Atsushi terhenti, mendapati sang senior yang tengah duduk sambil tertunduk. Di hadapan mereka kini adalah hamparan laut yang begitu luas, sementara dari kejauhan, tampaklah tiga gedung sehitam malam yang menjulang dengan angkuhnya.
Ia menatap Dazai yang tidak terlihat seperti biasanya. Mereka berdua sama-sama membisu, disibukkan dengan isi pikiran masing-masing.
"Sakit." Tiba-tiba saja, Dazai bersuara. Gumamannya terdengar begitu jelas di telinga Atsushi. "Ini sangat menyakitkan, Atsushi-kun. Lebih sakit dari yang biasanya ...."
"Eh?" Atsushi segera mengalihkan segenap perhatiannya pada sang senior. Ia tak mengerti ke mana arah pembicaraan akan berlanjut.
Pria muda itu menggenggam liontin pirus di dadanya, sepasang manik cokelat kemerahan yang biasa menampilkan canda kini telah sirna. Sepenuhnya tergantikan oleh sorot sendu yang seolah-olah tengah menatap ke masa lalu. Suara Dazai barusan tidak terdengar kesakitan. Akan tetapi, Atsushi dapat mendengar dengan jelas nada kesepian yang seolah menjerit-jerit meminta bantuan.
Apa yang menyakitkan itu? Apa maksudnya dengan 'yang biasanya' tadi? Si bocah harimau bertanya-tanya.
Atsushi sama sekali tak mengerti apa yang tengah berputar dalam pikiran sang senior. Namun, sejak perkataannya di malam musim panas kala itu, Atsushi melihat ada sesuatu yang berbeda dalam diri Dazai. Ia masih seceria biasanya, tetapi senyum, tawa, dan canda itu makin terlihat palsu. Seolah ada yang tengah Dazai tutupi mati-matian, sehingga ia tak bisa lagi berfokus pada topeng hidupnya saja.
Perasaan seperti apa itu kira-kira? Atsushi memiliki banyak pertanyaan. Namun, ia tidak memiliki keberanian untuk mempertanyakan secara langsung. Hanya bisa menebak-nebak bahwa pastilah itu merupakan perasaan yang amat berat, hingga bebannya pun tak sanggup dipikul oleh orang seperti Dazai Osamu.
Atau ... mungkin juga tidak. Mungkin saja Dazai hanya sedang lelah, lalu nantinya akan kembali menjadi Dazai yang biasanya. Atsushi sangat ingin mempercayai tebakannya yang kedua. Namun, ia juga paham bahwa apa yang dipikul Dazai selama ini tidak seringan yang ia kira.
"Bohong~! Cuma bercanda, kok!" Dazai memberinya sebuah senyum.
Atsushi terdiam, ia tidak tahu apakah itu adalah isi hati Dazai, atau cara baru sang senior untuk menggodanya---tidak ada yang pernah tahu isi hati Dazai.
Pria muda itu beranjak, melambai seraya berkata akan pergi ke toko untuk membeli sake. Sementara Atsushi hanya bisa menatap kepergian seniornya itu, menatap punggung kesepian Dazai yang terus menjauh dari jangkauannya. Pergi dan tidak pernah kembali lagi.
[]
KAMU SEDANG MEMBACA
BSD (Bungou Sengklek Dogs)
FanfictionOneshots Berisi cerita angst; misteri; comedy; romance; chara x OC, random ship---pokoknya tergantung mood author-nya yang agak absurd. Masing-masing chapter berdiri sendiri. ______________ Bungou Stray Dogs © Asagiri Kafka & Harukawa_35
