Pagi Buta

206 30 0
                                        

Pemuda itu kembali ke ruangan sederhana yang disediakan untuknya. Memastikan pintu terkunci, lantas duduk sambil menopang kepala dengan tangan kiri yang juga mencengkeram helai-helai sewarna kopi yang menjuntai berantakan.

Kepalanya sakit. Saat sadar memejamkan mata saja tidak membawa hasil apapun, tangan kanan bergerak meraba bagian dalam laci meja hingga menemukan sebuah tabung kecil berisi pil-pil berwarna putih. Namun, dia tidak menemukan benda kecil itu di sana.

"Aaaaa ... sama sekali tidak berguna ...!" Erangan terdengar, pemuda itu kini menidurkan kepala di atas meja kayu mewah yang memuat dokumen-dokumen penting Port Mafia. Dua telapak tangan sibuk meremas kepala, menjambaki surai gelap bergelombang yang tidak bersalah. Kepalanya masih saja berdenyut.

Seolah takdir ingin menertawakannya, saat ia hampir saja melewati gerbang pemisah dan hendak berdiri di antara hidup dan mati, dering ponsel menginterupsi. Pastinya itu adalah panggilan kerja. Tidak ada seseorang yang cukup gila untuk mengganggunya di jam segini.

Ia mengangkat panggilan, mendengarkan suara milik seorang dokter ilegal di seberang sana memberikan satu lagi tugas sulit tanpa memikirkan ini sudah masuk jam tidur bagi anak normal berusia delapan belas tahun---pukul dua pagi.

"Aku mengerti." Seringai tipisnya terbentuk saat hendak menutup panggilan, "serahkan semuanya padaku, Bos."

Maka, mengabaikan sakit kepala yang sejak tadi siang mengganggunya, eksekutif mafia Dazai Osamu pergi menemui rekannya sekaligus untuk menyelidiki beberapa hal tambahan tentang musuh.

🍁

"Sialan! Kau mengganggu tidurku lagi, kuso Dazai!"

Pagi. Matahari mulai mengintip dari sudut timur cakrawala. Arus pejalan kaki memang belum seramai siang hari, tetapi beberapa orang telah menampakkan aktivitas mereka. Sementara itu, dua orang remaja berjalan-jalan di sudut kota setelah menyelidiki pemukiman kumuh Yokohama.

"Malam itu waktu terbaik untuk menyelidiki kantor mereka. Aku benar, kan? Tidak ada orang di sana pukul tiga pagi." Menanggapi keluhan rekannya, Dazai Osamu menyeringai.

"Tch! Terserah. Aku akan memintamu menjelaskan semuanya sebagai gantinya. Sekarang jelaskan, apa masalahnya sampai Bos meminta kita berdua turun tangan?" Sang rekan, Nakahara Chuuya, menoleh pada Dazai dengan wajah mengkerut.

Dazai menghela napas panjang sebelum menyerahkan ponselnya pada Chuuya. Sebuah email, di dalamnya tertera penjelasan rinci tentang misi mereka kali ini.

"Begitu. Sepertinya memang merepotkan." Chuuya yang sempat bertanya-tanya kenapa Mori Ougai sampai menugaskannya bersama dengan makhluk aneh berjuluk eksekutif termuda dalam sejarah kini mengangguk paham.

"Baiklah kalau begitu! Kau setuju, kan? Ah~ senangnya bisa merepotkan Chuuya~!"

"TEME!"

[]

BSD (Bungou Sengklek Dogs)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang