Pemuda itu berbaring di rajang sambil mendengarkan suara hujan yang bertabrakan dengan atap kontainer. Manik yang selalu terlihat bosan memandang ke sembarang arah sambil menghitung kapan terakhir kali dia keluar melewati pintu.
Itu pasti dua atau tiga hari yang lalu.
Kali ini, suara dering dan getar kecil dari ponsel yang entah kenapa tergeletak di atas kursi putar mengambil atensinya, sebelum benda itu mati kehilangan daya. Pasti orang yang menelepon sedang kesal, pikirnya sambil tersenyum masam.
Pemuda bersurai gelap itu menutup mata saat mendengar sesuatu memukul-mukul pintu besi. Itu terdengar hampir sama seperti suara hujan, tetapi ia segera sadar apa yang akan datang dan memilih untuk berpura-pura tidur.
"Kau harus membayar karena ini, sialan! Buka pintunya!"
Benar, kan? Bahaya datang. Padahal sejak awal pintu itu tidak terkunci ... dan kalau orang itu mau, dia bisa saja menghancurkan kediaman kecil si pemuda dengan satu serangan. Sungguh orang yang merepotkan.
"Bos memanggilmu dan sekarang menyuruhku untuk melihat apa kau masih hidup. Kalau masih bisa bicara jawab saja, dan ikut aku ke markas!" Suara orang di depan pintunya bahkan mengalahkan deru hujan. Sungguh suara yang menggangu.
"Sialan ... kenapa juga kau harus tinggal di tempat berbau busuk seperti ini?! Bos akan membelikanmu apartemen mewah jika kau memintanya, kan, Anak Kesayangan-san?" Orang yang menyindir pasti sedang tersenyum sinis. Sumpah, orang itu terlalu banyak mengeluh dan membuat telinga si pemilik kediaman gatal.
"CEPAT JAWAB AKU DAN KELUARLAH!"
Teriakan terakhir itu membuatnya menghela napas. Pening yang sempat menghilang kini kembali menyerang. Sungguh menyebalkan.
"Chuuya, kalau mau masuk, masuk saja. Kau, kan, bisa buka pintu sendiri?" sahut pemuda itu dengan nada seperti dia baru saja menelan cacing.
"Cih! Siapa juga yang sudi memasuki tempat seperti ini?" Namun, pintu terbuka dan menampilkan pemuda lain bernama Nakahara Chuuya, "cepat bangun! Aku sudah tidak tahan berada di tempat sampah."
Dazai Osamu, si pemilik rumah, masih saja berbaring, sibuk memperhatikan raut masam yang Chuuya pasang. Dia ingin tertawa sekarang.
Bangun, pemuda itu pun menyeringai. "Chuuya, kamu dikirim Bos ke tempat pembuangan sampah, bukankah itu sama saja seperti organisasi sedang membuangmu?"
Ah, reaksi yang bagus. Dazai tertawa saat melihat Chuuya mendidih. Detik berikutnya, pemuda berperban itu mendapati dirinya diseret keluar menuju mobil sport hitam yang terparkir di depan halaman rumahnya.
[]
KAMU SEDANG MEMBACA
BSD (Bungou Sengklek Dogs)
FanfictionOneshots Berisi cerita angst; misteri; comedy; romance; chara x OC, random ship---pokoknya tergantung mood author-nya yang agak absurd. Masing-masing chapter berdiri sendiri. ______________ Bungou Stray Dogs © Asagiri Kafka & Harukawa_35
