Pembohong

242 31 5
                                        

"Hei, mati saja, boleh?" Gadis itu menatap pemuda berpakaian pasir, senyum lebarnya tampak begitu kosong.

Si pemuda menggigit bibir bawahnya, menatap iba, berbagai rasa berkecamuk dalam dada. Namun, wajahnya masih sangat tenang, tatapan teduh di arahkan pada gadis yang kini berjongkok sambil mengukir tanah dengan ranting kecil.

"Tidak boleh, Izumi-chan. Mati itu sakit," katanya, sambil mengelusi kepala gadis bernama Izumi.

Namun, gadis itu justru cemberut, mengacungkan ranting di tangannya sambil menatap tajam si pemuda. "Orang sepertimu tidak berhak mengatakannya, Dazai Osamu!"

Kali ini, Dazai yang terdiam. Memang benar, orang yang selalu mengharapkan kematian seperti dirinya, sama sekali tidak berhak menyuruh orang lain untuk hidup. Namun ....

"Namun, aku tetap mengatakannya. Terus kenapa? Izumi-chan juga mau menahanku agar tidak bunuh diri lagi? Boleh saja, sih."

Sementara Dazai terlihat berpikir sambil memegangi dagu, tatapan sendu Izumi terarah pada tanah yang warnanya mirip dengan manik indah milik sang pemuda.

"... kau tidak akan mati meski telah membunuh dirimu berkali-kali." Mendongak demi menatap si pemuda, Izumi kembali mengukir senyuman yang terasa menyakitkan bagi Dazai.

"Jadi kau tahu." Dazai tersenyum canggung. Memang benar, berapa kali pun mencoba, nyawa tidak pernah meninggalkan raganya. Ah, kalau dipikir-pikir, sudah berapa kali dia diselamatkan?

"Ne, kau sedang mencari gadis cantik yang mau diajak mati bersama, kan?"

Dazai segera menggeleng. Berjongkok, pemuda jangkung itu menatap permata hijau yang terlihat ... mirip seperti miliknya di masa lalu. Sejenak saja sosok yang pernah sangat ditakuti di dunia bawah itu tertegun. Hatinya teriris. Gadisnya ini tampak sangat menyedihkan ....

"Tidak lagi, Izumi-chan."

"Kenapa? Apa aku kurang cantik?"

Dazai kembali menggeleng kuat-kuat. Dia sudah tidak peduli lagi pada sisi lemah yang mungkin akan terbongkar. Yang terpenting, dia bisa menenangkan Izumi-nya.

"Bukan. Sekarang, aku hanya ingin hidup bersamamu sampai akhir," bisik Dazai. Meyakinkan dirinya bahwa itu bukanlah sebuah kebohongan. Menetapkan hatinya untuk tidak lagi tergoda pada air pasang yang seolah memanggil namanya setiap malam datang.

"Bohong. Kau seorang pembohong, Dazai."

Pemilik surai kopi itu tertunduk, tak lagi bisa menjawab. Sejujurnya, ada debar dalam dada sang pemuda yang menyuruh untuk segera menarik tangan gadisnya ini ke Kanal Kanagawa yang pasang setelah hujan semalam.

Ya, Dazai Osamu memang seorang pembohong yang menyedihkan.

[]

BSD (Bungou Sengklek Dogs)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang