Tidak adil. Kau bisa menggambarkannya seperti itu. Dunia ini ... sering sekali menampilkan sisi yang tidak adil.
Dazai menatap tubuh yang terbaring lemah di depannya, sebelum satu iris gelap menggeledah seluruh tanah lapang. Ini adalah medan perang yang mereka berdua datangi atas perintah langsung dari pemimpin para mafia, Mori Ougai. Namun, yang tidak dari sangka adalah tingkat keberhasilan misi ini. Hampir nol. Nol besar. Mungkin inilah kegagalan terbesar dalam hidup Dazai Osamu.
"Chuuya, ayo bangun. Aku tidak mau menggendongmu lagi seperti waktu itu!" Tangan kurus itu terulur untuk mengguncang tubuh mungil rekannya. Namun, tidak ada balasan berupa erangan atau sentakan seperti yang selalu ia harapkan setiap kali Chuuya pingsan setelah terlalu lama menggunakan kemampuan aslinya.
"Chuuya ...."
Dazai menghela napas. Kali ini, ia tidak mau menunggu lebih lama dan membuang waktu hanya untuk membangunkan binatang buas yang tertidur itu. Dengan hati-hati ia mengangkat tubuh sang rekan dan membawanya kembali ke markas. Sendirian. Kalau boleh, ia ingin mati karena kelelahan setelahnya.
🍁
Pemuda itu menghela napas, ditatapnya tanah lapang yang sama dengan ingatannya waktu itu. Satu tangan terulur sementara dua iris hazel mengukirkan berbagai kejadian berdarah yang membuatnya harus menggotong Chuuya seorang diri. Rasanya sangat menyebalkan kalau harus mengingat hari itu.
Suara langkah kaki terdengar di belakang si pemuda. Ia menoleh sedikit, mematri senyum tipis yang tidak biasa terlihat di wajah tanpa emosi. "Yah, kalau itu Chuuya, kamu pasti akan menyeretku dengan kejam, kan?"
Tidak ada jawaban. Pun, ia tidak menantikan jawaban apapun, jadi si pemuda kembali berucap, "Semuanya hampir berakhir pada hari itu. Rencanaku gagal dan bagian paling menyebalkannya adalah ...."
"Permisi, Dazai-san. Saya yang akan mengantar Anda."
Benar, ada misi yang harus dia jalankan. Sekali lagi, Dazai menghela napas, menatap tangan kanannya, merasakan sensasi hangat menyebalkan dari cairan berwarna merah gelap yang seharusnya tetap mengalir dalam tubuh manusia. Sensasi itu masih terasa memuakkan bahkan setelah ia kehilangan aroma amis yang khas juga pemandangan yang mungkin akan membawakan mimpi buruk. Ingatan dari hari itu yang memenuhi kepalanya membuat membuat sang eksekutif mendecih.
"Aku selalu gagal ...." Mendengkus, Dazai menatap tempat Chuuya terbaring di tanah waktu itu dengan senyuman pahit, "Aaah, dunia ini benar-benar tidak adil. Baik Chuuya maupun Odasaku, kalian berdua malah berhasil mendapatkan apa yang selama ini kuinginkan. Kenapa begitu ... padahal kalian yang selalu berjuang untuk bertahan hidup, kan?"
Tidak ada yang menjawab pertanyaan kekanakan itu.
"Haruskah kujadikan tempat ini sebagai kuburanmu, Chuuya? Rasanya tidak enak mungkin kalau harus mengunjungi makam yang dibuat Port Mafia untukmu." Pemuda delapan belas tahun itu terkekeh-kekeh dengan suara yang terdengar begitu menyakitkan ... andai saja ada yang bisa mendengarkan suaranya.
Mantel panjang sewarna malam yang tergantung di lengannya berkibar diterpa embusan angin. Sekali lagi, pemuda itu meninggalkan tempat yang merenggut nyawa rekannya dengan perasaan campur aduk. Ia berharap tidak pernah menoleh lagi.
"Aku akan datang lagi dan membawakanmu bunga kalau impianku sudah terwujud. Tunggu aku sampai saat itu tiba, makhluk cebol sialan."
[]
KAMU SEDANG MEMBACA
BSD (Bungou Sengklek Dogs)
FanfictionOneshots Berisi cerita angst; misteri; comedy; romance; chara x OC, random ship---pokoknya tergantung mood author-nya yang agak absurd. Masing-masing chapter berdiri sendiri. ______________ Bungou Stray Dogs © Asagiri Kafka & Harukawa_35
