Itu adalah malam tahun baru. Seharusnya Dazai merayakannya bersama rekan-rekan di Agensi. Namun, dia merasa tidak terlalu pantas berada di tempat yang hangat itu bersama mereka. Lagi pula, mood Dazai sedang jelek, dia tidak bisa memikirkan lawakan apa pun. Jadi seperti biasa, Dazai menyelinap pergi dari pesta.
Sekarang, di sinilah dia. Sambil membawa satu kantong bir kaleng murahan dan setangkai bunga liar yang dia petik di tengah jalan. Malam yang seharusnya tenang dan gelap di pemakaman berubah sedikit lebih terang nan riuh. Puluhan kembang api bermekaran di langit malam Yokohama. Sementara Dazai, bersandar di nisan sang sahabat, dengan senang hati meminum bir murahannya sambil mendendangkan sebuah nada. Entah apa lirik lagu yang mengendap di dasar ingatannya itu. Dia hanya tahu bahwa Chuuya sering menggumamkan lagu tersebut sepulang mereka dari misi---tentu, Chuuya tidak bermaksud agar Dazai mendengarnya.
Lelaki itu menguap bosan. Baru saja dia hendak beranjak, sebuah langkah kaki memasuki pendengaran.
Dazai menoleh dan seorang pria berkacamata tersenyum pahit sambil meringis padanya, "Hai, Dazai-kun. Sebuah kebetulan."
Sakaguchi Ango berdiri di sana, dengan sekotak kue dan satu botol wine. Agak ragu dia mengambil langkah mendekati nisan yang disandari oleh Dazai.
"Ya, kebetulan sekali." Dazai kembali berpaling, pandangannya sekali lagi terpatri ke langit biru---atau sesuatu yang ada di langit. Entahlah. Entah ke mana pandangan kosong itu sebenarnya mengarah.
Ango selesai berdoa, bingung apa yang harus dia lakukan. Haruskah pergi saja? Ah, padahal dia berencana menghabiskan malamnya di sini, mengobrol berdua dengan Odasaku-san. Ango bahkan tidak tidur selama tiga ... atau empat hari? Yah, itu demi menyiapkan waktu libur semalaman di tahun baru. Semuanya sepadan. Maklum, pekerjaan Ango tidak kenal liburan. Selalu ada saja masalah di Yokohama yang menuntutnya begadang.
Ah, kalau dipikir-pikir, di mafia dulu dia bisa sesekali menikmati malam di bar.
"Ango membawakan itu untuk Odasaku?" tanya Dazai polos---atau sok polos, Ango sudah lelah menebak-nebak. Lelaki kurus itu melirik, Ango jadi ikut-ikutan menatap box kue yang dia beli di toko dekat stasiun.
"Ya," jawab Ango.
"Odasaku, kan, lebih suka makan kare? Terutama yang sangat pedas dan membakar lidah." Dazai berdecak sendiri saat ingat rasa kare yang kelewat pedas yang dia makan di restoran langganan Odasaku.
Bisa-bisanya ada manusia yang makan makanan seperti itu!
Ango malah tertegun. Yang barusan itu ... apakah Dazai sedang berusaha membuka obrolan? Obrolan tentang hal-hal sepele, kejadian sehari-hari yang mereka alami. Obrolan yang selalu mengalir keluar dari mulut mereka sewaktu minum-minum di Bar Lupin. Obrolan yang telah hilang empat tahun lalu ....
Ango membuka mulutnya, tetapi bingung harus berkata apa. Biasanya ... ya, biasanya dia kan, mengomentari sikap sembrono Dazai. Namun, hubungan mereka sekarang agak dingin, berbeda dari yang dulu.
Apakah lelaki di depannya ini akan marah kalau Ango mengomentarinya lagi seperti dulu?
Apa Dazai akan berdecak lalu pergi kalau Ango protes tentang hal-hal buruk yang dia lakukan?
Apa Dazai akan kesal kalau Ango tidak membalas candaannya?
"Ah." Ango sadar, dia terlalu banyak berpikir.
"Ango terlalu banyak berpikir. Nanti bisa botak dan harus menutupi kepalamu dengan topi---seperti Chuuya."
Ango tidak bisa menebak ekspresi Dazai. Namun, lelaki muda itu terkekeh pelan.
"Tidak sopan, Dazai-kun." Ango maju selangkah. "Dan lagi, kenapa kamu menjadikan nisan orang sebagai sandaran?" Dia dekati Dazai yang tampak seperti sedang menikmati langit malam berduaan dengan Odasaku.
Apa dia boleh bergabung?
Jawabannya pasti tidak. Namun ....
"Apa kembang apinya lebih bagus kalau dilihat dari sini?" Ango ikut duduk di samping Dazai. Box kue tadi sudah dia taruh di pangkuan.
Dazai meliriknya sekilas. Lalu, senyum yang kekanak-kanakan terbentuk di wajahnya. "Tentu saja."
Dazai tidak bercanda atau melantur lagi. Padahal, Ango mengharapkan balasan menjengkelkan seperti, "Kalau dilihat dari sini, rasanya seperti aku adalah hantu yang menunggu kuburku, lalu malam tahun baru yang indah datang!" Atau "aku harap aku membuat 'Hotpot Manusia Super' untuk dimakan berdua dengan Ango!" Atau sesuatu seperti itu. Namun, Dazai diam saja. Canda jenakanya tadi ternyata sudah menghilang secepat kedatangannya.
"Kamu tidak keberadaan kalau aku bergabung bukan, Dazai-kun?" Ango menyimpan pertanyaan itu dalam hati. Diam-diam dia menikmati kembang api, berdua ... ah, bukan, bertiga dengan sahabat-sahabatnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
BSD (Bungou Sengklek Dogs)
FanfictionOneshots Berisi cerita angst; misteri; comedy; romance; chara x OC, random ship---pokoknya tergantung mood author-nya yang agak absurd. Masing-masing chapter berdiri sendiri. ______________ Bungou Stray Dogs © Asagiri Kafka & Harukawa_35
