Pemandangan di bawah sana terlihat begitu menggoda. Remaja itu terus berpikir untuk segera memeluk aspal, sementara dia berada di atap gedung tertinggi di Yokohama.
Apa yang terjadi kalau dia jatuh? Kematian instan? Tidak, sensasi jatuh itu sendiri membuatnya tidak bisa disebut instan.
Apa jatuh dari gedung bertingkat itu menyenangkan? Entahlah, dia belum pernah merasakan sensasi jatuh dan terkapar di atas aspal.
Atau setidaknya, dirinya yang ini belum pernah merasakan hal seperti itu.
"Chuuya, menurutmu ...."
"Tidak." Suara itu terdengar nyaris di detik yang sama, tidak membiarkan Dazai Osamu menyelesaikan kalimatnya.
Nakahara Chuuya berjalan mendekat, dua tangan ia letakkan dalam saku jaket. Atas perintah bos, remaja seusia Dazai itu siap terjun bebas demi menyelamatkan orang yang paling ingin dia bunuh di dunia.
"Apa yang kau lakukan di sini, mencoba cara bunuh diri baru?" Chuuya bertanya. Nadanya setengah sinis, setengahnya lagi jijik pada kelakuan rekan kerjanya.
"Benar ... walau aku tahu dari lama kalau melompat dari sini akan langsung membawaku ke neraka." Dazai menjawab, nadanya benar-benar datar bahkan saat dia menyebut-nyebut tentang neraka.
Apa dia tidak ingin berada di surga? Ah, tidak. Orang seperti Dazai mana mungkin memiliki kebaikan yang bisa membawanya ke tempat itu ....
"Chuuya pikir aku yang terburuk, bukan?" Dazai bertanya, kali ini nada suaranya sedikit berubah. Meskipun itu lebih terdengar seperti pernyataan daripada pertanyaan.
Chuuya tidak menjawab, dia hanya berdiri di samping Dazai, ikut memandang aktivitas di bawah sana dengan wajah bosan. Dia sedang tidak ingin bicara, apalagi berdebat dengan Dazai.
"Jangan dekat-dekat. Nanti kalau Chuuya jatuh, aku yang akan repot. Hush, hush, jauh-jauh sana!" Dazai berkata lagi, kali ini nadanya begitu kekanakan.
Chuuya mendengkus, tidak berpindah barang selangkah pun. Lagi pula, 'mati kalau terjatuh dari sini' itu hanya berlaku untuk Dazai. Chuuya tak akan terluka bahkan jika dia melompat sekarang.
"Hei, Chuuya." Dazai memanggilnya lagi. Chuuya makin jengkel, rasanya makhluk berperban ini jadi lebih banyak bicara. "Menurutmu, jatuh dari sini menyenangkan, tidak?"
Chuuya berkedip dua tiga kali, seolah butuh waktu lebih untuk mencerna maksud dari kalimat tadi. Namun, dia segera menggeleng. "Aku lebih suka pakai lift."
"Sudah kuduga, Chuuya itu bodoh," gumam Dazai, seraya beranjak, seolah telah kehilangan seluruh minatnya pada ketinggian.
[]
Hai ... aku mau tanya. Kan, cerita di sini sering terselip spoiler apalagi buat yang cuma nonton anime-nya. Jadi, enaknya gimana, nih? Biar aja, atau kalo cerita yang kira-kira ada spoiler nya aku kasih tanda di judul?
Oke, see ya~
KAMU SEDANG MEMBACA
BSD (Bungou Sengklek Dogs)
FanfictionOneshots Berisi cerita angst; misteri; comedy; romance; chara x OC, random ship---pokoknya tergantung mood author-nya yang agak absurd. Masing-masing chapter berdiri sendiri. ______________ Bungou Stray Dogs © Asagiri Kafka & Harukawa_35
