27 - Veintisiete

14.4K 1K 19
                                        

Marvella berdiri di depan pintu kamar Saka yang tertutup, tangannya terangkat untuk mengetuk pintu itu meski awalnya ia ragu. Setelah dua menit menimbang, ia memantapkan hatinya untuk mengetuk pintu kamar Saka.

"Ada apa?" tanya Saka ketika ia membuka pintu kamarnya- ia masih memakai setelan kerjanya karena hari ini ia tidak menginap di rumah orangtuanya. Alisnya terangkat naik mendapati Marvella memasang sebuah senyuman.

"Aku boleh masuk?"

Saka tidak mengangguk, tetapi ia membiarkan pintu itu terbuka dan tidak berkata apa – apa saat Marvella berjalan masuk melewatinya. Ia kemudian kembali ke tepi ranjang setelah menyalakan laptopnya. Sementara itu Marvella berjalan ke sisi pojok kanan dimana dua rak buku besar berdiri disana. Ini bukan pertama kali baginya masuk ke ruangan ini, namun satu hal yang selalu ia datangi pertama kali adalah rak buku di kamar Saka. Rak buku itu penuh dengan komik koleksi Saka dan buku – buku fiksi, Saka

"Buku ini aku pinjam ya," pintanya setelah menarik salah satu buku non-fiksi bersampul hijau. Ia tetap mengulurkan kearah Saka walau ia tahu pria itu tidak akan melihatnya, "Saka aku mau pinjam yang ini."

"Terserah."

Marvella memasukkan buku itu ke tas tangan yang ia bawa. Ia kemudian berdiri disamping Saka yang tengah memangku laptop di atas sofa yang terletak di depan ranjang. "Antar aku kedepan, Saka. Sopirku sudah datang."

"Tidak mau, aku sibuk."

Marvella menarik tangan Saka untuk membuat pria itu berdiri. "El, aku sibuk."

"Hanya sebentar, Saka." Marvella menatap laptop yang tengah dipangku Saka. "You're doing nothing, kan? Jangan menghindari aku dong, Saka."

Saka tidak menjawab Marvella, sejak ia menyalakan laptop yang dilakukannya hanya membuka folder – folder film daripada bersikap canggung dengan Marvella. Wanita itu hampir membuat keributan karena kata – katanya sendiri di makan malam tadi, itulah kenapa Saka sedikit kesal kepada Marvella dan menghindarinya dengan pergi ke kamar.

Askari Tanuwidjaja menutup laptopnya, ia berjalan lebih dulu keluar dari kamar dan membuat Marvella mengikutinya dari belakang. Ia memasukkan tangannya ke dalam saku celananya untuk menciptakan jarak dengan Marvella, walau itu tidak begitu berhasil karena Marvella menyamakan langkahnya dan berjalan disampingnya dengan begitu santai.

"Why she leave me?" gumam Saka saat keduanya berada di foyer, hanya ada mereka berdua di tempat itu. Ia menghentikan langkahnya dan itu membuat Marvella ikut berhenti.

"Nadine?" Marvella cukup terkejut saat Saka tiba – tiba menyinggung Nadine, pria itu tidak pernah membahas mantan tunangannya kecuali Marvella sendiri yang menyinggungnya.

"Sisi mana lagi dari aku yang kurang sampai Nadine meninggalkan rencana – rencana kami? El, it hurts me."

"Aku tidak tahu," Marvella menggelengkan kepalanya. "Tetapi itu merupakan haknya ketika ia memilih pilihan yang bisa membuatnya bahagia, Saka."

"Apa yang kalian berdua bicarakan sebelum dia memutuskan untuk pergi?"

"Dia takut."

Marvella menambahkan, "Takut kamu kecewa karena perbuatannya, dia pergi agar tidak membebani kamu."

"Tetapi aku lebih kecewa sekarang, L."

"Kecewa dan kehilangan adalah hal yang manusiawi, Saka. Nothing is perfect in this world – ketika sesuatu datang itu bukan berarti sesuatu itu akan abadi. Maybe there will be a time when that 'something' will go."

Marvella menepuk bahu Saka untuk menguatkan pria itu sebisanya. "Jadi ketika aku melamar kamu, aku sangat ingin kamu bahagia, Saka."

"Why we talked about that again?"

"Karena aku masih berpikir untuk membuat kamu menerima lamaranku, Saka."

Saka kemudian mendekatkan tubuhnya dengan Marvella karena ia benar – benar serius. "El, pernikahan yang selalu kamu bicarakan akhir – akhir tidak semudah itu. Kenapa kamu selalu bersikeras?"

"Karena kita berdua sama – sama membutuhkannya, Saka. Lagipula aku benar – benar mencintai kamu, is that wrong if I propose to you?"

"Cara yang kita lakukan mungkin tidak bijak, tetapi ini adalah cara termudah daripada aku harus keluar dari perusahaanmu. Kita berteman, kan? Teman selalu saling menolong, Saka. Sama seperti aku yang akan mendapatkan keuntungan, aku akan memastikan kamu memiliki keuntungan juga."

"Cinta yang kamu maksud mungkin adalah obsesi, Marvella. Obsession is unhealthy," ucap Saka kepada Marvella. Ia kemudian melanjutkan langkahnya.

Marvella berjalan lebih cepat untuk menyusul Saka sampai teras rumah. Ia memegang lengan pria yang ada didepannya untuk membuat Saka mendengar kata – katanya. "You're to scared to fall in love again, Saka. Try it with me. Karena kamu adalah temanku – kakakku, aku selalu berharap agar kamu bertemu dengan seseorang yang begitu mencintai kamu, sama seperti aku yang mencintai kamu selama ini."

"Karena selama ini – karena luka yang tercipta oleh Nadine, you forget how well you should be treated."

Sopir Marvella merupakan pria berusia empat puluh tahun lebih, keluar dari sisi pengemudi dan membukakan pintu belakang mobil untuk Marvella setelah melihat majikannya keluar dari rumah. Marvella yang menyadari kehadiran sopirnya sadar bahwa waktu yang bisa ia habiskan dengan Saka untuk hari ini akan segera berakhir. "Dan aku bosan hanya menjadi adik kamu, Saka. Aku baru menyadari satu hal selama ini, kamu yang menciptakan zona ini – adik kakak – dan itu bukan berarti aku bisa nyaman dalam zona ini, bukan?"

Ia kemudian sedikit berjinjit untuk mencium ringan sudut bibir Saka. "Aku tidak ingin menyesal kesekian kalinya sejak kesalahpahaman kita, Saka. Aku mencintai kamu – malam ini, biar aku yang menyeberang batas antara kita. Kalau Nadine sekarang tidak ada di kehidupan kamu, biar aku yang menggantikannya."

Marvella kemudian mundur, ia menatap Saka dengan hangat. Ia berbalik memunggunginya dan segera berjalan untuk masuk ke dalam mobil. Sementara itu, Saka terus menatap punggung Marvella dalam diam. Ia mengerutkan keningnya saat Marvella menurunkan jendela mobil belakang. "The best part of my day is talking to you. Terima kasih, Saka."

Marvella melambaikan tangannya kepada pria itu sebelum ia benar – benar menutup jendela mobilnya. "See you."

Saka tidak menunggu sampai mobil Marvella benar – benar keluar dari gerbang, ia memilih untuk segera masuk ke dalam. Namun saat ia masuk ke foyer, kehadiran adiknya yang bersandar di dinding membuatnya terkejut. "Kenapa tidak masuk ke dalam, Kat?"

Katrina lalu mendekati kakaknya. "Kakak benar – benar akan menikah dengan Marvella?"

"Siapa yang bilang aku dan dia akan menikah?" tanya Saka.

"Marvella menginginkannya dengan jelas, Kak."

Katrina kembali berkata, "Aku menentangnya."

Saka menggeleng untuk meluruskan apa yang dimaksud Marvella kepada adiknya. "Katrina, apa yang dikatakan Marvella di makan malam tadi adalah lelucon."

Katrina tidak berkata apa – apa. Ia tahu apa yang dialami oleh kakaknya karena Nadine, tetapi ia tetap mengatakan kekhawatirannya kepada Saka. "Marvella adalah teman kamu dan aku sangat menyukainya, Kak. Only she who understand your feeling without being told, and caring you so well in your bad day - "

" - Marvella adalah orang baik dan aku tidak mau kakak menyakitinya. That's all."

"Dan kenapa kamu menganggap seperti itu?" tanya Saka kepada Katrina.

"Kakak yang pura – pura tidak tahu atau memang bersikap tidak tahu kalau Marvella mempunyai perasaan ke Kak Saka?"

....

"Sudah dong salah pahamnya, Kak."

_____

RécrireCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang