Kalau bukan karena Dazai-san, Akutagawa Ryuunosuke tidak akan pernah sudi bekerja sama dengan manusia harimau yang selalu terikat dengan trauma masa lalunya.
Kalau bukan karena Dazai-san, mana mungkin Nakajima Atsushi mau berdekatan dengan anjing garang dari Mafia yang selalu berhasrat ingin membunuhnya?
Kalau bukan karena Dazai Osamu ... apakah dua kekuatan bertentangan yang saling mendukung itu dapat bersatu?
Kalau bukan karena skenario Dazai Osamu yang disusunnya sejak lama ... apakah Yokohama bisa selamat dari kehancuran?
Entahlah.
Yang jelas, strategi dari otak jenius sialannya telah mengatur takdir dua orang anak yatim yang pernah ia selamatkan.
Dua hal yang---sebenarnya---bertentangan sejak awal. Seperti ia dan Chuuya, Dazai ingin menyusun kekuatan yang melebihi kombinasinya dengan sang mantan partner.
"Jinko."
"Akutagawa?!"
"Apa yang orang sepertimu lakukan di sini?" Manik hitam Akutagawa menyipit.
"Seharusnya itu adalah pertanyaanku. Apa yang mafia lakukan di dekat asrama Agensi Detektif?"
Malam itu, kedua bocah yang pernah ia selamatkan saling menggeram saat berpapasan di sebuah persimpangan. Suhu udara di akhir musim gugur yang mulai turun seolah tidak cukup untuk meredam api 'permusuhan'.
Nakajima Atsushi yang pertama kali mengalihkan pandangan. Dia bergumam dengan nada rendah, merasa terpaksa menjawab pertanyaan Akutagawa Ryuunosuke, rivalnya.
"Aku ingin memastikan kondisi Dazai-san," katanya.
Manik hitam sang mafia melebar. "Apakah benar Dazai-san--?!" Ia menoleh ke arah bangunan asrama sederhana yang kini menjadi tempat tinggal mantan mentornya. Menggerakkan gigi, Akutagawa berlari masuk dengan tangan yang terkepal kuat.
Kalau Jinko sampai membuat ekspresi khawatir berlebihan seperti itu ... ditambah kabar burung yang dia dengar sendiri setengah jam lalu ....
"Oi, Akutagawa! Tunggu!"
Atsushi berhasil menyusul. Kini mereka berdiri di depan kediaman Dazai Osamu. Bau alkohol dan asap rokok tercium saat Atsushi perlahan membuka pintu. Akutagawa terdiam---melupakan permusuhannya dengan Atsushi---sepanjang yang dia tahu, Dazai bukan perokok.
"Dazai-san?!" Dua suara berbeda karakter itu tumpang tindih saat memanggil nama pemilik rumah yang selalu melakukan hal-hal di luar akal sehat. Kali ini ... entah kenapa mereka meneguk ludah tanpa sadar.
Tempat itu sangat berantakan.
"Minggir, Jinko. Akulah yang akan menolong Dazai-san!"
"Tidak ada waktu untuk berdebat sekarang!"
Dazai tergeletak di atas futon. Tampak kacau. Perban yang melilit tangan kirinya sudah terlepas, mantel cokelat pasir dan rompi hitamnya berserakan bersama tumpukan perban bekas dan bungkus deterjen bubuk. Tidak lupa setumpuk kepiting kalengan dan botol alkohol yang sudah tandas isinya.
"Dazai-san!"
"Ngh~? Ah, kalian berdua ...." Netra dengan iris cokelat kemerahan terbuka perlahan, pemiliknya menguap saat meregangkan tubuh dan tersenyum mengapa kedua juniornya, lalu beranjak ke dapur.
"Akhirnya kalian datang juga! Jaaang! Aku menyiapkan sesuatu yang spesial setelah kerja keras kalian!"
Kedua remaja itu masih terdiam. Entah kaget, senang, atau kesal. Mata mereka terpaku pada nampan yang Dazai bawa, berisi tiga mangkuk nasi dengan lauk ayam dan siraman kuah.
Dazai segera membereskan ruangannya, meletakkan perlengkapan makan di atas meja, lalu merangkul kedua juniornya yang masih terpaku. Mungkin, mereka mengira dia sekarat tadi.
"Nah, ayo kita makan bersama! Aku memasaknya sendiri, loh! Namanya 'Ayam Masak Sayur Berkobar-kobar'!"
[]
KAMU SEDANG MEMBACA
BSD (Bungou Sengklek Dogs)
FanfictionOneshots Berisi cerita angst; misteri; comedy; romance; chara x OC, random ship---pokoknya tergantung mood author-nya yang agak absurd. Masing-masing chapter berdiri sendiri. ______________ Bungou Stray Dogs © Asagiri Kafka & Harukawa_35
