Sungai

2.4K 166 0
                                        

---- [ ♥️ ] ----

Sekali lagi, gadis itu melihat seorang pemuda yang dengan khidmat menceburkan dirinya ke sungai. Si gadis mengernyit, apakah kematian sebegitu indah sampai pemuda itu sangat-sangat menginginkannya?

Ia berjalan menyusuri sungai, kalau-kalau pemuda tadi membutuhkan bantuan saat kehabisan napas dan berada di ambang kematian. Namun, sekali lagi matanya menangkap pemandangan miris. Pemuda dengan surai cokelat kopi itu berhasil selamat dari kematian.

Si gadis bernapas lega, tetapi mendesah berat di saat yang sama.

Ia tidak tahu mengapa pemuda itu sangat jauh dari jangkauannya. Pemuda yang sangat ia cintai ... pemuda bodoh yang telah mengambil hatinya sejak satu tahun yang lalu.

Sekali lagi, gadis itu hanya memandangi aliran Sungai Tsurumi dari atas jembatan yang dilalui banyak orang. Lensa emerald teduhnya menyendu saat mengetahui bahwa pemuda itu belum terlihat seharian ini.

Apa dia sakit?

"Sungainya indah, ya?" Suara lembut itu menyapanya untuk pertama kali. Ia menegang. Meski baru pertama kali disapa seperti itu, si gadis hafal betul siapa pemiliknya.

Ia pernah mendengar suara yang sama memerintahkan sebuah pasukan komando mafia untuk memberondong beberapa berandalan di gang yang gelap dan kotor. Atau sekadar menjahili anak buahnya dengan permintaan---perintah---yang aneh.

"Kamu sedang sendirian? Atau sedang menunggu seseorang?" Pemuda bersurai cokelat gelap, dengan mantel bisnis formal warna hitam juga setelan senada, kini menyandarkan punggung pada pembatas jembatan.

"Aku ...." Suaranya tercekat begitu memperhatikan si pemuda dari dekat. Satu iris cokelat kemerahan mengintip balik kelopak yang teduh. Senyuman hangat menghiasi bibir tipisnya.

Senyum itu nyaris palsu. Apa dia sedang memakai topeng?

Manik emerald si gadis kembali menelisik. Pasti ada banyak luka yang ia miliki. Buktinya, pemuda itu selalu membalut wajah dan tubuhnya dengan perban.

"Ah, pasti gadis secantik Nona sedang menunggu seseorang. Maaf kalau aku mengganggu." Si pemuda tersenyum ramah, hendak berlalu meninggalkannya sendiri saat tanpa sadar, ia sudah menahan jas hitam itu. Kini iris mereka saling bertemu.

"... akan lebih baik jika menunggu dengan seseorang untuk diajak bicara." Akhirnya setelah jeda keheningan yang cukup menyiksa, kalimat itu terucapkan.

'Kenapa kau bunuh diri?' Pertanyaan yang sejak tadi tertahan di ujung lidahnya membuat si gadis menghela napas. Dari dekat, entah bagaimana ia bisa merasakan derita yang ditanggung si pemuda.

Derita macam apa itu? Ia sendiri tidak mengerti. Pemuda itu terlalu rumit untuk dibaca.

Selanjutnya, detik-detik mereka bersama hanya diisi dengan keheningan yang menyiksa sampai ponsel pemuda itu bergetar. Panggilan kerja.

"Maaf, tapi aku harus pergi." Pemuda itu tersenyum canggung.

Si gadis hanya mengangguk sambil tersenyum canggung. Meminta maaf karena telah menahannya untuk hal yang tidak jelas.

"Tidak masalah," jawabnya. "Namaku Dazai Osamu. Lain kali, ayo kita makan tofu bersama."

---- [ ♥️ ] ----

_______________
Book ini isinya singkat aja. Paling gak sampe 500 kata.

BSD (Bungou Sengklek Dogs)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang