BAB 62

598 55 13
                                        

Cerita ini dalam proses editing. Nikmati selagi belum banyak yang berubah. SETIAP CHAPTER DALAM CERITA WAJIB DI BACA URUT! Yang ketahuan, maaf, TERPAKSA AKU BLOCK.

Playlist "My Lieutenant General" on Spotify :

1. Le Cygne - Camille Saint Saens

[Semua playlist ada di spotify, cek bio di profil untuk akses link Playlist "My Lieutenant General" atau scan Spotify Codenya di atas. Aku tunggu support kalian ya !]

***

Upacara penghormatan itu berlangsung cukup singkat dengan hanya memberikan kesempatan pidato untuk Presiden saja. Sosok nomor satu dan pemimpin negara memberikan senyuman bangga dan tepukan pasti di atas bahu Xavier. Lalu melirik medali Xavier dengan senyuman bangga. Kilatan kamera terus mengiringi Xavier hingga menuruni anak tangga panggung. Ia menyambut uluran tangan yang memberi selamat, lalu berjalan tegap menghampiri teman-temannya.

"Selamat!" Clara berseru, tersenyum lebar dan segera memeluk Xavier membiarkan kamera memotret interaksi-interaksi mereka.

Kemudian John, Kyle, dan Will saling berebut siapa di antara mereka yang lebih dulu memeluk pahlawan baru Amerika tersebut. William tersenyum lebar dan menepuk keras punggungnya. "Selamat, Jenderal! Ah, karena kita sudah berada di Washington sekarang, aku menunggu undangan perayaan di rumahmu yang besar itu."

Xavier mendengus saat membalas pelukan Will. "Kau akan segera mendapatkan perayaan yang jauh lebih besar nanti."

Kalimat tersebut menjadikan Will terlihat bingung saat melepaskan pelukannya, tetapi dia tidak terlalu memikirkan banyak hal seperti Stephan Reed dan mengedikkan bahu acuh bergantian dengan Kyle dan John untuk memberikan pelukan yang sama eratnya. Reed dan Grace pun turut mengucapkan selamat.

Kemudian pandangan Xavier tertuju pada kotak berbahan beludru berwarna biru berisikan pita medali yang sedang di genggam oleh Reed. Ia menyunggingkan senyuman di satu sudut bibir sebelum berpandangan dengan Reed.

"Apa kau memberikan ini langsung kepada Athena?" Reed tersenyum miring. Lalu menyerahkan kehormatan ditangannya kepada Xavier.

Xavier membuka kotak beludur itu dengan senyuman dan anggukan pasti tanpa keraguan. Tanpa mengalihkan pandangan dari medali berwarna merah tersebut, ia menjawab, "tentu saja."

"Oke, baiklah... jadi kapan kita akan berpesta? Setelah melewati waktu yang panjang di tanah yang gersang, kasur yang tidak nyaman, makan makanan kaleng, sekarang aku juga ingin berpesta, minum alkohol sepuasnya dan makan makanan enak." Clara berceletuk, tawa dari Grace dan John meresponnya.

Teknis Analis kebanggan BAU itu tiba-tiba melirik jam tangannya dan melihat Xavier. "Athena sudah keluar dari rumah sakit dan sedang bersama Hailey. Dan kita juga sudah berkumpul di sini. Apa kau tidak ingin segera membuat perayaan sekarang juga, Pahlawan?" Grace bertanya dengan senyuman miring. Semua orang pun tersenyum lebar dengan wajah tak kalah sumringah. Mereka beralih melihat Xavier, menunggu jawaban darinya.

Namun, lelaki yang baru saja mendapatkan medali kehormatan sekaligus yang baru saja menyelesaikan penyematan gelar Pahlawan itu hanya menggeleng.

"Secepatnya." Xavier tersenyum samar. "Aku harus menemui Jenderal Besar. Sampai nanti."

Setelah itu, Xavier melambai singkat dan berlalu. Mereka yang menyaksikan kepergiannya menjatuhkan rahang dan tampak sulit untuk percaya. Keheningan yang canggung sekaligus mengesalkan pun terjadi. Will dan Clara yang paling menyukai pesta, tidak bisa menerima kenyataan yang Xavier berikan. Harapan mereka hancur seperti reruntuhan bangunan karena ledakan bom.

My Lieutenant GeneralTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang