Kenapa hidupnya dipenuhi dengan kegagalan? Dazai bertanya-tanya dalam hatinya.
•
Delapan tahun lalu ....
Teluk Yokohama yang memantulkan cahaya bulan purnama tampak begitu menggoda. Namun, bocah lelaki itu hanya menghela napas sambil menatap bosan ke arah gumpalan kelabu di atas layar hitam raksasa yang menaungi seluruh kota.
Ia bersandar pada pagar pembatas sambil memainkan sekaleng minuman soda di tangan. Lantas memutuskan untuk pulang dan tidur sambil berharap bahwa hari esok tidak akan datang.
Langkah itu terhenti di samping kubangan air yang memantulkan potret dirinya. Anak menyedihkan dengan perban melapisi hampir seluruh tubuh. Tangan kurus yang juga dibalut kasa putih meraba sisi kanan kepala hanya untuk mendapati benda yang sama menutupi salah satu matanya dengan sempurna.
Dia kembali melangkah sambil sesekali mengarahkan sorot kosong pada mobil yang berlalu-lalang. Bagaimana jika menabrakkan diri pada truk besar itu? Pemikiran berpacu dengan keinginan konyol untuk mencobanya. Namun, sekali lagi bocah itu menggeleng dan kembali ke rumah---atau tempat yang dia sebut begitu.
"Ternyata kau di sini, Dazai-kun. Aku kerepotan mencarimu, tolong diamlah di satu tempat."
Langkah anak itu terhenti. Seseorang menghadang tepat saat ia habis kesabaran dan berniat untuk segera menabrakkan diri ke arah sebuah truk.
"Mori-san?" Dia menghela napas lagi.
Pria yang dikenal sebagai dokter dunia bawah, Mori Ougai, menyeretnya menuju salah satu bangunan pencakar langit. Markas utama Port Mafia.
"Ada yang harus kau saksikan setidaknya sekali sebelum kau mati, Dazai-kun. Setelah itu, kau harus menjadi anak yang baik."
🌨️
Lima tahun lalu ....
Bagaimana rasanya didekap erat oleh ombak pasang dan kematian? Sepanjang hari, bocah lelaki bersurai gelap bertanya-tanya dalam pikirannya.
Mata layu tanpa semangat hidup akan menatap riak yang terlihat dari pelabuhan dengan antusias, memperkirakan seperti apa rasanya saat tubuh terombang-ambing di antara air asin. Namun, laut tidak cocok sebagai tempat untuk bunuh diri.
Satu iris hazel menatap sekitar sementara langkah kaki mengarah pada lantai teratas dari markas utama para mafia. Pintu besar menuju ruangan bercahaya minim terbuka, mempersilahkannya untuk masuk.
"Itu saja laporanmu?"
Pria di depannya masih mengenakan setelan khas seorang dokter, jas putih dan kemeja yang agak lusuh. Iris violet yang menatap dari balik bayang-bayang memberikan kesan aneh bahwa pemiliknya bisa membunuhmu kapan saja. Yang aneh bagi Dazai adalah fakta bahwa sampai saat ini, pemilik lensa itu belum juga membunuhnya.
Kenapa dia belum mati?
"Ya. Itu semua yang terjadi. Dalam versi paling singkat, padat, dan jelas," jawabnya yakin.
"Hm?" Mori Ougai sekali lagi membaca apa yang tertulis dalam lembar laporan itu, hanya beberapa kalimat singkat yang menggambarkan garis besar situasi. Laporan khas Dazai Osamu, salah satu bawahan paling berharganya.
Dapat dipastikan itu adalah kesengajaan karena pembuatnya tidak ingin terlalu repot. Lagi pula, Chuuya akan menuliskan versi lengkapnya tanpa diminta.
KAMU SEDANG MEMBACA
BSD (Bungou Sengklek Dogs)
FanfictionOneshots Berisi cerita angst; misteri; comedy; romance; chara x OC, random ship---pokoknya tergantung mood author-nya yang agak absurd. Masing-masing chapter berdiri sendiri. ______________ Bungou Stray Dogs © Asagiri Kafka & Harukawa_35
