Dazai berlari. Belum pernah dia merasa seputus asa ini dalam hidupnya. Ia terus saja berharap dan berharap pada dewa yang semula tak dipercayanya. Remaja delapan belas tahun itu kehabisan napas. Lelah. Tersengal-sengal. Rasa khawatir membuat dadanya hampir meledak.
Dazai berharap waktu di sekitarnya berhenti. Ia tak pernah merasa seperti ini. Tak pernah satu kali pun dalam hidupnya remaja itu merasa terbakar seperti ini.
Dazai mempercepat langkahnya dengan putus asa. Kakinya sakit; tapi ia tak bisa berhenti berlari. Waktu rasanya melambat. Senja yang turun seolah darah yang membanjir dalam penglihatannya.
"Odasaku!"
Tangan Dazai terulur, lelaki itu tersentak bangun. Matanya terbelalak, mulutnya terbuka, tetapi kata-kata tersangkut di tenggorokan.
Dazai membeku. Udara seakan meremas paru-parunya.
"Dazai-san!" Suara Atsushi membuatnya melirik. Hanya melirik karena tubuhnya masih kaku.
Ia tak berada di tempat itu. Namun ruang kesehatan Agensi Detektif. Kunikida dan Atsushi ikut terpaku melihat reaksi Dazai yang amat tidak biasa.
"A-" Dazai menurunkan tangannya, beralih memegangi kepala yang terasa pusing.
Sekali lagi, ia edarkan pandangan ke segala arah. Memastikan bahwa yang tadi ... mimpi mengerikan tadi benar-benar hanya sebuah mimpi. Sisa-sisa ingatan masa lalunya.
Ia tak mampu menahan diri. Hampir tidak mampu. Ingin rasanya lelaki itu tertawa saat ini; menertawakan kesengsaraannya yang tragis. Namun, ia harus bertingkah seperti 'Dazai yang biasanya' di depan Atsushi dan Kunikida, bukan?
Ia harus tetap berakting apa pun yang terjadi ... kan?
Ia ....
"Oi ... kau ...." Kunikida tak percaya apa yang dilihatnya saat ini.
"Dazai-san?" Atsushi menatap sosok sang penyelamat lekat-lekat. Ia tidak menyangka ... Dazai akan menunjukkan ekspresi seperti itu.
"Eh?"
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.