Past 1 - Dazai
“You still have responsibilities to live with, my dear.”
•••♡•••
Lelah ....
Sakit ....
Panas ....
Lelah.
Pria muda itu membuka matanya, mendapati kegelapan yang begitu pekat. Setengah dari dirinya berharap bahwa ia telah sampai di alam kematian---sesuatu yang selalu ia harapkan untuk terjadi. Namun, ke mana perginya Shinigami-san yang harus membawa jiwanya ke neraka?
Neraka? Ah, iya. Tidak salah lagi. Orang seperti dirinya tidak berakhir di surga. Iya, kan? Seseorang seperti Dazai Osamu hanya memiliki akhir yang bahagia di neraka.
Sebuah tawa merusak kesunyian sempurna yang diciptakan tempat ini. Dazai sadar tengah menutupi mata dengan lengannya, tertawa keras-keras dan melepaskan seluruh beban di hati yang kini terasa lebih ... hampa.
Ah, sial. Dia benci kegelapan pekat ini. Apa dia juga benci kematian? Maksudnya, mulai benci. Karena beberapa tahun yang lalu dia bahkan tidak tahu artinya bertahan hidup.
Dazai mendapati dirinya terbaring di antara kegelapan, ia tidak bisa melihat apa pun. Namun, dirinya yakin di sekitar pinggang ada luka tembak yang tercipta berkat orang Rusia bernama Fyodor. Bahkan, Dazai masih ingat suara menusuk dari Atsushi yang memanggil namanya sebelum benar-benar pingsan.
Sekali lagi Dazai tertawa. Apakah Atsushi mengkhawatirkannya? Ah, tentu saja itu jelas. Bagi bocah harimau itu ... dirinya yang seperti ini adalah malaikat penyelamat. Dirinya yang serupa iblis adalah malaikat penyelamat? Pasti ada yang salah dengan kepala Atsushi.
Lalu ... apakah Kunikida-kun juga sedang khawatir? Apa mereka bisa melakukan sesuatu---melawan Port Mafia, misalnya---tanpa dirinya? Sebenarnya, dia tidak berniat untuk mati saat ini ....
Ah, lupakan.
Apa akhirnya ... dia bebas? Namun, dia masih punya tanggung jawab ....
Namun, siapa peduli tentang itu? Akhirnya dia bisa menggapai kematian. Terima kasih pada si iblis---Fyodor Dostoyevsky---yang sudah memenuhi harapannya.
Kalau ini alam kematian, ada seseorang yang sebenarnya sangat ingin dia temui. Sial. Mengingatnya saja membuat salah satu sudut hati Dazai teriris, lagi.
Bukan. Bukan Odasaku yang ingin dia temui. Tidak dengan dirinya yang sekarang. Dazai masih belum bisa membanggakan diri di depan Odasaku saat ini. Orang yang sangat ingin dia temui itu ....
"Osamu? Apa akhirnya kau datang untuk menemuiku?"
Ah, suara itu. Suara yang hampir Dazai lupakan karena tidak pernah lagi mendengarnya sejak berumur ... tunggu, berapa lama dia tidak mendengar suara itu?
Dazai membuka mata dan mendapati seorang wanita duduk di sampingnya. Dengan lembut wanita itu mengangkat kepala Dazai ke dalam pangkuan, mengelusi surai cokelat berantakan sambil menatapnya dengan lembut.
Dazai terpaku. Pria penggila bunuh diri itu tidak bisa menggerakkan satu inci pun dari tubuhnya. Bahkan, mulutnya pun mendadak kelu untuk sekadar berucap, memanggil wanita yang kini tersenyum tipis hanya untuknya.
Bolehkah Dazai egois? Kalau bisa ... dia ingin terus seperti ini.
"Kau sudah sangat besar, ya? Ternyata anakku tumbuh dengan baik ... Tuhan, dia sangat tampan ...." Wanita itu melirih, menengadah sebentar dan setetes air mata bahagia terjatuh ke pipi Dazai.
Sekali lagi, hati pria muda itu terasa perih. Sangat perih. Seperti terkoyak. Kenapa adegan ini terasa begitu menyedihkan?
"Apa aku berhasil?" Dia menatap kosong wajah wanita itu, segera setelah otaknya berhasil memproses segala sesuatu yang terjadi. Suaranya ... pasti terdengar menyedihkan.
Padahal dia yang mengharapkan ini ....
"Aku ... akhirnya berhasil?" Senyum kekanakan yang sempat dia tampilkan berubah menjadi seringaian. Dazai tertawa, menutupi sebagian wajah dengan telapak lebarnya dan menikmati tiap detik saat tawa gilanya memenuhi ruang sunyi.
"Akhirnya aku bebas ... dari mimpi tak berujung di dunia yang ternodai itu ...." Suara yang menyiratkan rasa sakit keluar dari tenggorokannya.
"Apa kau bahagia?" Wanita itu masih memberikan senyum tipis yang begitu hangat.
"Tentu saja!" Apa dia benar-benar bahagia? Persetan dengan kebahagiaan! Selama ini dia hanya ingin menemukan arti hidup ... dan mati dengan tenang karena tidak pernah mendapatkannya.
"Apa kau kesakitan, sayangku?"
"Sangat ... dadaku selalu sesak. Aku tidak bisa menanggungnya lagi ... hidup benar-benar menyiksa. Tuhan bahkan tidak mengizinkan aku mati dengan mudah ... aku sudah sangat lelah. Aku tidak bisa lagi ...."
"Apakah begitu?" Wanita itu berbisik, suaranya begitu lembut.
"Um."
"Bukankah kau pria yang sangat kuat?"
"Bukan ... orang sepertiku, hanya memiliki hidup yang memalukan."
Dazai menenggelamkan wajah dalam pangkuan ibunya. Menikmati belaian lembut itu, membiarkan sisi kekanakan dalam dirinya yang bisa membuat Chuuya muntah tampil begitu jelas. Dia tidak peduli lagi, dia hanya ingin berada di sini ... terbebas dari segala hal yang melelahkan, dari dunia yang terus saja memberikan hal buruk.
"Namun, kau masih punya tanggung jawab, bukan, Osamu?"
"Ah. Kau benar ..., aku masih harus kembali ...." Sekali lagi manik cokelat kemerahan itu menatap kosong pada wajah yang dia rindukan ... jauh dalam lubuk hatinya. "Tapi tanggung jawab itu merepotkan ... aku ingin tidur saja."
Kenapa? Bahkan, ilusi yang pikirannya ciptakan pun tidak mengizinkannya untuk beristirahat. Kenapa dia tidak bisa tetap berada di sini---di alam kematian yang gelap dan sunyi ini? Kenapa dia tidak pernah diizinkan untuk istirahat?
"Jika aku hanya bagian dari ilusimu, bukankah artinya ada bagian dari dirimu yang sama sekali tidak ingin kau menyerah?"
Maniknya membulat. Benar ... benarkah begitu? Memangnya, bagian mana dari dirinya yang tidak menginginkan kematian? Apa itu hati kecilnya?
"Mereka masih membutuhkanmu."
"Benar ..., orang-orang bodoh itu ...."
"Sampai kau benar-benar bisa meninggalkan dunia itu dengan tenang, aku akan terus menunggumu di sini."
"Tunggu aku?" Dazai menatap polos manik cokelat kemerahan yang sama seperti miliknya. Itu indah. Dia baru saja menyadari bahwa matanya ... juga terlihat indah seperti itu.
"Selamanya, sayangku. Aku akan menunggumu di sini meski selamanya. Lalu saat kau benar-benar mati ... aku akan menemanimu."
"Ah. Tapi aku ingin menemui Odasaku juga kalau saat itu tiba. Aku harus membanggakan hasil kerja kerasku padanya ... dan berterima kasih atas segalanya. Ibu harus menunggu sangat lama. Takdir sangat kejam padaku." Dazai tertawa, "bahkan kematian juga tidak menginginkanku."
Pemilik surai kopi itu menikmati hangat saat wanita itu mendekatkan wajah mereka, mencium puncak kepalanya begitu lama, begitu hangat, lalu beralih ke dahi dan pipinya. Ia ingin selamanya berada di sini. Namun ....
"Aku selalu bangga padamu, Osamu."
Manik itu terbuka, hal pertama yang ia dapati adalah langit-langit kamar rumah sakit. Bau obat menusuk hidungnya, sementara dari jendela, matahari seolah menyombongkan diri dan bersinar terik.
Senyum tipis yang menyakitkan terukir begitu saja. Tawa kecil terdengar saat Dazai menatap telapak tangannya sendiri---telapak yang sangat kotor dan berbau amis ....
"Kau tidak akan bangga saat tahu apa yang selama ini kulakukan, Kaa-san." Bisikan lirih itu hilang terbawa angin, menyisakan hanya kesunyian menyakitkan dalam kamar rumah sakit yang mendadak menjadi tempat dari dunia lain.
[]
KAMU SEDANG MEMBACA
BSD (Bungou Sengklek Dogs)
FanfictionOneshots Berisi cerita angst; misteri; comedy; romance; chara x OC, random ship---pokoknya tergantung mood author-nya yang agak absurd. Masing-masing chapter berdiri sendiri. ______________ Bungou Stray Dogs © Asagiri Kafka & Harukawa_35
