BAB 59
Ivy menghentikan langkahnya. Lorong panjang itu hening, hanya terdengar gema samar suara langkah mereka yang memantul di dinding batu tua. Cahaya lilin dari obor yang tergantung di sepanjang lorong bergetar pelan, menimbulkan bayangan bergerak yang seolah mengintai mereka. Ivy menatap Elsie Cotton lekat-lekat, lalu berkata pelan namun tajam,
“Hubungan kalian… kau terlihat sangat dekat dengannya. Apa dia pacarmu?”
Wajah Elsie Cotton seketika memucat. Matanya melebar, lalu dengan cepat ia menggeleng keras, “Tidak! Mana mungkin aku pacaran dengannya. A—maksudku, kami hanya teman,” jawabnya terburu-buru, nadanya penuh kepanikan. Jemarinya bahkan tampak meremas ujung rok seragamnya, seolah ingin menyembunyikan kegugupan itu.
Melihat reaksi berlebihan itu, Ivy mengerutkan kening. Dalam hati ia berkata, Kenapa dia bereaksi seperti itu? Apa karena pria itu terlalu bodoh? Hhh… sudahlah, ini bukan urusanku. Raut wajah Ivy kembali datar, meski matanya masih menyimpan rasa penasaran.
Tak ingin suasana menjadi canggung, Ivy segera mengalihkan perhatian. Pandangannya menyapu lorong yang mereka lalui, dindingnya dipenuhi lukisan-lukisan tua yang tampak mengawasi dari dalam bingkai berdebu. Ada aroma kayu tua bercampur kelembapan batu, menambah kesan muram.
“Tempat apa ini? Kenapa ada begitu banyak lukisan?” tanya Ivy akhirnya, nadanya sedikit lembut.
Elsie Cotton tersenyum tipis, kali ini lebih tenang. “Ini adalah lorong sejarah. Kami memasang lukisan wajah para pahlawan Semidio di sini,” jelasnya sambil melangkah pelan di samping Ivy.
Ivy mengangguk singkat. Ia berjalan perlahan, matanya menelusuri satu per satu lukisan. Wajah-wajah para tokoh sejarah terpampang dengan sorot mata tegas, sebagian mulai memudar dimakan waktu. Namun, langkahnya terhenti ketika matanya menangkap sebuah lukisan berbeda: empat sosok berjubah hitam yang wajahnya buram tak terbaca.
“Lukisan siapa ini, Elsie? Kenapa aku tidak bisa melihatnya dengan jelas?” gumam Ivy. Ia bahkan sempat mengusap matanya, seolah khawatir penglihatannya bermasalah.
Elsie Cotton ikut menatap lukisan itu, lalu menjawab pelan, “Hm… itu adalah lukisan empat orang yang terlibat dalam pendirian negeri Semidio. Wajah mereka tidak jelas karena lukisannya terlalu tua. Meskipun sudah diperbaiki berkali-kali dengan sihir, tetap saja tidak bisa dipulihkan. Tapi kami percaya, salah satunya adalah Cedric Rodriguez.”
Nama itu membuat Ivy terdiam sejenak. Ia tahu persis siapa Cedric Rodriguez—pria asal Inggris yang pertama kali membuat goa Semidio. Bukan karena membenci anaknya yang lahir tak sempurna, melainkan karena rasa takut. Ia ingin melindungi anak itu dari dunia luar yang bisa merenggutnya.
Ivy menghela napas panjang, lalu kembali berjalan. Pandangannya kemudian berhenti pada satu lukisan lain. Sosok pria berwajah tegas, mata tajam, namun dengan sorot penuh rahasia. Hatinya berdegup lebih cepat. Wajah itu tidak asing.
“Itu…” Ivy berbisik nyaris tak terdengar. “Cagatay Cotton Ulusoy. Kenapa ada lukisannya di sini?”
Elsie Cotton menoleh cepat, mendengar gumaman itu. “Kau… mengenal ayahku, ya?” ucapnya tanpa ragu.
Ivy menatap Elsie Cotton dengan mata membelalak, tubuhnya sedikit menegang. “Ayah?!” serunya nyaris tak percaya. “A—ayah katamu?”
“Iya.” Elsie mengangguk pelan, ekspresinya lembut, meski terlihat bingung melihat reaksi Ivy yang berlebihan. “Cagatay Cotton Ulusoy adalah ayahku.”
Jantung Ivy berdetak kencang. Amarah bercampur kebingungan meletup di dadanya tanpa alasan yang jelas. Rahangnya mengeras, matanya menatap Elsie dengan penuh gejolak. Kenapa aku merasa sangat marah mendengar itu? pikirnya gusar. Apa yang sebenarnya terjadi denganku?
KAMU SEDANG MEMBACA
SEMIDIO
Romansa"Jauhi gelapnya malam... dan indahnya bulan, jika kau ingin terhindar dari kutukan." Itulah yang dikatakan seorang peramal padaku bertahun-tahun lalu. Saat itu aku hanya tertawa. Siapa yang percaya pada kutukan di zaman modern ini? Namun, semuanya b...
