk menghindar lagi.
Sementara itu Marvella menghentikan pembicaraannya dengan Michel saat pria muda itu berdiri dan saat itulah Marvella menyadari kehadiran Saka yang berjalan menuju ke arahnya. Keduanya dipisahkan oleh meja sekretaris dan Marvella tersenyum melihat Saka yang datang menghampirinya.
"Hi, Saka." Marvella tersenyum kepada suaminya dengan santai.
Saka berhenti dan menumpukan sebelah lengannya ke atas meja sambil bertanya kepada Marvella. "Apa yang sedang kamu lakukan disini?"
"Aku sedang menunggu kamu pulang."
Saka menatap datar Marvella yang menurutnya sedang mengganggu jam kerjanya, ia sudah menggulung lengan kemeja hingga siku. "Dengan cara seperti ini?"
"Memangnya ada cara lain? Kan kamu yang menghindari aku beberapa hari ini, Saka." Marvella tidak melepaskan senyumannya, "Michel membuatku cukup nyaman disini."
Saka menatap Michel dengan tajam. "Saya baru akan memberi tahu Bapak, tetapi - "
"Berbicara dengan Michel lebih nyaman daripada aku harus menunggu diruangan kamu. Apa kamu sudah selesai?" potong Marvella.
Saka mengangkat alisnya dan kini mengalihkan pandangannya kepada Marvella. "Tidak – belum maksudku. Aku rasa Darek memberi tahu kamu kalau kita berdua bisa bertemu disana."
"Ponsel aku mati," jawab Marvella dengan polos. "Dan juga kita harus berangkat bersama – yang sedang kita bicarakan adalah rumah nenek. Bukan pertemuan rutin saudara, nenek ingin kita berbicara dengannya setelah makan malam – let's talk about what we'll talk to Grams."
Askari berdeham pelan saat tidak ada hal yang bisa membuat Marvella pergi terlebih dahulu. Ia kemudian meminta wanita itu pergi bersamanya. "Marvella, ke ruanganku."
Saka membuka pintu ruangannya yang berwarna hitam dan menahannya agar Marvella masuk terlebih dahulu. Ruangan kerjanya didominasi warna putih dan abu-abu, dua buah sofa panjang diletakkan di tengah ruangan dan rak-rak berisi buku dan dokumen ditata sepanjang dinding kanan. Pemandangan langit Jakarta yang ditutupi mendung terlihat bersama gedung-gedung pencakar langit lainnya karena jendela besar yang ada diruangan itu. Marvella tidak sempat untuk mengagumi ruang kerja Saka yang modern dan mewah, ia kembali berbicara ketika keduanya sudah berada di dalam ruangan Saka. "Aku akan menunggu kamu selesai jadi kita bisa berangkat bersama."
KAMU SEDANG MEMBACA
Récrire
ChickLitRécrire | Galaxy's Series #2 ©2019 Grenatalie. Seluruh hak cipta.
