48 - Cuarenta Y Ocho

10.1K 858 70
                                        

Saka masuk ke kamar dimana Marvella dirawat dan hal pertama yang ia lakukan adalah mengerutkan keningnya. Marvella tertawa begitu keras - itu sangat jelas karena wanita itu masih tertawa bahkan setelah ia meletakkan jasnya di atas sofa.

"Hi," sapa Marvella saat tahu Saka sudah kembali ke kamar - kemudian ia kembali melihat ke ponselnya.

Saka hanya bergumam pendek untuk membalas sapaan Marvella, wanita itu kemudian memunggunginya setelah memekik gemas karena suatu hal yang tidak diketahuinya. Saka lalu duduk di sofa dan meregangkan kakinya - ia baru saja bertemu dengan dokter yang bertanggung jawab atas hasil pemeriksaan Marvella dan mendapat informasi bahwa wanita itu bisa pulang besok siang. Saka kemudian melihat ke arah ranjang, Marvella tidak memakai selimut dan tidak terganggu walaupun tangan kirinya memakai infus, baju bagian belakangnya tersingkap sehingga memperlihatkan area pinggangnya.

Saka berdeham pelan sebelum berdiri dari sofa karena ia berniat memerbaiki baju wanita itu, tetapi saat ia berhenti dibelakang Marvella ia melihat nama kontak yang sedang bertukar pesan dengan Marvella. Saka mengerutkan keningnya saat ia membaca nama orang yang sama, Adrian. Dentingan ponsel Marvella berkali-kali berbunyi karena mereka dengan cepat saling membalas pesan. Rahang Saka mengeras, ia kemudian menarik selimut untuk menutupi pinggang Marvella dan kembali mengerutkan kening untuk kedua kalinya saat Marvella tidak bereaksi apa-apa bahkan setelah ia membenarkan letak bajunya.

Adrian - again - who? "Marvella, baju kamu yang belakang terbuka."

Marvella hanya menoleh sejenak ke belakang sebelum ia kembali ke ponselnya. "Kan sudah kamu tutupi selimut. Terima kasih ya."

Marvella adalah adiknya.

Saka menoleh ke meja kecil di samping sofa, tiga puluh menit yang lalu ia memesan makanan untuk diantar ke kamar dan makanan itu sudah datang sementara ia pergi menemui dokter tadi. Seharusnya yang ia lakukan sekarang adalah memakannya karena ia bisa melihat sekilas embun yang terbentuk di luar bungkus makanan itu karena panas makanan. Ia lapar dan belum mengisi perutnya sejak siang tadi - seharusnya ia segera makan.

Ia lapar. Marvella adalah adiknya.

Saka menggeleng frustasi. Akan lebih baik jika ia menunda makanannya dan masuk ke kamar mandi - ia harus mandi air dingin secepat yang ia bisa.

Dua puluh menit kemudian ia menyelesaikan mandinya, Marvella masih tetap di posisi yang sama dengan ponselnya. Marvella bertanya kepada Saka saat ia mengeringkan rambutnya dengan handuk. "Kamu tidak lapar? Kenapa makanannya tidak dimakan?"

"Aku lapar," jawab Saka dengan singkat. Marvella hanya mengangkat alisnya - ia tidak berpikir kalau Saka menginginkan sesuatu yang lain, bukan makanan. Hanya membutuhkan waktu tiga menit untuk Saka mengganti kaus polonya dan lima belas menit untuk menghabiskan makanannya. Berada di ruang yang sama dengan Marvella adalah kemungkinan yang harus ia hindari. Marvella adalah adiknya.

"Besok siang kita pulang, Marvella."

"Hmm." Marvella hanya membalas Saka dengan gumamannya.

Saka membereskan peralatan makannya di atas nampan dan menggesernya ke tengah meja. "Kamu tidak tidur? It's eight."

"Nanti - aku belum mengantuk." Marvella melirik Saka sekilas sebelum pria itu mengambil botol air minum. "Kenapa malam-malam kamu mandi?"

Saka tersedak dengan minumannya sendiri. Ia mengambil tisu didepannya dengan cepat untuk menutupi batuknya dan mengeringkan meja yang terkena air. "Panas."

"AC ya? Maaf ya kurang dingin."

"It's fine." Saka mengangguk kecil.

"Mau kemana?" tanya Marvella saat ia melihat Saka mencari beberapa barangnya di atas meja.

RécrireCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang