"Apa akhirnya dia masuk lagi? Kurasa belakangan ini lebih sering melihatnya."
"Memuakkan. Lihat wajahnya yang sok datar itu."
"Memangnya dia penyintas kecelakaan atau apa?"
Dazai Osamu mengatupkan mulutnya rapat-rapat. Bukannya dia sakit hati, omongan seperti itu sudah biasa dia terima.
"Inilah sebabnya aku malas pergi ke sekolah."
Remaja itu menghela napas jengkel, kemudian mempercepat langkah-langkahnya menuju kelas. Setelah menaruh tas asal, dia pergi ke kantin, terburu-buru, seolah jika tidak cepat, dua orang teman yang kemungkinan besar sedang menunggunya di sana akan menghilang seperti kabut pagi.
Dazai berlari kecil, melambai ceria saat melihat Odasaku dan Ango di kejauhan. Dua orang kakak kelasnya itu berhenti. Masing-masing tersenyum dan balas menyapa Dazai, memperlakukannya seperti seorang adik kecil yang nakal, tetapi manis.
Dazai suka berada di antara mereka. Dia sangat menghargai waktu yang dihabiskannya bersama Odasaku dan Ango. Hanya saja, kedua orang ini akan lulus bulan depan. Dan entah apakah mereka akan bertemu seperti ini lagi setelahnya.
Menghabiskan satu tahun sendirian di sekolah yang tidak menerima dirinya sepenuhnya, memikirkan hal itu saja membuat Dazai tidak semangat hidup.
Dia ingin mati saja.
Mati.
Bunuh diri dengan indah dan damai.
Setelah acara kelulusan ... Dazai mengangguk kecil. Itu adalah waktu yang bagus. Dia bisa memilih tempatnya nanti.
Bersemangat dengan pemikiran itu, si remaja kelas 2 SMA mengoceh tentang hal-hal menyebalkan yang terjadi padanya kemarin sore.
"Dan truk besar itu berhenti tepat sebelum menabrakku. Bayangkan, hanya beberapa meter lagi dia akan mengantarku menuju kematian yang aku impikan! Sial!"
Dazai cemberut, Odasaku tetap datar, dan Ango menghela napas karena mulai merasa frustrasi.
"Aku ingin secepatnya lulus dari sini," gumam pemuda berkacamata itu tanpa dia sadari.
Senyum kecil di wajah Dazai pudar saat mendengar gumaman pelan Ango. Dia menunduk, sebentar, lalu menarik-narik kerah belakang Ango sambil pura-pura menyanyikan lagu barat.
Tidak jelas. Dazai memang selalu tidak jelas. Namun, Ango tidak membencinya. Dia malah merasa iba karena tahu apa yang akan terjadi pada Dazai jika mereka---dia dan Odasaku---tidak menemani Dazai seperti ini.
Dazai bukan orang lemah, tapi dia selalu membiarkan orang-orang berbuat sesuka mereka; tidak ambil pusing dengan para pembully dan penggunjing yang makin hari makin keterlaluan.
Karena Dazai sadar, pembalasan yang bisa dia lakukan akan lebih mengerikan dari apa yang bisa orang-orang itu bayangkan.
🌬️
"Mereka masih mengatakan hal buruk tentangmu?" Ango menatap Dazai penuh selidik. Kadang, dia mendapati orang-orang bodoh yang bicara tidak baik tentang adik kelas kesayangannya ini, yang membuatnya ingin memberi mereka pelajaran.
Yah, walau Ango tidak akan pernah mengatakan hal itu secara lantang.
"Itu baik-baik saja, mereka malah akan melunjak kalau aku mengadu pada Ango~!" Dazai melambaikan tangan dengan santai, lalu menyesap kopi hitamnya.
"Tapi kau tidak bisa diam saja, Dazai," kata Odasaku.
"Ya, itu benar. Bagaimana kalau nanti kami lulus---tidak bisa menemanimu di sini seperti sekarang? Kau akan menjadi sasaran empuk mereka, Dazai-kun."
"Eeeeh? Apa Ango dan Odasaku segitunya mengkhawatirkanku?" Dazai tiba-tiba jadi lebih bersemangat. "Kalau begitu mudah. Tinggal kelas saja! Nanti kita akan satu kelas, bersama-sama dan lulus~!"
"Yang itu mustahil."
Lihat?
Ango tidak akan pernah menunjukkan kepeduliannya secara terang-terangan lagi.
Makhluk yang satu ini gampang melunjak.
Dan lagi, idenya untuk menyelesaikan suatu masalah selalu gila.
Dazai cemberut, kembali duduk dan memainkan kaleng kopinya yang setengah kosong.
Kemudian, hening. Masing-masing larut dalam pikiran mereka sendiri, melabuhkan tatapan pada pohon kaede yang daun-daunnya akan mulai berguguran.
Musim semi tahun depan, mereka tidak akan lagi menikmati pemandangan ini bersama.
Suara-suara yang seperti desis ular mulai tertangkap telinga mereka. Odasaku yang pertama memalingkan pandangan, menyelidik.
Siapa-siapa lagi kali ini?
Ango yang kedua. Garis bibirnya tertarik ke bawah. Tatapan di balik lensa kacamatanya berubah tajam.
Satu-satunya alasan mereka belum bergerak adalah Dazai yang tampak tidak terganggu sama sekali---hanya menggigit roti isinya sambil mengomentari rasa daging asap yang agak hambar, tidak seperti yang selalu dia dapatkan di kantin kantor Mori Corporation.
Bukannya dia tidak sadar bagaimana keadaan saat ini.
"Tidak perlu khawatir soal aku." Dazai yang tiba-tiba bicara, diam-diam melirik sekumpulan anak kelas dua dan tiga yang menatapnya tajam---penuh cemooh, "kalau aku mau, aku bisa melenyapkan mereka sekarang juga."
Kata-kata Dazai memecah suasana kantin. Kata-kata yang awalnya hanya dianggap gertakan. Tidak ada yang serius. Hingga suatu hari setelah kelulusan, setelah hari yang melambangkan kebebasan dan jalan hidup baru, mereka semua menerima bayaran yang sesungguhnya. Disaksikan oleh tatapan dingin Oda Sakunosuke dan Sakaguchi Ango.
Lenyap, seperti kata Dazai.
Sementara pemuda berambut cokelat itu tetap menyesap kopi hitamnya, santai, tersenyum puas, lalu menghilang bersama kabut pagi Yokohama.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
________________🌬️ Mmm... agak ooc sih ini, karna Dazai keknya gak bakal biarin dirinya terbully ... atau paling mungkin bakal ngelawak biar dia populer dan dimaklumi ....
Tapi ya udahlah, aku penasaran gimana kalo Dazai dibully, terus Odasaku sama Ango protektif gitu, heuheu~