Memory

202 32 1
                                        


☁️

Pemuda itu terbangun di pagi hari yang seperti biasa. Kedua iris sewarna langit musim semi memandangi seisi ruangan yang hanya dilengkapi perabot sederhana. Kata 'suram' mengambang begitu saja saat dia menatap ruangan 'mewah' tersebut.

Netranya tak mendapati sesuatu yang tidak biasa. Hanya monoton. Sebuah buku tentang permata tergeletak di atas meja, cangkir yang masih sisa terisi kopi semalam, juga jas hitamnya yang menggantung di sandaran kursi. 

Dia kembali menutup mata dan mengatur pernapasan. Angin lembut menerpa dari jendela yang semalam lupa ditutup, sementara matahari telah menetap pada takhtanya.

Pemuda berambut jingga itu tidak memimpikan sesuatu. Dia yakin tidak melihat apa pun dalam tidurnya setiap malam. Namun, ada sesuatu yang mengganjal, sesuatu yang aneh tentang alam bawah sadarnya.

Pemuda itu masih berada di pembaringan saat sekali lagi mendengar keributan dari lantai atas. Lebih tepatnya, ruangan yang berada tepat di atas kamar yang dia tempati saat ini.

Harusnya ada sesuatu yang aneh tentang itu. Namun, dia sama sekali tidak ingat.

Nakahara Chuuya menghela napas, lalu bangkit dan beranjak ke kamar mandi. Selesai membersihkan diri dan berpakaian, sebuah gedoran di pintu depan membuat wajah tampan itu kembali merengut. Dia sangat mengenal suara yang terus memanggil namanya tanpa henti.

"Ada apa, Albatross?" tanya Chuuya, meski dia kurang lebih sudah mengetahui apa yang temannya ini inginkan.

"Bagus sekali, kau sudah bersiap! Sekarang, ikutlah dan bantu aku!"

Pemuda yang dia panggil 'Albatross' itu bahkan hampir tak memberinya kesempatan untuk menutup pintu.

☁️

Nakahara Chuuya terbangun. Napasnya sedikit terengah, ada rasa sakit kecil yang merayapi dadanya. Baru saja ... apa yang dia lihat? Mimpi? Apakah dia bermimpi?

Dia yakin itu adalah potongan dari memorinya dua yang tahun lalu.

"Sial ...." Pemuda delapan belas tahun itu memandang ruangan tempatnya tinggal saat ini.

Itu berbeda dari mimpinya tadi. Tentu saja. Diam-diam, Chuuya pun merindukan ruangan yang dulu dia tempati, keributan di lantai atas yang disebabkan oleh salah satu temannya, dan ....

Manik sewarna samudra tanpa sengaja melirik ke arah  topi vedora hitam kesayangannya yang tergeletak manis di atas meja, sementara dia sendiri tertidur di sofa setelah sedikit 'berpesta' tadi malam.

Botol anggur bertulis 'Petrus 1998' tergeletak kosong, sementara di dalam gelas masih tersisa sedikit cairan memabukkan berharga fantastis itu.

Chuuya memegangi kepalanya, pusing. Dia duduk, lalu menenggelamkan diri ke sofa sambil menikmati sisa-sisa memori yang masih tertinggal. Dia lelah. Baik dua tahun lalu maupun sekarang, orang-orang yang sangat menyebalkan masih saja gemar membuatnya kesulitan.

... orang-orang masih saja gemar untuk pergi dari sisinya. Meninggalkan sang mafia di dalam kesendirian yang memabukkan.

"Apa kau berniat mengkhianati organisasi, sialan?!" gumamnya, tanpa tersampaikan kepada siapa pun.

[]

BSD (Bungou Sengklek Dogs)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang